Balasoka - Di tengah gempuran smartphone, Artificial Intelligence, dan rasionalitas global, terdapat sebuah kontradiksi budaya yang mencolok di jantung Jawa yaitu Makam Tembungboyo di Purwantoro, Wonogiri, masih tegak berdiri sebagai pusat ritual. Lokasi yang identitas sejarah tokohnya kabur ini, justru hidup subur berkat mitos yang melekat padanya Pesugihan Kandang Bubrah.
Kisah ini menawarkan janji kekayaan tanpa tumbal nyawa, dengan syarat yang unik yaitu si pelaku harus terus-menerus merenovasi dan memperbaiki rumahnya agar rezeki tidak bubrah (rusak). Mitos yang konon terkait dengan Ki Ageng Imam Purboyo ini adalah studi kasus sempurna tentang bagaimana ketakutan, harapan, dan logika lokal berinteraksi dengan mentalitas modern.
Kontrak Psikologis yang Cerdas dengan Merasionalisasi Kekayaan Instan
Pesugihan Kandang Bubrah bukan sekadar cerita kuno, melainkan sebuah arsitektur psikologis yang cerdas. Ia menyentuh dua saraf utama masyarakat modern yaitu keinginan akan kekayaan instan (quick wealth) dan ketakutan akan kegagalan.
Dalam banyak tradisi, kekayaan besar tanpa usaha keras sering dianggap membawa beban moral. Kandang Bubrah memecahkan dilema ini dengan cara yang unik ia mengubah tumbal nyawa menjadi tumbal komitmen finansial yang berkelanjutan. Uang yang didapat harus segera "dikorbankan" kembali untuk renovasi.
Setiap uang yang digunakan untuk membeli keramik baru atau membangun dinding baru bukanlah pemborosan, melainkan investasi spiritual dan pemenuhan kontrak. Hal ini meredakan kecemasan pelaku bahwa kekayaan itu akan lenyap secepat ia datang. Hasrat untuk terus membangun dan mempercantik rumah yang merupakan simbol status sosial modern mendapat legitimasi spiritual.
Lebih dari itu, ancaman "bubrah" (rusak/hancur) jika renovasi berhenti adalah refleksi ketakutan modern terhadap stagnasi. Dalam logika kapitalis, berhenti bergerak sama dengan mati. Mitos ini mengambil ancaman ekonomi yang nyata dan membalutnya dengan ancaman spiritual. Ia memaksa pelaku untuk terus berputar dalam siklus produksi, konsumsi, dan pembangunan, sebuah etos yang ironisnya sangat selaras dengan tuntutan pasar bebas.
Perspektif dari Pelaku (Disamarkan)
"Dulu, bisnis saya sering macet. Sudah pinjam sana-sini, tetap saja tidak jalan. Setelah ikut ritual ini, rezeki memang lancar, seperti air. Tapi ya itu tadi, harus cepat diputar. Kalau sudah ada uang, tangan ini gatal ingin beli bahan bangunan. Awalnya takut boros, tapi lama-lama mengerti. Ini bukan boros, ini nurut kontrak. Kalau rumah ini berhenti dibangun, rezeki juga ikut berhenti. Jadi, ketakutan bukan lagi takut miskin, tapi takut berhenti berbuat, takut stagnan. Daripada uang habis untuk hal tidak jelas, lebih baik diubah jadi bangunan. Jadi, ada bukti wujudnya," ujar "Mas B" (40), seorang pengusaha dari luar Wonogiri.
Mengapa Mitos Tetap Kuat di Era Nalar Digital?
Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa ritual di makam tua ini masih ramai didatangi peziarah, bahkan di saat informasi dan logika sangat mudah diakses melalui internet?
Jawabannya terletak pada kesenjangan antara rasio dan realitas. Bagi jutaan orang yang merasa terasing dari akses pendidikan tinggi dan pekerjaan layak, jalur rasional menuju kekayaan terasa seperti fatamorgana yang panjang dan tidak pasti. Mitos, sebaliknya, menawarkan master key (kunci utama) yang tidak memerlukan gelar sarjana atau modal besar, hanya memerlukan keberanian dan kepatuhan ritual. Ritual ini dianggap sebagai intervensi kekuatan gaib yang bersifat instan dan absolut.
Selain itu, di era digital, kepercayaan pun dapat menjadi komoditas. Berita tentang kesuksesan seorang peziarah, meskipun sulit diverifikasi secara faktual, dengan cepat menyebar dan memperkuat keyakinan. Makam Tembungboyo yang dikunjungi dari berbagai daerah menjadi semacam jaringan spiritual yang menghubungkan orang-orang dengan harapan serupa.
Penuturan Juru Kunci Makam
"Setiap hari ada saja yang datang, bahkan dari luar pulau. Mereka datang membawa harapan yang sama yaitu ingin rezeki lancar tanpa harus mengorbankan nyawa. Tugas saya hanya memfasilitasi niat mereka, menjelaskan tata caranya yang utama adalah janji untuk ora lali (tidak lupa) pada pembangunan. Ini bukan tentang menyembah setan, Mbak. Ini tentang komitmen. Komitmen untuk selalu bergerak. Bubrah-nya rezeki itu terjadi kalau orangnya sudah mandeg (berhenti) bekerja, berhenti berusaha, dan lupa menepati janji untuk terus memperbaiki hidupnya, yang disimbolkan dengan rumahnya. Kami di sini hanya perantara, yang penting niatnya," kata Mbah K, juru kunci Makam Tembungboyo.
Terakhir, modernitas sering kali dangkal dan transaksional. Mitos menawarkan narasi yang lebih dalam, penuh misteri, dan terasa lebih "nyata" karena melibatkan kekuatan tak terlihat. Di tengah kegelisahan jiwa modern, mitos mengisi kekosongan spiritual yang gagal diisi oleh hedonisme material. Ketika kepercayaan terhadap institusi formal yang sering mengecewakan menurun, sebagian masyarakat kembali mempercayai kekuatan supranatural yang dianggap lebih jujur dan absolut.
Cermin Retaknya Peradaban
Kisah Kandang Bubrah dan Makam Tembungboyo bukan sekadar sisa-sisa masa lalu; ia adalah gejala dari ketidakmampuan sistem modern untuk memberikan rasa aman dan harapan yang merata. Selama jurang antara yang kaya dan yang miskin kian melebar, selama jalur rasional menuju kesuksesan terasa semakin tersumbat, dan selama tekanan sosial untuk terlihat kaya semakin tinggi, maka selama itu pula orang akan mencari jalan belakang sekalipun harus berhadapan dengan janji-janji mistis.
Mitos Kandang Bubrah mengajarkan kita bahwa kekayaan tidak hanya membutuhkan modal materi, tetapi juga modal spiritual. Dan bagi sebagian orang, kontrak dengan kekuatan gaib adalah harga yang harus dibayar demi ketenangan finansial semu di era yang serba tidak pasti dan sangat modern ini.
