-->

Breaking

logo

Selasa, 23 Desember 2025

Mengenal Tradisi Palungan Natal

Mengenal Tradisi Palungan Natal

Foto: Gereja Katolik Karangpanas

Balasoka -  Natal sebentar lagi tiba. Persiapan-persiapan khusus sudah dilakukan oleh umat Kristiani untuk menyambut hari raya kelahiran Yesus Kristus ini. Baik persiapan batin selama masa Adven, maupun persiapan lainnya seperti membuat dekorasi Natal, memasang pohon Natal, dan yang juga umum dilakukan, menyiapkan palungan Natal.  

Palungan Natal

Palungan Natal atau nativity scene dalam bahasa Inggris, atau presepe dalam bahasa Italia adalah susunan figur yang ditata sedemikian rupa untuk menggambarkan adegan dan suasana malam kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Di Indonesia, orang lebih sering menyebutnya dengan kandang atau gua Natal.

Figur utama yang ada dalam palungan Natal adalah bayi Yesus yang diletakkan dalam palungan serta Maria dan Yusuf, kedua orang tua Yesus, yang berada di sisi palungan. Yang ditempatkan dalam sebuah tiruan kandang ternak beralaskan jerami atau rerumputan kering, dengan beberapa patung domba dan sapi di dalamnya. 

Sebuah ornamen bintang bersinar dan figur malaikat biasanya dipasang di bagian atas kandang. Sementara di luar kandang diletakkan figur beberapa gembala dengan domba-dombanya yang tengah menyaksikan bayi Yesus yang baru lahir.      

Palungan Natal umum dibuat di rumah bersama-sama dengan anggota keluarga, di gereja, di biara-biara Katolik. Dengan variasi ukuran besar dan kecil, lengkap dengan kandang ataupun hanya susunan figur dengan dekorasi di sekitarnya.

Palungan Natal di dalam gereja /Koleksi pribadi Selain susunan patung dari keramik atau terakota, beberapa jenis bahan lain biasanya juga digunakan untuk membuat palungan Natal. Seperti karton, kayu, jerami, ranting tanaman, dan beragam jenis kertas. 

Palungan Natal yang dibuat dengan ranting pohon dan kertas/Koleksi pribadi Di Vatikan, pusat agama Katolik sedunia, biasanya dibuat dua palungan Natal untuk menyambut Natal. Satu palungan ditempatkan di dalam Basilika Santo Petrus, sementara yang satu lagi di piazza atau lapangan Santo Petrus. Figur bayi Yesus secara resmi baru diletakkan dalam palungan pada malam Natal, tanggal 24 Desember.   

Asal mula tradisi palungan 

Natal Palungan Natal adalah salah satu tradisi dalam perayaan Natal yang paling tua dan dikenal di banyak negara di dunia.  Tapi, dari mana dan sejak kapan sebenarnya asal mula tradisi ini?  

Semuanya berawal  dari sebuah desa kecil bernama Greccio, di wilayah Lazio, Italia, lebih dari 800 tahun yang lalu. Sebuah tradisi yang memiliki keterhubungan dengan Santo Fransiskus Assisi, salah satu orang kudus dalam Gereja Katolik. Terlahir dengan nama Giovanni di Pietro di Bernardone pada tahun 1181 di Assisi, Umbria, Italia. 

Fransiskus Assisi adalah seorang rahib dan pendiri ordo Fransiskan yang menjalani hidup miskin dan dikenal dengan kecintaannya yang besar pada seluruh ciptaan dan alam semesta, termasuk semua hewan, bulan, matahari.  Menjadikannya juga sebagai santo pelindung hewan dan lingkungan hidup. 

Dalam salah satu perjalanannya pada tahun 1209, rahib Fransiskus menemukan desa Greccio untuk pertama kalinya. Sebuah desa kecil di antara pegunungan di Propinsi Rieti, wilayah Lazio, yang berbatasan dengan wilayah Umbria. Penduduknya yang kebanyakan adalah petani hidup dengan bekerja keras dan dalam kesederhanaan. Mereka menerima Fransiskus dengan rasa kasih dan juga mengakui karya dan ajaran yang disampaikannya.    

