Black Death? Apaan tuh? Kayaknya pernah denger.
Cerita Kita - Mungkin nama Black Death terdengar tidak asing untuk kalian yang suka mencari tahu sejarah-sejarah kejadian penting atau penyakit di seluruh dunia (khususnya Eropa). Berhubung kita sedang menghadapi pandemi global dari virus corona, saya ingin menyampaikan beberapa informasi tentang the Black Death, pandemi besar yang pertama kali mewabah di Eropa.
Perkenalan
Black Death adalah pandemi (KBBI: Wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas) global yang terjadi pada abad ke-14 yaitu pada tahun 1346 sampai 1353 di Eropa (juga Asia) dengan angka kematian yang sangat tinggi. Black Death telah memakan korban sekitar 75 sampai 200 juta orang, yang artinya telah mengurangi lebih dari 60% populasi di Eropa. Untuk kalian yang belum tahu, Black Death sebenarnya adalah wabah pes (KBBI: penyakit menular yang disebabkan oleh basil (bakteri batang), ditularkan oleh kutu-kutu tikus kepada manusia) yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis di hewan pengerat liar yang suka hidup dekat manusia. Penyakit ini memang awalnya tidak menular antarmanusia, namun infeksi bakteri serius dapat terjadi akibat kutu-kutu di hewan pengerat yang terinfeksi. Penyebarannya memang sulit dan cenderung lambat, tetapi penyakit ini sukar disembuhkan dan membutuhkan perawatan medis yang mendesak. Black Death dikenal dengan nama yang bermacam-macam, ada yang menyebutnya Great Mortality, Pestilence, the Great Bubonic Plague / the Great Plague atau the Black Plague, namun akhirnya Black Death menjadi nama tetap dari wabah ini. Black Death diambil dari bahasa Latin “atra mortem” karena beberapa gejala yang dialami penderita berhubungan dengan warna hitam. Gejala-gejalanya berupa kulit menghitam pada jari tangan, jari kaki, atau ujung hidung karena jaringan yang telah mati.
Penyebaran
Wabah ini diperkirakan berasal dari Asia sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, tetapi menurut spekulasi peneliti, wabah ini ada di Eropa sejak 3000 SM. Black Death menyebar secara cepat ke daerah lain melalui kapal dagang dan migrasi tikus. Ada beberapa pihak yang percaya Black Deart masuk lewat perdagangan di jalur sutra. Tetapi sejarawan Norwegia Ole Jorgen Benedictow membantah hal ini dan menyatakan pes tidak masuk lewat Tiongkok namun muncul dari dekat Laut Kaspia, selatan Rusia (kini masuk wilayah Ukraina), pada musim semi 1346.
Pes kemudian menyebar ke barat lewat migrasi tikus-tikus coklat Rusia yang punya daya tahan tubuh lebih kuat dibanding tikus hitam. Namun, kutu-kutu di tikus kemudian juga menghinggapi tikus hitam di tempat migrasinya. Tikus yang terkena pes umumnya bertahan sepuluh sampai empat belas hari, lalu mati. Kematian massal tikus membuat gerombolan kutu bingung mencari tempat hinggap. Setelah tiga hari puasa, kutu-kutu kelaparan itu pun bersarang di tubuh manusia sebagai pengganti tikus.
Persebaran pes juga terjadi lewat kapal dagang Italia. Tikus-tikus berkutu ikut naik kapal, menyusup di antara karung dan keranjang barang. Dalam perjalanan laut itu, banyak tikus terinfeksi pes yang mati. Namun, kutu-kutu tetap bertahan hidup. Para kutu lalu mencari tikus baru begitu mendarat. Kutu tikus punya daya tahan hidup lebih tinggi dibanding kutu rambut. Mereka mampu beradaptasi di sarang barunya. Mulanya, kutu tikus akan menempel di baju, lalu menular dari satu orang ke orang lain.
Kapal-kapal dagang Italia itu mengangkut banyak muatan dari beberapa kota, seperti Venice, Genoa, London, dan Bruges. Di London dan Bruges, perdagangan Italia terhubung dengan Jerman dan Norwegia. Dari jalur perdagangan inilah pes menyebar ke segala penjuru Eropa.
Di Inggris, wabah pes meluas sampai ke daerah selatan London, kemudian berlanjut hingga ke Eropa Utara. Pes sampai di Oslo pada musim gugur 1348 lewat kapal dagang Inggris yang berlayar ke arah timur dan tenggara. Black Death di Norwegia masuk lebih cepat dibanding ke Jerman dan Belanda.
Namun, lantaran tersebar melalui kutu tikus, pes di Eropa hanya muncul ketika suhu menghangat dan menghilang ketika musim salju. Di Norwegia misalnya, sepanjang 1349 hingga 1654 tidak pernah ada wabah pes ketika musim dingin. Biasanya, epidemi merebak lagi begitu musim semi.
Tingginya angka kematian akibat pes amat mengagetkan di Eropa. Mereka menganggap Black Death adalah kutukan Tuhan yang menimpa para pendosa. “Tapi ketika ada seorang beriman yang mati terkena black death, orang-orang jadi yakin kalau penyakit ini bukan dari kutukan Tuhan tapi dari udara busuk,” kata Dosen IAIN Surakarta Martina Safitry, yang pernah meneliti penyakit pes untuk tesisnya, kepada Historia.
Kendati memakan banyak korban jiwa, banyak orang berhasil bertahan dari wabah pes. Mereka yang bertahan ini membentuk imun tubuh yang kuat sehingga lebih sulit terjangkiti. Kondisi ini bertahan cukup lama. Profesor WJ Simpson dalam A Treatise On Plague menjelaskan bahwa di Eropa Barat selama abad ke-18 dan 19 wabah pes sudah menurun, bahkan jarang.
Epidemi ini tercatat baik dalam sejarah kesehatan Eropa dan menigggalkan trauma mendalam. Alhasil, ketika pes masuk ke Jawa pada 1910, orang-orang Belanda panik. Kebijakan yang sangat intensif pun dibuat untuk menanganinya. “Walaupun kita sebelumnya pernah terserang penyakit cacar, tapi cara-cara penanganannya tidak segencar penyakit pes yang tidak hanya lewat pemberian vaksin tapi juga isolasi dan bumi hangus desa,” kata Martina.
Sumber:
- https://id.wikipedia.org/wiki/Maut_Hitam
- https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Death
- https://www.theweek.co.uk/76088/what-was-black-death-and-how-did-it-end
- https://historia.id/sains/articles/kala-black-death-hampir-memusnahkan-eropa-P4neV
- https://www.history.com/topics/middle-ages/black-death
Janice Atalie

