Balasoka - Tari Jaipong merupakan salah satu karya seni pertunjukan Nusantara yang lahir dari kreativitas masyarakat Sunda dalam mengolah tradisi lokal menjadi bentuk seni modern. Jaipong muncul pada akhir dekade 1970-an sebagai respons terhadap kebutuhan hiburan rakyat, sekaligus sebagai hasil pengolahan berbagai unsur seni tradisional seperti ketuk tilu, pencak silat, dan ronggeng. Unsur-unsur tersebut kemudian disusun ulang secara kreatif oleh seniman Gugum Gumbira melalui Padepokan Jugala. Ciri khas Jaipong terletak pada ritme kendang yang dinamis, pola gerak yang lincah dan ekspresif, serta energi penari yang menonjolkan kekuatan tubuh dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai estetika lokal Sunda.
Edi Mulyana (Ramlan, 2013) mengatakan, bahwa “di tahun 1980an masyarakat Sunda dikejutkan oleh munculnya sebuah repertoar tari baru yang sangat berbeda dari kedua genre tari terdahulu. Perbedaan ini sangat mencolok, dari koreografi, karawitan, busana maupun gaya penampilannya, masyarakat Bandung menyebutnya Jaipongan”. Terkait karya-karya Gugum Gumbira tersebut, selalu mengalami perkembangan estetika dan memiliki ciri khas tersendiri, baik segi koreografi, iringan musik dan rias busana. (Merliana & Azizah, 2024)
Karya Jaipongan pertama yang diperkenalkan oleh Gugum Gumbira adalah Daun Pulus Keser Bojong, yang kemudian berkembang menjadi materi dasar sekaligus ikon pembelajaran Jaipong di berbagai sanggar dan institusi seni. Tari Daun Pulus Keser Bojong menitik beratkan pada kekuatan teknik kaki dan pergeseran pola gerak yang khas. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa Jaipongan menuntut penguasaan teknik pencak silat sebagai fondasi estetika dan ketangkasan tari (T. Mulyadi, 2024).
Lebih jauh, kesenian Jaipong, khususnya Daun Pulus Keser Bojong, tidak hanya berfungsi dalam ranah estetis, tetapi juga memiliki peran penting dalam dimensi sosial budaya. Tarian ini hadir dalam berbagai acara tradisi, berfungsi sebagai sarana perekat komunitas, serta menjadi simbol penjaga nilai-nilai budaya Sunda di tengah arus perubahan zaman. Kehadirannya menunjukkan bahwa seni tradisional mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas melalui kolaborasi antara inovasi dan pelestarian (Wijayanto1 et al., 2024).
Sejarah kemunculan Tari Daun Pulus Keser Bojong tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang kreativitas Gugum Gumbira sebagai penata tari sekaligus peneliti tradisi rakyat Sunda. Sebelum menciptakan Daun Pulus Keser Bojong, Gugum telah lama bergelut dengan praktik kesenian ketuk tilu, bajidoran, dan pencak silat tiga bentuk kesenian yang merepresentasikan karakter masyarakat Sunda yang komunikatif, energik, dan ekspresif. (T. Mulyadi, 2024) menjelaskan bahwa pengalaman Gugum sebagai penari rakyat memberikan dasar yang kuat dalam pengolahan motif gerak dan pemaknaan estetika Jaipongan. Dengan demikian, karya-karyanya tidak berdiri sebagai sekadar imitasi tradisi, melainkan sebagai rekonstruksi kreatif yang melahirkan sebuah genre tari baru.
Tari Daun Pulus Keser Bojong lahir dalam ekosistem budaya Sunda yang kaya. Di satu sisi, tarian ini berakar pada tradisi ritual dan hiburan rakyat, sementara di sisi lain berkembang melalui intervensi seniman modern yang mengolah serta memodifikasi gerak-gerak tradisional menjadi karya panggung. Beberapa sumber dari repositori perguruan tinggi menyebutkan adanya keterkaitan erat antara Gugum Gumbira sebagai pencipta Jaipong dengan pengembangan variasi Daun Pulus Keser Bojong, yang kemudian dijadikan materi pembelajaran utama di padepokan dan sanggar tari (T. Mulyadi, 2024).
Makna harfiah judul Daun Pulus Keser Bojong juga mengandung filosofi yang erat dengan semangat penciptaannya. Menurut penjelasan Gugum Gumbira, istilah “daun pulus” merujuk pada daun yang menimbulkan rasa gatal, sekaligus dapat dimaknai sebagai “pulus” dalam pengertian uang. Sementara itu, kata “keser” berarti bergeser, dan “bojong” merujuk pada nama tempat lahirnya tarian ini, yakni wilayah Bojongloa, tepatnya daerah Kopo, Bandung. Secara filosofis, Daun Pulus Keser Bojong dimaknai sebagai “rasa gatal” atau dorongan batin seorang penari untuk tampil lebih baik dan lebih maksimal. Dorongan tersebut mendorong penari untuk terus bergerak, berproses, dan meningkatkan kualitas dirinya, sehingga pada akhirnya dapat mendatangkan penghasilan sebagai bekal kehidupan. Makna ini menegaskan bahwa Jaipongan, khususnya Keser Bojong, tidak hanya berbicara tentang keindahan gerak, tetapi juga merefleksikan etos kerja, perjuangan, dan realitas hidup seniman rakyat.