Fransiskus kemudian kerap berkunjung dan tinggal di daerah ini. Ia mencintai penduduk desa ini karena kesederhanaan mereka. Dari tempat-tempat yang telah dikunjunginya, Greccio adalah tempat yang paling mengingatkannya pada Betlehem yang pernah dikunjunginya tahun 1219 dan memiliki kenangan yang mendalam di hatinya. 

Gua alam di Greccio mengingatkannya akan tempat di mana Yesus lahir dan ditempatkan dalam sebuah palungan. Dari sinilah kemudian adegan malam kelahiran Yesus yang pertama dalam sejarah dibuat.   

Palungan Natal pertama dalam sejarah 

Fransiskus Assisi memiliki keinginan untuk menghadirkan kembali suasana serupa saat Yesus lahir di Betlehem dalam perayaan Natal dan mendekatkan umat pada misteri Natal. 

Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Fransiskus menyampaikan idenya ini kepada Giovanni Vellita, seorang bangsawan dari daerah Greccio. Seorang yang beriman dan yang sudah lama menjadi salah satu teman baik Fransiskus. Idenya itu pun disambut dengan baik. 

Maka dibuatlah persiapan untuk menggambarkan suasana malam kelahiran Yesus dengan figur-figur hidup. Di dalam sebuah gua di Greccio, yang dipilih sendiri oleh Fransiskus yang mengingatkannya pada Betlehem. Mereka bersama dengan penduduk menyiapkan sebuah palungan dengan jerami-jerami, serta membawa seekor lembu dan seekor keledai. 

Dan pada malam Natal tahun 1223, Fransiskus dengan para rahib dan penduduk desa berkumpul, berdoa, merayakan misa bersama dalam gua tersebut dengan terang cahaya obor,dalam suasana penuh kedamaian. 

Fransiskus berhasil membuat perayaan malam Natal itu menjadi sungguh nyata dan hidup bagi umat di sana. Menghadirkan kembali atmosfer kesederhanaan dan kerendahan hati Yesus yang lahir dalam kemiskinan. Menciptakan ulang suasana malam kelahiran Yesus seperti yang terjadi di Betlehem. 

Umat yang hadir merasa tersentuh dan takjub dengan apa yang mereka saksikan, dan hati mereka dipenuhi oleh sukacita. Adegan hidup tentang malam kelahiran Yesus pertama kalinya tercipta dalam sejarah. Di Greccio, di dalam sebuah gua.

Dari Greccio ke berbagai belahan dunia  

Perlahan-lahan, cerita misa malam Natal di dalam gua di Greccio tersebut mulai menyebar dari mulut ke mulut ke berbagai daerah lain di Italia. Keluarga-keluarga lalu mulai ikut membuat palungan dalam rumah-rumah mereka untuk menyambut Natal. 

Demikian pula di gereja-gereja dengan membuat figur-figur yang terbuat dari kayu, terakota. Masing-masing daerah kemudian membuat bentuk yang berbeda-beda tergantung dengan kultur setempat. Ada bentuk yang sederhana, ada juga yang penuh dengan detail. 

Dengan berjalannya waktu selama ratusan tahun, tradisi ini kemudian tidak hanya dikenal dan dilakukan di Italia. 

Para misionaris Fransiskan kemudian membawa tradisi ini ke Spanyol, ke seluruh negara Eropa, Amerika Latin. Dan akhirnya berbagai tempat di belahan dunia pun mengenal dan melakukan tradisi ini. Menjadikannya pula sebagai sebuah tradisi simbolik kekristenan. 

Bentuk dari adegan kelahiran Yesus ini pun berkembang di berbagai negara. Akan tetapi, tidak kehilangan makna yang sesungguhnya. Susunan figur atau patung tersebut bukan sekedar dekorasi Natal, melainkan sebuah kisah yang hidup yang membawa pesan yang terus sama di dalamnya, bahwa putra Allah lahir di antara manusia dalam kemiskinan dan kasih.  

Perayaan Natal bukanlah sebuah perayaan gemerlap yang dipenuhi dengan kemewahan melainkan hadirnya kedamaian, kesederhanaan, dan kasih.