Balasoka - Pada sekitar 70.000 tahun yang lalu, di dataran Afrika Timur yang kering dan berdebu, sekelompok kecil homo sapiens memandang bintang-bintang dan belum tahu bahwa mereka sedang memulai kisah paling berbahaya di muka bumi, kisah tentang kesadaran. mereka belum punya bendera, belum punya tuhan, belum mengenal bangsa atau konsep negara. namun mereka punya sesuatu yang tak dimiliki makhluk lain yaitu imajinasi. di situlah titk awal segalanya. dengan kemampuan bercerita, mereka membangun dunia yang tidak nyata tapi mampu menggerakkan yang nyata. mereka mulai berbohong dengan keyakinan, dan kebohongan itulah yang kita sebut "peradaban".
.Sekitar 10.000 tahun yang lalu, revolusi pertanian mengguncang bumi. manusia yang sebelumnya bebas berjalan dari lembah ke lembah, kini terikat oleh benih dan musim. Yuval Noah Harari menulis dengan getir: "Manusia tidak menjinakkan gandum, gandumlah yang menjinakkan manusia". dari tangan petani lahir kasta, dan dari kasta lahir ketimpangan. manusia menanam untuk hidup, tetapi semakin menanam semakin terpenjara oleh hasil tanamannya sendiri. dari cangkul lahirlah surplus, dari surplus lahir perang, dan dari perang lahir kisah tentang tuhan yang menyuruh dan raja yang memerintah atas Nama-Nya.
Lalu, sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, di antara sungai tigris dan efrat, bangsa sumeria menulis kisah mereka di atas tanah liat. itulah awal sejarah bukan karena manusia baru sadar waktu, tapi karena ia mulai mencatat penderitaanya. kode Hammurabi di Babilonia, Firaun di mesir, dan dinasti Shang di Tiongkok, semuanya mucul sebagai tanda bahwa manusia mulai mempercayai tatanan buatan. Harari menyebutnya imagined order, tatanan khayalan yang membuat jutaan orang tunduk pada aturan yang sebenarnyahanya hidup dalam kepala. tapi karena semua mempercayainya, maka ia menjadi nyata sperti uang agama dan negara.
Namun dunia tidak berhenti di altar. sekitar tahun 1543, Nicolaus Copernicus menerbitkan De Revolutionibus Orbium Coelestium buku yang menggeser bumi dari pusat semesta. tahun 1609, Galileo menatap bintang melalui teleskop dan melihat ruang yang sunyi dan luas. di situ manusai pertama kali merasa sendirian di jagat raya. tapi kesendirian itu melahirkan kekuatan revolusi ilmiah. Francis Bacon mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan; Newton menjelaskan hukum gravitasi, dari situlah manusia belajar satu hal penting,keajaiban bukan karena datang dari doa, tapi dari eksperimen.
Abad ke-18 menyalakan bara pencerahan. di Jerman, Immanuel Kant, menulis "Sapere Aude beranilah berpikir sendiri". Di inggris , James watt menciptakan mesin uap (1769), dan sejak itu bumi tak lagi diukur dengan musim tapi dengan kecepatan produksi. Revolusi industri lahir, dan manusia menemukan dirinya bukan lagi makhluk spritual, malainkan makhluk mekanis. kapitalisme menggantikan iman, uang menjadi tuhan baru yang tak butuh doa, hanya kepercayaan pasar.
Harari menulis bahwa sejarah ekonomi bukanlah sejarah kerja keras, melainkan sejarah kepercayaan karena sistem keuangan hanya hidup sejauh manusia percaya pada nilai imajiner yang mereka ciptakan sendiri.
.
Tahun 1859, Charles Darwin menerbitkan On the Origin of Species, dan bumi kehilangan sakralitasnya. manusia bukan makhluk yang diciptakan secara istimewa melainkan hasil kebetulan biologis dalam rantai panjang evolusi. kabar itu mengguncang agama, tapi juga membuka jalan bagi ilmu pengetahuan modern. lalu 1914, perang dunia pertama meledak, dan pada 1939, perang dunia kedua menelan jutaan nyawa. dari puing-puing itu lahirlah dunia baru, dunia yang dipenuhi janji kemajuan, tapi dibangun diatas abu moralitas yang terbakar. di Hirosima, manusia untuk pertama kalinya merasakan bagaiaman rasanya menjadi dewa menciptakan cahaya yang bisa memusnahkan dunia.
Ketika 1945 berakhir, manusia mulai memimpikan hal lain. bukan lagi penyelamatan jiwa, melainkan penaklukan umur. kedokteran modern, antibotik, dan tekonologi digital menjanjikan hidup yang lebih panjang, lebih nyaman, lebih terkendali. Harari menulis bahwa umat manusia telah menaklukkan tiga musuh besarnya kelaparan, wabah, dan perang. dan kini hanya memiliki satu proyek baru yaitu keabadian. maka lahirlah era Homo Deus, manusia yang ingin menjadi tuhan. bukan dengan sembahyang, tapi dengan rekayasa genetik, kecerdasan buatan, dan algoritma yang bisa menulis ulang kehidupan.
Kini di abad ke-21, Silicon Valley, manusia membangun surga baru yang tak bertempat di langit, melainkan di jaringan data, Google, Apple, Amazon. mereka bukan sekedar perusahaan, tapi lembaga keimanan modern. setiap kali kita membuka gawai, kita berdoa dalam bentuk klik, mengaku dosa dalam bentuk data. Harari menyebutnya dataisme agama baru di mana makna hidup diukur dari aliran informasi. dan keselamatan berarti menjadi relevan dalam sistem algoritmik. di dunia ini, siapa yang tidak terhubung, tidak ada.
Namun di balik semua kilau itu, ada keheningan purba yang tetap sama seperti 70.000 tahun lalu, manusia masih bertanya siapa dirinya. di tengah laboratorium yang memproduksi gen abadi dan mesin yang berpikir lebih cepat dari akal, kita justru kehilangan sesuatu yang paling manusiawi rasa takjub, rasa takut, rasa kagum pada keberadaan itu sendiri. kita menjadi tuhan, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan keilahian itu. kita menciptakan kehidupan buatan, tapi lupa bagaimana mencintai kehidupan yang nyata.
Maka, mungkin benar kata Harari bahwa sejarah manusia bukanlah menuju kebahagiaan, melainkan perjalanan menuju makna yang tak pernah selesai. dari batu ke baja, dari kitab ke kode, dari doa ke data, manusia selalu berlari mengejar sesuatu yang ia sendiri tidak pahami. dan di ujung peradaban ini, mungkin yang tersisa bukanlah kemajuan, bukan pula kebijaksanaan, melainkan pertanyaan yang sama di zaman purba: siapa kita, dan mengapa kita masih ingin lebih dari menjadi manusia, padahal menjadi manusia saja belum kita pahami sebelumnya?. Selengkapnya
RIWAN
