Cerita Kita - Maryam atau Maria adalah nama yang agung dan dimuliakan dalam dua agama besar: Islam dan Kristen. Kisah Maryam diceritakan dalam kitab suci umat Islam sebagaimana juga dikisahkan dalam Kitab Suci Injil. Artikel singkat ini mencoba mengemukakan bagaimana kisah Maryam dalam Alquran dan apresiasinya terhadap ruh sempurna ini.
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur
(Surat Maryam, ayat: 16)
Ada beberapa catatan terkait dengan ayat tersebut:
Pertama, sejarah wanita besar sebagaimana sejarah pria besar harus diagungkan dan diabadikan. Maryam adalah manusia besar sehingga karena itu setiap sisi dan episode kehidupannya menerbitkan cahaya ibrah dan pelajaran berhaga bagi setiap manusia, pria ataupun wanita.
Kedua, khalwat (pengasingan diri) adalah cara terbaik untuk menjemput hidayah. Di tengah kegaduhan materi dan kebisingan duniawi serta pameran kebodohan dan kemaksiatan, sebaiknya kita "mengasingkan diri "dan "menyepi"serta meninggalkan keramaian dan persahabatan supaya kita bisa memanggil Tuhan dalam kesepian dan kesendirian.
Ketiga, kadang-kadang orang dekat kita justru memasung jalan kita menuju Tuhan dan mereka merampas kemerdekaan kita, bahkan mereka menuduh kita dengan tanpa bukti. Dalam suasana seperti ini seperti Maryam, kita hanya bersandar dan berharap pada bantuan Tuhan Yang Mahakuasa.
Alquran menceritakan perihal pendidikan Maryam al-'Adzra (yang masih gadis) seperti ini:
Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya.
Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Surat ali Imran, ayat: 37)
Siapapun yang bersandar dan bertawakal kepada Tuhan maka Ia tidak membiarkannya kelaparan dan berada dalam kesulitan dan masalah tanpa solusi.Orang yang beriman kepada Tuhan maka setiap menemukan jalan sulit, ia mendapatkan kemudahan, dan Tuhan pun menganugerahinya rezeki tak terduga.
Para malaikat berbicara dengan Maryam dan mendengar pembicaraannya,bahkan Maryam melihat langsung para malaikat. Demikianlah ungkapan agung Alquran terkait dengan Maryam:
Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).(Surat ali Imran, ayat: 42).
Bahkan kabar gembira kelahiran al-Masih juga disampaikan oleh para malaikat kepada Maryam:
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).(Surat ali Imran, ayat: 45)
Ibu yang hebat akan melahirkan anak yang hebat.Ibu pemberani akan menularkan watak keberanian kepada anaknya. Sebaliknya, ibu penakut/pengecut akan menciptakan anak yang penakut. Al-Masih lahir dari rahim ibu sehebat, secerdas dan semulia Maryam. Sehingga karena itu, Al-Masih bersumpah untuk berbakti kepada ibunya dan mengenang hari kelahirannya sebagai hari yang berkah.
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.(Surat Maryam, ayat: 27)
Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina."(Surat Maryam, ayat: 28)
Maryam tidak stres dan frustasi mendengar tuduhan kaumnya bahwa ia wanita pelacur. Maryam sadar bahwa sekujur tubuhnya adalah milik Tuhan dan ia tidak pernah mengizinkan lelaki manapun---apalagi pria hidung belang--- untuk menyentuh badannya tanpa izin dari Tuhan.Keperawanan dan kegadisan adalah anugerah Tuhan yang mesti dipertahankannya dan ia tak pernah mengorbankan kehormatan wanita ini demi nafsu sesaat dan nikmat sementara.
Maryam telah merasakan keintiman dan keakraban dengan Tuhan serta meminum anggur cinta-Nya dan mengalami "mabuk"asmara yang luar biasa, sehingga cinta pada manusia itu tampak tidak ada artinya. Kalbu Maryam yang dipenuhi dengan cinta Ilahiah terasa tidak ada tempat lagi bagi cinta pada selain-Nya.
Manisnya cinta Tuhan mengalahkan semua kemanisan cinta duniawi.Karena itu,Tuhan "menikahkan" Maryam dengan malaikatnya hingga ia hamil karena "sentuhan"malaikat. Maryam tidak selevel lagi dengan pria-pria biasa yang bukan hidung belang (hidung mancung dan pesek), apalagi dengan hidung belang.Nabi saw memuji Maryam dalam sabdanya: Maryam adalah salah satu dari empat wanita teladan.
Perhatikanlah derita Siti Maryam yang terpisah dan terusir dari keluarganya serta menjalani kehidupan susah dan berat,dalam kondisi hamil dan tertuduh melakukan perzinaan.
Keterasingan dan kesendirian tanpa bantuan keluarga ini menjadi indah dan manis bila seseorang menyadarinya sebagai bentuk perjalanan menuju Tuhan dan pelaksanaan program-Nya.
Setelah merasakan keterputusan hubungan dengan masyarakat,di sinilah Maryam merasakan kehadiran Tuhan; di sinilah Maryam mengalami derita luar biasa dan kegelisahan jiwa yang hebat sebagaimana dilukiskan dalam Alquran:
Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". (Surat-maryam, ayat: 23)
Ini bukan ucapan kesal dan frustasi. Ini bukan derita dan rasa sakit kehamilan serta persalinan. Derita kehamilan dirasakan oleh seluruh wanita, tapi kenapa cuma derita Maryam yang diagungkan dalam Kitab Suci? Ini derita "kelahiran kembali" (reborn) Maryam. Ini lebih dari derita-derita yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Maryam ingin terlahir kembali dan menjadi "manusia yang berbeda".
Ya, derita hidup yang kita alami mestinya tidak membuat kita stres berkepanjangan dan putus asa. Pelbagai rintihan, derita dan tangisan adalah wahana dan sarana untuk menjadi insan yang terlahir kembali;insan yang berbeda dan istimewa. Belajarlah dari Siti Maryam, niscaya engkau akan mejadi pemenang.
Syekh Muchammad Arif
