-->

Breaking

logo

Rabu, 29 Mei 2019

Tips Sederhana Menikmati Hidup hingga Menua

Tips Sederhana Menikmati Hidup hingga Menua


Cerita Kita - Walaupun Masalah Hidup Terus Berlangsung

Ada begitu banyak orang yang secara materi hidup berkecukupan, tapi raut wajahnya mengambarkan kepedihan hati dan kegalauan jiwanya. Sementara ada orang lain yang hidupnya sederhana pada usia yang sama, tampak wajahnya jauh lebih segar dan cerita. 

Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa kebahagiaan seseorang tidak dapat dipatok berdasarkan banyaknya harta yang dimilikinya. Karena walaupun segala sesuatu dalam hidup ini membutuhkan uang, namun yang pasti uang bukanlah segala-galanya. 

Orang yang menyandarkan kebahagiaannya pada harta bendanya, maka ketika suatu waktu hartanya berkurang, maka rasa kebahagiaan dalam dirinya juga akan turut memudar dan sirna. Di sisi lain, orang yang merasa berbahagia karena menduduki jabatan penting, maka ketika tiba saatnya harus turun panggung, maka terjadilah post power syndrome yang bisa berakibat fatal bagi kesehatannya.  

Ada banyak contoh, yang dapat dijadikan pelajaran berharga agar jangan sampai menimpa diri kita. Orang yang tadinya duduk sebagai Pimpinan dan sudah terbiasa, segala sesuatu kebutuhannya disediakan oleh staffnya, maka ketika pensiun atau tidak lagi menjabat kursi Pimpinan akan mengalami shock sehingga gamang menghadapi hidup selanjutnya. Dan bilamana ia tidak mempersiapkan diri sejak dari awal, maka ia tidak akan mampu bertahan lama.

Walaupun mati hidup seseorang ada ditangan Tuhan, namun sebagai manusia, tentu kita wajib menjaga kesehatan dengan menghindari hal-hal yang dapat merusak kesehatan dan memperpendek usia.

Salah seorang teman saya berpangkat Kolonel dan pada waktu itu menjabat sebagai Kakanwil, salah satu departemen selalu tampil ceria dan kalau berbicara berapi api. Namun belum cukup setahun pensiun dan pulang kampung,ketika kami berjumpa. saya hampir tidak mengenal wajahnya lagi. Bahunya tampak loyo dan pandangan mata yang sayu dan berwajah sedih karena merasa dirinya sudah tidak lagi berarti. 

Ketika saya mencoba mengajaknya jalan-jalan dengan tujuan agar hatinya terhibur dan tidak terpancang, memikirkan bahwa kini ia sudah bukan lagi siapa-siapa. namun tampaknya semangat hidupnya sudah memudar. Sama sekali tidak ada keinginan untuk bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan dimana ia tingal setelah pensiun. 

Ibarat ketika kita ingin menolong orang yang akan tenggelam, tentu hanya bisa bila yang bersangkutan mengulurkan tangannya, Kalau yang mau ditolong, sama sekali sudah tidak lagi bersemangat, maka kita tidak mungkin masuk terlalu jauh dalam kehidupan pribadi orang, walaupun ia sahabat kita. Tidak cukup satu tahun setelah pensiun, sahabat kami meninggal. Hal ini bukan karena ketiadaan biaya namun karena ketiadaan semangat hidup.

Mensyukuri Hidup Adalah Syarat Utama 

Mensyukuri hidup adalah syarat utama agar kita dapat menikmati hari tua. Mensyukuri hidup adalah memahami bahwa masalah yang dihadapi adalah petanda kita masih hidup. Yang tidak punya masalah lagi, berarti hidupnya sudah berakhir. Bersyukur memiliki makna yang mendalam, yakni membebaskan pikiran dan hati kita dari iri hati dan kerakusan, serta sekaligus menjauhkan kita dari dendam dan kebencian. 

Hidup tanpa kebencian dan dendam, sungguh suatu kenikamatan yang luar biasa. Begitu kita terbangun dipagi hari, maka hal pertama yang keluar dari lubuk hati kita yang terdalam adalah: "Praise the Lord. I still alive" Puji Tuhan  saya masih hidup!

Dengan mengawali hari dengan rasa syukur,maka akan hadir keceriaan dan kegembiraan dalam jiwa kita. Dengan hati yang gembira, secangkir kopi hangat dan sebungkus mie instant yang disuguhkan istri akan terasa sangat nikmat.

Sebaliknya bila begitu bangun, pikiran kita sudah bergalau dan suasana hati sudah diracuni oleh kemarahan, entah karena urusan apa, maka seenak apapun sarapan yang disediakan istri, tidak lagi dapat dinikmati secara layak. Kening kita akan berkerut dan wajah kita sangat tidak enak untuk ditengok orang.

Berbagi Pengalaman Pribadi

Saya tidak berani melangkah, berbicara mengenai cara begini begitu agar bisa menikmati hidup layak hingga menua, apalagi menyarankan berbagai merek supplement food untuk dikonsumi. Tulisan ini ditulis, sepenuhnya berdasarkan pengalaman hidup pribadi. Kami tidak menyediakan suppekent food di rumah. Tidak ada yang istimewa dengan makanan yang kami nikmati setiap hari. 

Sarapan adalah sebungkus mie instan, plus sebutir telur atau nasi goreng, made in istri. Makan siang dan malam, nasi dengan dendeng balado atau rendang dan sayuran ala kadarnya. 

Hasil general medical check up di Shenton Medical Centre 3 bulan lalu, kami dinyatakan sehat walalfiat. Non kolestrol, jantung baik, paru-paru tidak ada masalah, ginjal berfungsi baik, hasil MRT dan CT scan otak kami berdua baik, kadar gula normal.tensi normal, mata tidak perlu kaca mata dan malam tanpa pantangan apapun.

Namun kami yang membatasi diri makan tidak berlebihan dan tidak merokok sama sekali. Kami minum kopi setiap pagi dan setiap sore masing-masing satu cangkir dan di musim dingin, setiap malam sebelum tidur minum anggur satu sloki kecil agar tidak kedinginan.

Kami berdua tidak pernah ikut-ikutan diet. Kami menikmati hidup kami secara bebas dan tanpa beban. Masih kuat mendaki anak tangga dan tidak ada masalah jalan jalan ke Padang pasir selama dua atau tiga jam. 

Bagi saya dan istri, setiap hari adalah hari istimewa yang selalu kami syukuri. Ternyata dengan menyukuri karunia Tuhan, kami dapat menikmati hidup kami dengan penuh kegembiraan setiap hari, walaupun masalah hidup tetap ada. Karena seperti tertulis: "Life is a problem. No problem means life is ended" 

Satu bukti bahwa untuk dapat menikmati hidup sehat lahir batin hingga diusia kami memasuki angka ke 76, tidak harus begini dan begitu. Kuncinya adalah hati yang gembira dan tahu bersyukuatr dan bebas dari kebencian dan dendam.

Hindari jangan sampai membiarkan diri terjebak oleh aturan hidup yang berbelit belit,sehingga membelenggu kebebasan hidup ,karunia Tuhan kepada kita.

Enjoy your life and love each others.

Tjiptadinata Effendi