-->

Breaking

logo

Jumat, 03 April 2020

Takdir dalam Sejarah dan Tantangan Penanggulangan Virus Corona

Takdir dalam Sejarah dan Tantangan Penanggulangan Virus Corona


Cerita Kita - Persebaran cepat virus korona yang telah merenggut lebih dari seratus nyawa di Indonesia ditanggapi dengan berbagai kebijakan oleh pemerintah. 

Sebagian pihak merasakan perlu adanya tindakan pembatasan gerak fisik masyarakat dengan opsi karantina wilayah, sedangkan yang lain justru mengusahakan adanya vaksin atau pengobatan dengan pengembangan yang cepat. Kedua usaha ini dianggap terbukti telah mengurangi angka penderita dan kematian di Republik Rakyat Cina. 

Pada saat sebagian orang dengan kokoh mempertahankan diri untuk melakukan pembatasan gerak fisik (yang lebih sering disebut social atau physical distancing) dan mengutuk orang-orang lain yang mengabaikan usulan ini, kita telah mengabaikan suatu aspek humaniora yang mungkin menyebabkan semua "pengabaian" tersebut.

Saya tidak menulis untuk menjustifikasi aksi pengabaian pembatasan gerak fisik yang dilakukan beberapa kelompok di dalam masyarakat. Namun, saya ingin memberikan penjelasan dan opsi tandingan yang barangkali akan membuat patuh orang-orang. 

Masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Jawa, memiliki referensi sejarah dan budaya yang agak berbeda mengenai suatu pandemi demam. Sekalipun pernah terjadi wabah demam flu tahun 1918, pes sejak 1910, dan berulang kali malaria, penyakit-penyakit ini tidak memiliki signifikansi sebesar virus korona tahun ini. 

Simpulan bahwa penyakit demam semacam ini tidak dianggap sedemikian penting datang dari tidak adanya suatu cerita lisan tentang ini yang diturunkan oleh orang-orang yang pernah mengalaminya. Tidak adanya cerita semacam ini yang berkembang di Jawa merupakan fenomena yang janggal. 

Bila suatu peristiwa atau kemalangan terjadi, orang Jawa biasanya akan merekam peristiwa tersebut dalam tradisi lisan, yaitu dalam mitos, legenda, atau cerita rakyat.

Saya menduga ada dua kemungkinan yang menyebabkan hal ini. Kemungkinan yang pertama berkenaan dengan tidak dianggap seriusnya wabah penyakit-penyakit demam karena virus tersebut. 

Hal ini dapat menjadi dugaan bila kita melihat persentase jumlah korban yang kurang signifikan, baik pada wabah abad ke-17 hingga 20. Namun, hal ini juga secara langsung dipatahkan bila kita menghitung pula jumlah besar korban dari wabah pes yang sekalipun tidak disebabkan oleh virus, tetap menghadirkan gejala demam. 

Pada akhirnya, mungkin alasan tidak terciptanya "peringatan" yang berupa tradisi lisan tersebut disebabkan oleh kemungkinan kedua. Kemungkinan kedua justru berkaitan dengan pola pikir masyarakat yang menganggap demam adalah suatu penyakit yang sangat berkaitan dengan kekuatan mistis dan konsep takdir.

Dalam dunia kepercayaan Jawa, terlepas dari konsep agama, banyak penyakit yang diasosiasikan dengan makhluk halus. Namun demikian, demam menempati suatu posisi yang unik. 

Bila kita perhatikan, cerita rakyat pada umumnya akan menampilkan cerita-cerita tentang penyakit yang kasat mata atau penyakit yang berkaitan dengan perut. Kedua macam penyakit ini umumnya dapat disembuhkan. 

Dalam cerita Nyi Roro Kidul, ditampilkan penyakit kulit yang sembuh dengan basuhan air laut. Sedangkan, dalam cerita-cerita lain terdapat pula penyakit perut yang disebabkan oleh makanan dan sembuh setelah diberi penawar. 

Dua macam penyakit ini umumnya masih dapat disembuhkan oleh tabib. Namun demikian, sangat jarang atau bahkan tidak ada penyakit demam yang dapat disembuhkan oleh tabib dalam cerita rakyat. Salah satu referensi tentang penyakit demam saya temukan dalam mitos kelahiran bayi. Saat kelahiran bayi, umumnya terdapat makhluk halus disebut Sawan yang akan mengganggu dan harus dicegah gangguannya. 

Bila pencegahan ini luput dan Sawan berhasil mengganggu, sang bayi akan mengalami demam tinggi. Pada titik ini, yang dapat dilakukan oleh orang tua hanya membaringkan anak terlentang dan "membiarkannya melawan Sawan". Dengan demikian, terdapat konsep pertarungan antara manusia dan makhluk halus tersebut dalam penyakit demam yang diderita.

