Cerita Kita - Sholawat dulang, disebut juga salawek talam atau sholawat talam dalam bahasa Minangkabau yang merupakan budaya lisan Minangkabau yang bertema Islam.
Budaya lisan ini berupa pertunjukkan dua orang membacakan hafalan teks diiringi tabuhan dulang, nampan kuningan berdiameter 65 cm.
Dalam pertunjukkan sholawat dulang, dua pendendang duduk bersisian dan menabuh dulang bersamaan. Keduanya dapat berdendang bersamaan atau saling menyambung larik dalam syair. Pendendang umumnya laki-laki. Namun, kini terdapat pula pendendang-pendendang perempuan meskipun belum begitu diterima di masyarakat Minangkabau sendiri.
Penampilan sholawat dulang berupa tanya jawab, saling serang, dan saling mempertahankan diri sehingga pendendang kadang dijuluki menurut nama-nama senjata, seperti "peluru kendali" dan "gas beracun" dan hanya bisa dilaksanakan bila pendendang berjumlah setidaknya dua orang.
Pembacaan hafalan teks berdurasi antara 25 hingga 40 menit, biasanya berisi tafsiran dari ayat al-Quran atau Hadits yang telah ditulis sebelumnya. Sesi pembacaan satu teks ini disebut salabuahan (disebut juga satanggak atau satunggak).
sholawat dulang tersebar luas di ranah Minangkabau dan kadang hanya disebut salawek atau sholawatdalam percakapan sehari-hari. Tradisi sholawat dulang yang sudah turun menurun tersebut merupakan salah satu tradisi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang masih dipertahankan.
Pertunjukkan sholawat dulang dipertunjukkan pada hari-hari besar umat muslim seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, Idul Adha atau pada upacara bernuansa agama seperti ketika menaiki rumah baru dan khatam al-Quran.
Sementara untuk tempat penyelenggaraan sholawat dulang biasanya merupakan tempat yang dipandang terhormat menurut nilai masyarakat Minangkabau, seperti surau atau masjid, atau tempat untuk tamu yang dihormati bila diadakan di rumah penduduk (terletak di bagian kiri dari pintu masuk utama).
