![]() |
| Ilustrasi |
Cerita Kita - Sudah semenjak lama orang-orang dari Sulawesi dikenal sebagai tipikal manusia petarung. Tak di lautan, tak di darat, orang Sulawesi selalu punya tempat untuk mengepak dan berkembang.
Di laut-laut Nusantara, orang-orang Sulawesi mencatat sejarah pera yang kuat. Mereka adalah pelaut ulung yang menurun dari nenek moyang dan tangguh dalam perselisihan dengan bergulung-gulung gelombang di jantung samudera.
Di kaki pulau Sulawesi ada dua wilayah besar yang menjadi lokomotif dalam dunia pelayaran nusantara. Itu adalah orang-orang dari Sulawesi Selatan dan juga Sulawesi Tenggara.
Tumpukan buku-buku sejarah telah mencatat dua wilayah ini sebagai penghasil pelaut gigih, tak ketinggalan berpuluh-puluh peneliti yang sepakat bahwa mental pelaut Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara adalah yang paling perlente.
Banyak ilmu pelayaran tua yang masih dijaga di dua wilayah ini sampai kini.
Tak saja soal kepiawaian menunggangi lautan, orang-orang dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara juga diidentifikasi sebagai kelompok manusia yang pandai dalam urusan perniagaan.
Sejak berabad-abad lalu hingga hari ini mereka sudah menyebar ke banyak bandar di Nusantara maupun ke wilayah terjauh di negeri asing.
Tak terhitung rekaman mengenai perjalanan membawa barang-barangda gangan mengarungi lautan. Dan seperti halnya kebiasaan melaut, kebiasaan berdagang kelompok manusia Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara ini agaknya juga memiliki usia yang sama tuanya dengan tradisi melaut.
Di Sulawesi Selatan nama yang paling menonjol dalam urusan melaut dan perniagaan adalah tentu saja dari kelompok Bugis Makassar. Sementara di Sulawesi Tenggara suku Buton muncul dalam hal yang sama. Sudah sangat lama orang-orang Buton dikenal sebagai suku yang dekat dengan lautan.
Mereka terbiasa melakukan perjalanan jauh menggunakan berbagai jenis perahu untuk melayari ruang-ruang samudera yang hampa. Mereka terbiasa meneguk kerasnya lautan untuk banyak urusan. Hingga suatu waktu kebiasaan-kebiasaan melaut akhirnya menuntun manusia-manusia Buton untuk melakukan interaksi dengan suku lain di Nusantara.
Melalui inilah pelajaran perihal perniagaan dikeruk. Waktu membawa orang-orang Buton untuk memanfaatkan lautan sebagai jalanan untuk menetas dan membaharukan kepiawaian yang lain: berdagang. Sebagaimana juga orang-orang Bugis Makassar, orang Buton pun ditandai sebagai kelompok manusia dengan kultur berdagang yang kental. Di banyak tempat di Nusantara orang-orang Buton menyebar sebagai pedagang dan juga nelayan.
* * * * *
Ada suatu riwayat bahkan yang menceritakan mengenai sosok perempuan kaya raya asal Buton yang hidup di abad 17. Disebutkan namanya adalah Wa Ode Wau, pedagang yang menguasai ratusan armada kapal dagang yang melayari hingga jauh ke Malaka sana. Kapal-kapal miliknya akan membawa hasil kerajinan dari Buton untuk diperdagangkan di wilayah lain atau ditukar dengan aneka hasil bumi di beberapa wilayah seperti Maluku, salah satu yang paling kesohor adalah rempah.
Diriwayatkan lagi bahwa antara tahun 1630 hingga tahun 1692, armada dagang Wa Ode Wau yang berkapasitas 50--60an mencapai 600 buah kapal layar, sebagai alat komoditas perdagangan, dengan menggunakan tenaga kerja 3000 orang, sehingga pedagang Belanda yang bernama Lighvoet menyatakan, orang Buton punya banyak sekali perahu yang dipersenjatai dengan lela (meriam ringan) dan beberapa senapan (Lighvoet,1878, hal 11).
Wa Ode Wau sendiri adalah putri Sapati Bhaaluwu La Ode Arafani, saudara kandung Sultan Buton ke-14 Sultan Syaifuddin. Beliau adalah juga bibi dari Sultan Tsaqiuddin Darul Alam La Ode Ngkariyriy. Saking kayanya beliau sampai-sampai namanya terdengar di banyak bandar di Nusantara di masanya. Banyak pedagang besar yang memberikan kesaksian. Perusahaan perniagaan Wa Ode Wau bahkan merupakan satu dari sedikit yang sanggup menyamai kekuatan VOC milik Belanda di Nusantara.
