Balasoka - Media sosial hari ini tidak lagi sekadar ruang berbagi informasi, tetapi telah berubah menjadi etalase gaya hidup. Seiring berkembangnya platform digital, yang dahulu bersifat privat seperti cara beristirahat, menikmati waktu luang, hingga memanjakan diri kini menjadi konsumsi publik yang terus dipertontonkan dan dinilai oleh khalayak. Apa yang kita konsumsi, kenakan, unggah, dan pamerkan perlahan membentuk identitas sosial di ruang digital. Dalam konteks ini, tren gaya hidup seperti healing, self-reward, aesthetic living, hingga flexing semakin marak di media sosial terutama TikTok dan Instagram Reels. Tren tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan sangat erat kaitannya dengan budaya populer yang terus diproduksi dan direproduksi melalui media.
Fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji karena memperlihatkan bagaiman budaya populer bekerja dalam membentuk selera, nilai, dan cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda. Dengan kata lain, media sosial tidak hanya menjadi media komunikasi, tetapi juga ruang pembentukan makna sosial. Melalui perspektif sosiologi komunikasi, tren ini dapat dibaca sebagai proses sosial yang memiliki makna, simbol, dan relasi kekuasaan (Littlejohn & Foss, 2018).
Media Sosial dan Lahirnya Tren Gaya Hidup Populer
Pada praktiknya, TikTok dan Instagram Reels menjadi media utama penyebaran tren gaya hidup. Konten daily routine, what I eat in a day, romanticizing life, lifestyle, hingga weekend getaway dengan visual estetik menjadi konsumsi harian warganet. Tidak berhenti di situ, konten-konten tersebut hanya menampilkan aktivitas personal, tetapi juga menawarkan standar hidup ideal yang secara tidak langsung diharapkan untuk ditiru oleh audiens.
Akibatnya, tren gaya hidup ini kemudian membentuk apa yang disebut sebagai budaya populer, yakni budaya yang diproduksi secara massal, mudah diakses, dan diterima luas oleh masyarakat. Dalam konteks ini, media sosial berperan sebagai agen utama penyebaran budaya populer yang membingkai gaya hidup tertentu sebagai sesuatu yang wajar, keren, dan patut diikuti.
Budaya Populer sebagai Konstruksi Sosial
Dari sudut pandang sosiologi, budaya populer bukanlah sesuatu yang netral. Ia merupakan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh industri media, kapitalisme, dan kepentingan pasar (Hastuti Nur R., 2022). Oleh karena itu, tren gaya hidup yang viral sering kali berkaitan erat dengan promosi produk, destinasi wisata, hingga citra diri yang menguntungkan secara ekonomi.
Sebagai contoh, gaya hidup healing, awalnya dimaknai sebagai upaya menjaga kesehatan mental. Namun, dalam budaya populer media sosial, healing kerap direduksi menjadi aktivitas konsumtif seperti liburan mahal, nongkrong di kafe estetik, atau belanja sebagai bentuk self-reward. Dalam proses ini, makna healing pun bergeser dari kebutuhan psikologis menjadi simbol status sosial.
Untuk memahami pergeseran makna tersebut, teori interaksionisme simbolik (George Herbert Mead dan Herbert Blumer) membantu menjelaskan bahwa makna sosial terbentuk melalui interaksi dan penggunaan simbol-simbol dalam kehidupan sehari-hari (Blumer, 1969).
Dalam konteks media sosial, simbol gaya hidup muncul dalam bentuk visual seperti outfit bermerek, ngopi di kafe, koleksi barang branded, atau pergi berlibur ke tempat yang populer. Simbol-simbol tersebut kemudian dimaknai sebagai representasi kesuksesan, kebahagiaan, dan pencapaian hidup. Akibatnya, warganet yang mengonsumsi konten ini menyesuaikan perilaku dan preferensinya berdasarkan makna sosial yang telah disepakati bersama.
Lebih jauh, tren gaya hidup dapat dianalisis melalui konsep konsumsi simbolik. Konsumsi tidak lagi semata-mata bertujuan memenuhi kebutuhan, melainkan menjadi sarana membangun identitas sosial. Apa yang dikonsumsi dan ditampilkan di media sosial berfungsi sebagai penanda siapa diri kita di mata publik (Littlejohn & Foss, 2018).
Dalam budaya populer, individu terdorong untuk terus mengikuti tren agar tetap relevan secara sosial. Ketertinggalan dari tren sering kali diasosiasikan dengan label "kurang update" atau "tidak gaul". Tekanan sosial inilah yang membuat tren gaya hidup terus berputar dan berganti dengan cepat.
Budaya Populer, Algoritma, dan Kekuasaan
Selain faktor sosial, algoritma media sosial memiliki peran besar dalam menentukan tren mana yang menjadi populer. Konten gaya hidup yang menarik secara visual dan emosional lebih mudah mendapatkan eksposur. Hal ini menunjukkan adanya relasi kekuasaan antara platform, kreator konten, dan audiens.
Mengacu pada pemikiran Michel Foucault, kekuasaan bekerja melalui wacana. Tren gaya hidup menjadi wacana dominan yang memengaruhi cara individu memandang kebahagiaan dan kesuksesan. Tanpa disadari, pengguna media sosial menginternalisasi standar-standar tersebut sebagai kebenaran sosial.
Di satu sisi, tren gaya hidup dapat memberikan dampak positif, seperti memotivasi individu untuk hidup sehat, produktif, dan peduli pada diri sendiri. Namun di sisi lain, tren ini menimbulkan tekanan sosial, kecemasan, dan perasaan tidak cukup.
Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat memicu rasa rendah diri, terutama ketika realitas hidup tidak seindah yang ditampilkan di media sosial. Pada titik ini, budaya populer serta gaya hidup menciptakan ilusi kehidupan ideal yang tidak selalu realistis (Strinati, 2015).
Melihat fenomena tersebut, tren gaya hidup dalam budaya populer perlu dipahami secara kritis. Media sosial bukanlah cermin realitas sepenuhnya, melainkan ruang konstruksi sosial. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi media agar mampu memilah antara inspirasi dan tekanan sosial. Mengikuti tren bukanlah masalah, selama individu tidak kehilangan kesadaran akan konteks, kemampuan diri, dan makna hidup dirinya.
Gaya Hidup, Makna, dan Kesadaran Sosial
Pada akhirnya, tren gaya hidup di media sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya populer kontemporer. Ia membentuk identitas, relasi sosial, dan cara pandang masyarakat terhadap kebahagiaan. Dengan memahami fenomena ini melalui teori sosiologi komunikasi, kita diajak untuk menjadi pengguna media yang lebih reflektif dan berdaya. Budaya populer seharusnya menjadi ruang ekspresi, bukan sumber tekanan.
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta )
Referensi
- Blumer, H. (1969). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. California: University of California Press.
- Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2018). Theories of Human Communication. Long Grove: Waveland Press.
- Strinati, D. (2015). An Introduction to Theories of Popular Culture. London: Routledge.
- Hastuti Nur R., T. (2022). Pop Culture dan Subculture. Materi perkuliahan Sosiologi Komunikasi, Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
