Balasoka - Di Semarang, bangunan Sam Poo Kong tidak dapat dipandang semata-mata sebagai tempat ibadah atau peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Laksamana Cheng Ho (Zheng He).
Bangunan dan keberadaannya secara berangsur telah berkembang menjadi ruang
budaya yang kompleks, yaitu sebagai ruang pertemuan religiositas, ruang pertemuan multikultural, ruang wisata (pariwisata), dan ruang ekonomi.
budaya yang kompleks, yaitu sebagai ruang pertemuan religiositas, ruang pertemuan multikultural, ruang wisata (pariwisata), dan ruang ekonomi.
Fenomena tersebut mencerminkan dinamika yang kuat dalam kajian ilmu budaya yang dikenal sebagai komodifikasi budaya, yaitu proses ketika unsur budaya diproduksi, dikemas, dan dipasarkan sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi.
Oleh karena itu, hingga saat ini, bagi pelajar Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin, studi mengenai bangunan Sam Poo Kong di tiga kota besar (Semarang--Surabaya--Surakarta) tetap relevan untuk dikaji.
Budaya dalam Logika Ekonomi Pariwisata
Dalam perspektif ekonomi budaya, budaya tidak hanya dipandang sebagai warisan yang perlu "dilestarikan", tetapi juga sebagai sumber daya yang perlu "dikelola".
Berdasarkan teori pariwisata budaya, objek budaya pada masa kini tidak hanya terjebak dalam dua logika tersebut, melainkan berada di ruang antara pelestarian nilai simbolik di satu sisi dan produksi nilai ekonomis di sisi lainnya.
Sam Poo Kong menunjukkan kondisi ini dengan jelas melalui pengelolaan tiket masuk, jasa pemandu wisata, penyewaan pakaian tradisional, penjualan suvenir, hingga pengemasan ritual budaya sebagai atraksi wisata.
Pengalaman budaya yang ditawarkan kepada pengunjung merupakan hasil dari proses seleksi, pengemasan, serta pengaturan tertentu sehingga dapat dikonsumsi sebagai produk pariwisata.
Dengan demikian, pengunjung tidak hanya berperan sebagai penikmat, tetapi juga sebagai konsumen pengalaman budaya.
Negosiasi Antara Sakral dan Profan
Hal yang menarik dari Sam Poo Kong terletak pada kemampuannya mempertahankan batas simbolik antara zona sakral dan zona pariwisata.
Tidak semua area dapat diakses secara bebas; bagi pengunjung yang tidak melakukan aktivitas doa, akses hanya diperbolehkan hingga batas tertentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses komodifikasi di Sam Poo Kong tidak berlangsung secara total.
Dalam kajian antropologi budaya, situasi ini dipahami sebagai bentuk negosiasi makna, di mana nilai spiritual tidak sepenuhnya dihilangkan, melainkan disesuaikan agar dapat berdampingan dengan fungsi pariwisata.
Ritual seperti perayaan Cap Go Meh, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai acara budaya yang menarik minat wisatawan.
Pada zona ini, makna sakral dan makna hiburan saling beririsan.
Dominasi Budaya Tionghoa dan Peran Budaya Jawa
Dalam konteks praktik komodifikasi, budaya Tionghoa tampil lebih dominan sebagai identitas yang "dijual".
Patung Cheng Ho, ornamen naga, lampion, serta dominasi warna merah dan emas menjadi elemen visual utama yang dieksploitasi dalam bentuk suvenir maupun materi publikasi.
Hal ini dapat dipahami karena figur Cheng Ho memiliki daya tarik historis dan simbolis yang kuat, sehingga efektif menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sementara itu, budaya Jawa hadir dengan cara yang lebih halus melalui unsur arsitektur joglo.
Budaya Jawa tidak banyak dikomodifikasi dalam bentuk produk, melainkan dimanfaatkan sebagai legitimasi lokal dan simbol proses akulturasi. Unsur budaya Jawa berfungsi sebagai latar identitas kompleks Sam Poo Kong sebagai bagian dari Kota Semarang.
Dalam konteks ini, kompleks Sam Poo Kong tampil sebagai satu kesatuan yang merepresentasikan pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa.
Arah Studi pada Ekonomi Lokal
Perkembangan wisata budaya di Sam Poo Kong tidak dapat dilepaskan dari dampaknya terhadap ekonomi lokal.
Kehadiran pedagang, fasilitas foto, penyewaan pakaian, pemandu wisata, serta UMKM berbasis budaya menunjukkan bahwa kawasan ini berperan dalam mendorong industri kreatif masyarakat sekitar.
Dalam perspektif teori pembangunan budaya, Sam Poo Kong dapat dipahami sebagai sarana pengembangan ekonomi alternatif yang lebih inklusif, khususnya bagi masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses ekonomi.
Namun demikian, ketergantungan pada sektor pariwisata juga menghadirkan risiko, terutama ketika terjadi penurunan jumlah pengunjung, seperti yang dialami pada masa pandemi.
Sam Poo Kong berdiri di tengah dinamika budaya modern sebagai ruang yang memadukan nilai sakral dan ekonomi, lokal dan global, dalam konteks yang saling berkelindan. Tantangan ke depan bukanlah menolak komodifikasi budaya, melainkan memastikan bahwa proses tersebut tidak mencabut nilai dan kesadaran historisnya.
Oleh karena itu, melalui pendekatan akademik yang kritis, tempat-tempat seperti Sam Poo Kong perlu terus dijadikan ruang pembelajaran lintas budaya.

