-->

Breaking

logo

Jumat, 24 Juli 2020

Klepon, Jajanan tak Islami dan Filosofi Jawa

Klepon, Jajanan tak Islami dan Filosofi Jawa


Cerita Kita - Klepon. Bulat, manis isinya, dan hijau warnanya. Lalu apa yang menjadikan klepon bukan makanan yang sesuai bagi seorang Muslim?

Jawabannya, tentu tidak ada. Ketua Badan Halal PBNU Andi Nazmi meminta, umat Muslim tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak penting.

"Menurut saya itu gimmick saja dari pembuat status, tapi sungguh keterlaluan menggiring isu agama dalam konteks gimik," ujar Andi.

Jika ditinjau lebih jauh, bahan baku utama pembuatan klepon sebenarnya tidak ada yang melanggar unsur syariah. Terkecuali, kalau ada oknum pembuat klepon yang berbuat nakal dengan memasukkan unsur haram. Perubahan bahan baku itu pun bisa saja berpengaruh pada rasa klepon.

"Setahu saya, berbahan tepung dan gula, ditambah parutan kelapa. Sepanjang yang pernah dimakan seperti itu," ujar Andi.

Muhammadiyah malah memilih diam agar isu ini menghilang dengan sendirinya tanpa harus menjadi besar. "Maaf, (Muhammadiyah) no comment," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

Unggahan kontroversial terkait klepon sebagai makanan yang tidak Islami, muncul sejak kemarin di media sosial. Unggahan foto lengkap dengan tulisan, 'kue klepon tidak Islami'. Lalu disertai ajakan, 'Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami, dengan cara membeli jajanan Islami, aneka Kurma tersedia di toko syariah kami'.

Pemerhati Kuliner dari Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Ary Budiyanto, mengatakan, klepon sempat menjadi tren kala selebritas Aurel Hermansyah memberikan kejutan kepada Atta Halilintar, tahun lalu. Pemberian klepon ditafsirkan sebagai harapan hubungan 'gurih' seperti parutan kelapa dan lengket layaknya ketan. "Penuh kejutan yang manis seperti gula di dalamnya," kata Ary.

Lalu, kemarin muncul tudingan klepon sebagai makanan yang tidak Islami. Ary mengatakan, sebenarnya klepon diartikan sebagai cara orang tua Jawa mengajarkan anak dan cucunya agar tidak mengecap saat makan. "Karena bagi orang Jawa makan berbunyi itu tidak sopan," jelasnya.

Ary mengatakan, klepon juga banyak dimaknai sebagai petunjuk dalam laku hidup. Di dalam bahasa Jawa, klepon berarti "kanti lelaku pesti ono". Hal ini bermakna dengan, "laku prihatin maka akan ada jalan keluar."

Selain itu, klepon bermakna lambang kelembutan, ketepatan, kesabaran, keuletan serta ketelitian. Hal ini karena proses pembuatan klepon harus tepat dengan bahan dasar yang baik. "Artinya kalau mau lelaku tidak boleh asal, ada syarat dan ketentuannya. Butuh keuletan, kesabaran dan ketelitian dalam membuat klepon ini," ucap antropolog dari UB ini.

Ary tidak mempermasalahkan munculnya beragam tafsiran filosofi klepon di masyarakat. Namun, dia mengakui, aspek ini merupakan sebuah pesan yang baik untuk direnungkan. Lebih baik daripada memperparah nyinyiran anti-Jawa atau anti-Islam melalui meme di media sosial.
   
Selama ini klepon dianggap sebagai makanan umum di Pulau Jawa. Akan tetapi, Ary berpendapat, kuliner ini justru telah lama dikenal di Nusantara. "Entah sejak kapan makanan ini muncul," ucap Ary. (Republika)