Cerita Kita - Indonesia adalah negara demokratis yang mempunyai suku, ras, dan agama yang beragam-ragam dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Arti dari semboyan tersebut adalah "berbeda-beda tapi satu jua" dan juga mempunyai ideologi atau dasar negara yang sangat hebat dan telah diakui oleh dunia yaitu Pancasila.
Mereka-mereka yang mendirikan atau merumuskan dasar negara kita patut kita acungkan jempol, karena sebagian hidup mereka didedikasikan untuk bangsa ini. Di dalam nya terdapat tokoh-tokoh agama seperti M. Yamin dan juga ada tokoh-tokoh nasionalis seperti Presiden pertama kita Ir. Soekarno. Dengan menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan bangsa ini, maka disepakatilah Pancasila sebagai dasar negara.
Banyak nilai-nilai Pancasila yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah nilai Persatuan dan Kesatuan. Negara Indonesia mempunyai keragaman yang sangat banyak, mulai dari suku, ras, hingga agama. Namun dengan hadirnya Pancasila tidak ada lagi perbedaan diantara rakyat Indonesia dan Pancasila dapat menyatukan perbedaan tersebut.
Tidak sedikit juga yang menentang Pancasila sebagai dasar negara. Ini di akibatkan Indonesia adalah Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Banyak umat islam di Indonesia menentang abis-abisan Pancasila dan ingin mengganti dasar negara dari Pancasila menjadi dasar Islam. Mereka beranggapan bahwa Pancasila tidak sah karena tidak sesuai dengan syari'at dan mereka juga ingin mendirikan negara Khalifah.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah nilai-nilai Pancasila bertentangan dengan nilai-nilai islam? tentu tidak. Penulis akan menguraikan Pancasila dari sila pertama sampai sila kelima, dihubungkan dengan ayat-ayat Al-Quran dan juga Hadis Nabi SAW.
Sila pertama "Ketuhanan Yang Esa" ini bisa menjadi jawaban bahwasanya Indonesia itu bukan negara sekuler. Sila pertama ini berhubungan dengan ayat Al-Quran dalam surat Al-Ikhlas dalam ayat pertama yang berbunyi: qul huwallohu ahad (katakanlah , Dialah Allah yang maha esa).
Sila kedua " Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab". Sila kedua ini berhubungan dengan akhlaq. Islam mengajarkan kita untuk selalu berakhlaq terpuji. Ini sesuai dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi yang artinya "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaqnya".
Sila ketiga "Persatuan Indonesia" Indonesia didirikan bukan untuk golongan tertentu saja, bukan untuk agama tertentu saja. Jadi pantaslah kita untuk menghilangkan rasa egois kita masing-masing demi menjaga keutuhan bangsa Indonesia ini. Sila ketiga ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13 "wa ja'alnaakum syu'uubaw wa qabaaa'ila lita'aarofuu (dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal)
Sila keempat "Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksaan Dalam Permusawaratan Perwakilan" Inilah yang mendasari bahwa setiap urusan berbangsa dan bernegara harus melalui kesepakatan Bersama atau musyawarah dan mufakat
Allah telah dalam surat Asy-Syura ayat 38 yang artinya "dan (bagi) orang-orang yang menerima seruan Tuhan dan melaksanakan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka menginfakkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepeda mereka.) Islam sangat mendukuk konsep musyawarah karena dengan musyawarah kita dapat hasil bersama untuk kemaslahatan bersama.
Sila kelima "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia" Indonesia adalah negara kesatuan yang memiliki kewajiban untuk mensejahterakan rakyatnya secara adil tanpa pandang bulu. Seluruh rakyat Indonesia berhak mendapatkan keadilan yang sama tanpa memandang ras, agama, golongan, dan suku.
Ini selaras dengan pandangan islam. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 90 innalloha ya' muru bill adli wal ihsan (Sesungguhnya Allah menyuruh kmu berlaku adil dan berbuat kebaikan )
Islam adalah agama Rahmatan lil 'alamin menebar rahmat dan kebaikan tidak untuk menebar kebencian sesama umat. Tidak ada paksaan seseorang untuk memluk agama islam, setiap orang di beri kebebasan untuk memluk agama apapun. Allah berfirman "tidak ada paksaan dalam menganut agama, sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dan sesat."
Sekarang bukan satnya teriak-teriak untuk mengubah dasar Negara Indonesia. Bukaan saatnya membenturkan islam dengan Pancasila. Sekarang saatnya kita bersatu, hidup rukun satu sama lain, damai, hilangkan perbedaan, hargai kebhinekaan untuk kesatuan tanah air kita tercinta dan demi Indonesia lebih maju.
Abdul Hamid
