-->

Breaking

logo

Rabu, 31 Desember 2025

Menakar Ulang Makna Tradisi Saton dalam Pernikahan Masa Kini

Menakar Ulang Makna Tradisi Saton dalam Pernikahan Masa Kini


Balasoka
- Di tengah arus modernisasi dan rasionalitas yang kian menguat, tradisi saton masih bertahan di sejumlah daerah di Indonesia. 

Tradisi ini merupakan sistem perhitungan neptu atau nilai hari lahir dan hari pasaran kedua calon mempelai yang diyakini dapat memprediksi perjalanan rumah tangga mereka kelak. 

Bagi masyarakat yang memegang teguh adat ini, saton bukan sekadar hitung-hitungan mistik, melainkan wujud ikhtiar batiniah demi menjaga keharmonisan dan keselamatan rumah tangga. 

Namun di tengah era digital dan kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidup, pertanyaan pun muncul: masih relevankah tradisi kuno ini di masa kini? 

Makna Filosofis di Balik Perhitungan Saton 

Dalam praktiknya, seperti masih dijalankan di Desa Cermee, tradisi saton dilakukan oleh para tetua adat atau keluarga calon mempelai laki-laki. 

Mereka menghitung neptu berdasarkan hari lahir (Senin, Selasa, dan seterusnya) serta hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Hasil penjumlahan nilai keduanya kemudian dicocokkan dalam siklus lima hitungan yang masing-masing memiliki makna filosofis tersendiri: 
  • Sri: menandakan kebaikan, rezeki melimpah, dan keselamatan rumah tangga.
  • Lungguh: menunjukkan kehormatan dan kedudukan mulia. – Dunia: menggambarkan kebahagiaan duniawi dan kesejahteraan materi.
  • Lara: mengandung makna penderitaan atau gangguan berat dalam rumah tangga.
  • Pati: melambangkan penderitaan terberat, bahkan kematian dalam keluarga. 
Apabila hasil perhitungan jatuh pada Lara atau Pati, pernikahan akan dibatalkan. Keputusan ini, di masa lalu, bersifat mutlak dan tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian agar terhindar dari malapetaka. 

Tradisi ini diyakini sebagai pagar gaib yang menjaga kesakralan ikatan pernikahan. 

Saton dan Pergeseran Cara Pandang 

Generasi Modern Kini, logika dan rasionalitas mulai menggantikan keyakinan lama. Generasi muda memandang cinta, kecocokan karakter, kesiapan mental, serta stabilitas finansial sebagai fondasi utama pernikahan. 

Dalam pandangan modern, perhitungan saton yang bersifat deterministic menentukan nasib berdasarkan angka kelahiran terasa janggal. Kalangan berpendidikan pun mempertanyakan validitasnya. 

“Bagaimana mungkin siklus lima angka dapat menggagalkan pernikahan yang didasari cinta dan kesepahaman?” demikian pandangan yang kini banyak muncul di masyarakat perkotaan. 

Sebagian besar menganggap saton relevan pada zamannya, tetapi sudah tidak sejalan dengan semangat kebebasan individu masa kini. Bahkan, ada yang memandangnya sebagai praktik primitif yang tidak sesuai dengan logika modern. 

Sebagai gantinya, masyarakat modern lebih memilih pendekatan spiritual yang personal seperti doa atau salat istikharah untuk memantapkan hati dalam memilih jodoh. 

Negosiasi Budaya: Saton di Persimpangan Jalan 

Meski demikian, tradisi saton tidak sepenuhnya punah. Di sejumlah komunitas adat, tradisi ini masih dijalankan dengan penuh kepatuhan. Bagi masyarakat Cermee, mengikuti saton adalah bentuk penghormatan kepada leluhur. 

Namun, di kalangan keluarga modern, saton kini mengalami pergeseran makna. Perhitungannya tetap dilakukan, tetapi bukan lagi sebagai syarat mutlak, melainkan formalitas untuk menghormati orang tua. 

Bila hasil perhitungan menunjukkan Lara atau Pati, generasi muda tidak serta-merta membatalkan pernikahan. Mereka mencari jalan tengah melalui ritual tambahan, doa bersama, atau sedekah untuk menolak bala. 

Saton kini lebih dipahami sebagai peringatan agar berhati-hati, bukan vonis nasib. 

Refleksi: Antara Logika dan Warisan Leluhur 

Eksistensi saton di era modern mencerminkan dinamika budaya Indonesia: antara pelestarian tradisi dan adaptasi terhadap perubahan zaman. 

Sebuah tradisi akan bertahan bila mampu bertransformasi tanpa kehilangan maknanya. Saton bukan lagi dianggap sebagai takdir mutlak, tetapi sebagai kearifan lokal yang mengajarkan prinsip kehati-hatian dalam melangkah ke jenjang pernikahan. 

Dalam masyarakat yang makin rasional, saton dapat dimaknai sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur dan pengingat bahwa dalam setiap keputusan besar, keseimbangan antara logika dan spiritualitas tetap penting dijaga