Kedatangan makhluk atau penyakit ini juga pada akhirnya dikristalkan sebagai sebuah takdir. Dengan demikian, muncul mentalitas untuk menyerahkan pada masing-masing individu untuk menerima takdir dalam melawan keganasan makhluk halus tersebut. 

Bertemunya suatu individu dengan rival astralnya tersebut merupakan suatu pertarungan yang tidak dapat dihindarkan dan orang lain tidak dapat turut campur di dalamnya --dengan kata lain, merupakan sebuah takdir yang tidak dapat dicampuri orang lain. 

Seiring perkembangan zaman dan perubahan waktu, konsep pertarungan antara diri dan godaan mistis itu memudar. Namun, mentalitas untuk memandang penyakit yang datang sebagai takdir yang harus dihadapi tetap ada. Mentalitas ini tidak menunjukkan bahwa orang-orang memandang dengan takluk dan menerima kekalahannya dari sebuah penyakit.

Namun lebih kepada suatu mentalitas untuk menghadapinya dan bukannya mencegahnya datang. Kini, dengan merebaknya kasus virus korona, orang diajarkan untuk mencegahnya datang. Ajakan pencegahan ini adalah suatu konsep baru yang melawan konsep budaya yang sudah mapan.

Dengan demikian, untuk memastikan kesuksesan pencegahan penyebaran virus korona yang berhenti di depan tembok kebudayaan, kita juga harus mengadakan sebuah pendekatan kebudayaan. Salah satu contoh menarik, dan saya pikir akan menjadi sangat efektif, telah dilakukan oleh suatu desa di Purworejo yang kini menjadi viral di internet. 

Dalam berbagai artikel berita daring, saya melihat ada beberapa orang desa tadi yang menggunakan kostum pocong untuk mengingatkan atau menakuti masyarakat akan bahaya virus korona --dengan menggunakan pendekatan yang sangat kultural. 

Masalah yang kita hadapi sekarang adalah tidak adanya jembatan kultural dari imbauan dan istilah medis kepada alam pikiran masyarakat. Konsep social atau physical distancing adalah konsep yang sangat asing bagi alam pikir kebudayaan kita. Selain itu, masyarakat juga seharusnya tidak dibingungkan dengan model penyebaran beristilah droplet dari virus baru tersebut. 

Otoritas pemerintah dan kesehatan akan lebih didengar bila menggunakan suatu bahasa kebudayaan yang simpel dan sederhana. Dengan kata lain, sekali lagi harus dikedepankan pendekatan humaniora dalam penanganan berbagai masalah masyarakat. Pendekatan humaniora atau kebudayaan ini sangat penting karena pendekatan ini adalah pendekatan yang paling dekat dengan alam pikir manusia. 

Dengan pendekatan ini, Sunan Kalijaga, misalnya mampu membawa penyebaran agama Islam dengan cepat dan meluas. Saya tidak dapat membayangkan ketika pada masa hidupnya Sunan Kalijaga tidak menggunakan pendekatan kebudayaan dan justru dengan kokoh memperkenalkan konsep-konsep yang sangat asing. 

Bila skenario tersebut yang berjalan, sejarah Islam di Nusantara tidak akan mungkin berjalan seperti sekarang. Sunan Kalijaga sukses menyampaikan ajaran Islam di Jawa karena ia memahami dengan baik alam pikir kebudayaan Jawa. 

Sama seperti itu, kini para pemangku kebijakan harus menggunakan pendekatan kultural untuk mempenetrasi alam pikir masyarakat yang masih mengabaikan imbauan pencegahan dan penanggulangan virus korona.

Daftar Sumber 
  • Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Sejarah Kesehatan Nasional Republik Indonesia Jilid I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
  • Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Sejarah Kesehatan Nasional Republik Indonesia Jilid II. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
  • Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Sejarah Kesehatan Nasional Republik Indonesia Jilid III. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
  • Endraswara, Suwardi. 2004. Dunia Hantu Orang Jawa: Alam Misteri, Magis dan Fantasi Kejawen. Yogyakarta: Penerbit Narasi.
  • Endraswara, Suwardi. 2018. Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta: Penerbit Narasi.
  • Ong, Hok Ham. 2002. Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara. Jakarta: Kompas.
  • Wolf, Eric R. 1985. Petani: Suatu Tinjauan Antropologis. Jakarta: CV. Rajawali.


Penulis

Christopher Reinhart adalah peneliti bidang sejarah kuno dan sejarah kolonial wilayah Asia Tenggara dan Indonesia. Kini menjadi asisten peneliti Prof. Gregor Benton pada School of History, Archaeology, and Religion, Cardiff University.