Makna filosofis dari istilah “bergeser” tidak hanya tercermin dalam bentuk geraknya, tetapi juga dalam perjalanan keseniannya. Dari tari rakyat yang awalnya dipentaskan dalam arena bajidoran, Daun Pulus Keser Bojong mengalami pergeseran fungsi menjadi tari panggung, tari pendidikan, hingga tari kompetisi. Pergeseran ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus dilestarikan secara statis; justru dengan bergerak dan beradaptasi, tradisi dapat terus hidup. Keberhasilan Gugum Gumbira terletak pada kemampuannya untuk tidak sekadar meniru tradisi, melainkan menangkap intuisi dasarnya dan mentransformasikannya ke dalam ruang estetika modern tanpa merusak akar budaya. (Rusliana, 2009)
Daun Pulus Keser Bojong diposisikan sebagai karya perdana Gugum Gumbira dalam genre Jaipongan, sehingga memiliki peran strategis sebagai dasar pelatihan, repertoar wajib, sekaligus wajah awal yang diperkenalkan Padepokan Jugala kepada publik. Dalam sebuah kajian disebutkan bahwa “Daun Pulus Keser Bojong adalah karya perdana Gugum Gumbira dari genre tari Jaipongan dan ditempatkan sebagai materi dasar pelatihan di Padepokan Jugala” (E. Mulyadi & Ramlan, 2012).
Lebih jauh, kesenian Jaipong, khususnya Daun Pulus Keser Bojong, tidak hanya berfungsi dalam ranah estetis, tetapi juga memiliki peran penting dalam dimensi sosial budaya. Tarian ini hadir dalam berbagai acara tradisi, berfungsi sebagai sarana perekat komunitas, serta menjadi simbol penjaga nilai-nilai budaya Sunda di tengah arus perubahan zaman. Kehadirannya menunjukkan bahwa seni tradisional mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas melalui kolaborasi antara inovasi dan pelestarian (Wijayanto1 et al., 2024).
Modernisasi juga tampak melalui proses institusionalisasi tari, Ketika Daun Pulus Keser Bojong diajarkan secara sistematis sebagai materi dasar di sanggar dan institusi pendidikan seni di Jawa Barat. (T. Mulyadi, 2024) menjelaskan bahwa Daun Pulus Keser Bojong dijadikan prasyarat latihan Jaipong karena mengandung unsur dasar penguasaan teknik kaki, kelincahan, serta kontrol energi yang diperlukan penari dalam menampilkan genre ini.
Dengan demikian, modernisasi dan revitalisasi Daun Pulus Keser Bojong tidak dapat dipandang sebagai ancaman terhadap tradisi, melainkan sebagai mekanisme keberlanjutan seni. Apabila tarian ini hanya bertahan dalam konteks bajidoran tradisional, jangkauan estetik dan sosialnya mungkin akan terbatas. Melalui institusionalisasi dan digitalisasi, Daun Pulus Keser Bojong mampu memasuki ranah pendidikan, industri kreatif, serta media massa, yang pada akhirnya memperluas audiens dan memperkuat posisinya sebagai ikon tari Sunda.
Tari Jaipong, khususnya Tari Daun Pulus Keser Bojong, merupakan wujud perubahan kreatif tradisi rakyat Sunda ke dalam bentuk seni pertunjukan modern tanpa kehilangan akar budayanya. Melalui pengolahan unsur ketuk tilu, pencak silat, dan bajidoran, Gugum Gumbira berhasil merekonstruksi tradisi menjadi genre tari baru yang memiliki kekuatan teknik, estetika, dan identitas yang khas. Daun Pulus Keser Bojong sebagai karya perdana Jaipongan tidak hanya berfungsi sebagai repertoar artistik, tetapi juga sebagai fondasi pembelajaran teknik dasar Jaipong.
Perjalanan Daun Pulus Keser Bojong dari arena hiburan rakyat menuju tari panggung dan institusi pendidikan menunjukkan bahwa tradisi bersifat dinamis dan adaptif. Modernisasi yang terjadi melalui institusionalisasi dan sistem pembelajaran justru memperkuat keberlanjutan kesenian ini di tengah perubahan zaman. Dengan demikian, Tari Daun Pulus Keser Bojong tidak hanya merepresentasikan keindahan gerak, tetapi juga mencerminkan etos kerja, perjuangan seniman rakyat, serta keberhasilan kolaborasi antara pelestarian tradisi dan inovasi seni modern.
