-->

Breaking

logo

Kamis, 25 Desember 2025

Pergeseran Tradisi Pernikahan Melayu Masa Kini, Dari Sakral ke Seremonial

Pergeseran Tradisi Pernikahan Melayu Masa Kini, Dari Sakral ke Seremonial



Balasoka -  Pernikahan dalam masyarakat Melayu sejak dahulu memiliki makna yang sangat sakral. Prosesi pernikahan tidak hanya dipahami sebagai penyatuan dua insan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah serta ikatan sosial antar dua  keluarga. Dalam tradisi Melayu, pernikahan dilaksanakan secara sederhana dengan menekankan kebenaran akad nikah, kelengkapan ada, dan nilai keberkahan. Kesederhanaan dianggap cerminan kematangan tanggung jawab pasangan yang menikah. 

Seiring perkembangan zaman, terutama di era modern dan digital, tradisi pernikahan Melayu mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pernikahan kini tidak hanya dipandang sebagai peristiwa sakral, tetapi juga sebagai ajang untuk menunjukkan status sosial. Banyak pasangan merasa terdorong untuk menggelar pesta pernikahan yang mewah, dengan konsep yang modern, dekorasi mahal, yang bertujuan untuk dipamerkan di media sosial. Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam praktik pernikahan masyarakat Melayu masa kini. 

Pernikahan Melayu dalam Perspektif Nilai Islam

Dalam ajaran Islam, pernikahan dianjurkan untuk dilaksanakan dengan sederhana dan tidak memberatkan kedua belah pihak. Islam menekankan bahwa tujuan utama  pernikahan adalah membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kesederhanaan dalam pernikahan justru dipandang sebagai sumber keberkahan, karena tidak  mengandung unsur pemborosan dan paksaan. 

Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai mengabaikan prinsip tersebut. Biaya pernikahan yang tinggi, tuntutan kemewahan, serta gengsi sosial sering  kali menjadi pertimbangan utama. Akibatnya, tidak sedikit pasangan yang memaksakan diri secara ekonomi dan memenuhi ekspektasi lingkungan sekitar. Kondisi ini bertentangan dengan nilai Islam yang mengajarkan keseimbangan,  tanggung jawab, dan menjauhi perilaku berlebihan. 

Perubahan Nilai Budaya Melayu dalam Pernikahan 

Budaya Melayu menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong dalam pelaksanaan pernikahan. Pada masa lalu, masyarakat turut terlibat dalam persiapan pernikahan, mulai dari memasak hingga menyiapkan tempat. Prosesi adat seperti meminang dan keduri dilaksanakan dengan penuh makna simbolik, meskipun dalam bentuk yang sederhana. 

Di era modern, nilai - nilai tersebut perlahan mengalami pergeseran. Keterlibatan masyarakat mulai diganti  oleh jasa profesional seperti wedding organizer. Beberapa tahap  adat disederhanakan bahkan ditinggalkan, sementara fokus utama bergeser pada tampilan visual dan kemewahan acara. Hal ini menyebabkan makna filosofi pernikahan Melayu semakin terpinggirkan oleh kepentingan estetika dan tren.

Analisis Teori Cultural Hybridization

Perubahan tradisi pernikahan Melayu dapat dipahami memalui teori cultural hybridization atau hibridisasi budaya. Teori ini menjelaskan bahwa budaya lokal tidak sepenuhnya hilang akibat pengaruh global, melainkan berbaur dan membentuk praktik budaya baru. Dalam konteks pernikahan Melayu, unsur adat dan nilai islam masih tetap ada, seperti akad nikah dan simbol adat, namun  dikombinasikan dengan konsep pernikahan modern yang dipengaruhi budaya global.

Bentuk hibridisasi ini terlihat pada penggunaan busana modern, konsep dekorasi internasional, serta pelaksanaan pesta di gedung mewah, sementara akad nikah tetap dilakukan sesuai syariat islam. Hibridisasi budaya menunjukkan kemampuan masyarakat Melayu untuk beradaptasi dengan  perkembangan zaman.  

Solusi dan pendapat  

Menurut saya,  perubahan dalam tradisi pernikahan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Namun, modernisasi seharusnya tidak menghilangkan nilai dasar Islam dan budaya Melayu. Masyarakat, khususnya generasi muda perlu kembali memahami  bahwa inti pernikahan bukan terletak kepada kemewahan acara, melainkan pada kejelasan akad dan tanggung jawab dalam membangun rumah tangga.  pernikahan dapat tetap mengikuti perkembangan zaman  tanpa harus melampaui batas kemampuan ekonomi. Adat Melayu dan nilai islam seharusnya menjadi landasan utama, sementara unsur modern dijadikan pelengkap, bukan tujuan utama.  

Kesimpulan  

Pernikahan Melayu di era modern mengalami pergeseran dari tradisi sederhana menuju praktik yang lebih mewah dan kompleks. Pengaruh globalisasi dan media sosial mendorong perubahan tersebut melalui proses hibridisasi budaya. Meskipun perubahan merupakan bagian dari dinamika sosial, nilai Islam dan adat Melayu perlu tetap dijaga agar pernikahan tidak kehilangan makna sakralnya. Kesederhanaan, keberkahan, dan nilai kebersamaan seharusnya tetap menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan pernikahan Melayu.