Kesuksesan perdagangan Wa Ode Wau ini juga diakui oleh seorang konglomerat Cina yang terbesar dagangannya di Singapura dan Johar pada saat itu. Namanya Sun Yin. Begini ia berkata suatu hari.
"Keuntungan barang dagangan Wa Ode Wau dari kesultanan Buton dalam satu musim dapat menghidupkan rakyat di ketiga negeri yakni Singapura, Johar dan Negeri Sultan Iskandar Muda (Aceh) selama 1 tahun. Ia mempunyai armada besar yang membawa barang dagangan yang tidak dapat ditampung di pelabuhan Singapura dan Johar dalam 1 musim," kata Sun Yin.
Di dalam sebuah keterangan dari Gubernur Jenderal Willem van Outhorn (Desember 1690-Agustus 1704), dikuatkan oleh Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk (28 Desember 1755 - 3 Oktober 1777), serta ditegaskan oleh Gubernur Jenderal Willem Alting (Maret 1780 - 17 Februari 1797), dan Residen Bbrugman (1906) diperkirakan kekayaan Wa Ode Wau berjumlah 180 Milyar Gulden atau senilai 60 Milyar Dollar.
Tentu itu bukan nilai kekayaan yang kecil di masa itu bahkan hari ini. Itu adalah nilai yang teramat besar. Terlebih pelakunya adalah seorang perempuan yang mana ia sendiri berasal dari Buton. Sudah menjadi rahasia umum bahwa meski terkenal sebagai kelompok manusia berdagang orang Buton tetap saja belum sanggup mencapai titik-titik tertinggi dari kelas perniagaan model apapun.
Tak heran bahwa kemunculan Wa Ode Wau akhirnya mengubah banyak hal. Harta-harta kekayaan Wa Ode Wau tersebut di atas dicantumkan juga dalam Koteverklaring 8 April 1906 untuk dicari Belanda, tetapi menjadi batal dikarenakan penolakan pihak Kesultanan Buton.
Pada banyak cerita lisan masyarakat Buton, Wa Ode Wau tak serta-merta menjadi angkuh atas harta-hartanya. Malah ia tetap bersahaja sebagaimana apa adanya. Harta-hartanya malah ia sumbangsihkan untuk membantu pembangunan benteng keraton Kesultanan Buton pada waktu itu. Lewat hartanya itulah pembangunan benteng yang menjadi benteng terluas di dunia hari ini itu akhirnya bisa rampung setelah mandek dan tertatih-tatih di tiga kali edisi pemerintahan sebelumnya di Buton.
Dari emas-emas yang beliau sumbangkan itu pihak kesultanan bisa memberi makan pekerja selama beberapa tahun lamanya. Pada saat Sultan La Buke Gafur Alwadud memimpin itulah pembangunan benteng keraton Kesultanan Buton akhirnya bisa selesai semuanya. Dan Waktu Ode Wau diganjar banyak apresiasi. Termasuk posisi penting di pemerintahan, tapi beliau menolaknya. Baginya, membantu pembangunan benteng itu adalah sudah kewajibannya sebagai masyarakat di mana benteng sendiri merupakan wilayah vital yang menjadi pusat pemerintahan serta pertahanan kesultanan.
Ia berpesan suatu ketika, "Aku tidak mengharapkan sesuatu pemberian dari Sara (Pemerintah) Kerajaan atas pengorbanan harta bendaku terhadap pembangunan Benteng Wolio, tetapi semata-mata untuk kepentingan negeriku sendiri, serta untuk kehormatan kaumku dan anak cucuku dikemudian hari. Semoga mereka ada yang mengikuti jejakku ini."
Wa Ode Wau wafat di usia 92 tahun. Sampai kini hartanya masih tampak dari areal hutan jati di beberapa lokasi di Buton. Semasa hidupnya beliau tak memiliki seorang pun anak. Hanya ia mengangkat anak orang lain sebagai anaknya. Menikah pun ia lakukan di usia tua karena baginya menikah adalah sunnah nabi.
Cerita mengenai Wa Ode Wau kini menjadi inspirasi banyak anak-anak muda di Buton maupun di Sulawesi Tenggara. Tak ketinggalan apresiasi besar diberi pemerintah kini untuknya. Namanya diabadikan pada beberapa jalan di kota Baubau serta gedung.
Harun Anwar
