Cerita Kita - Lagu daerah yang sampai saat ini masih melekat pada ingatanku. Ketika itu ibu menyenandungkannya untuk adik-adikku menjelang tidur dalam susuannya. Ketika rewel pada saat sakit. Dengan irama mendayu suara asli ibu sanggup menenangkan hati yang lagi resah. Badan yang lagi sakit. Anak yang lagi rewel tak bisa tidur.
Berikut lagu-lagu kuno itu:
- Tho tho an kodok ijo wayangan, Percil jare kodok, Anake kodok dadi embok, dst
- Sluku-sluku bathok, Bathoke ela elo, Si Rama menyang Solo, Oleh-olehe payung motha, Mak jenthit lolo lobah, Wong mati ora obah, Nek obah medeni bocah, Nek urip goleko dhuwit, dst
- Ning nong ning gung pak bayan, Ning nong ning gung pak bayan, Sego jagung ora doyan, Iwak pithik enake, Ketiban dingklik aduh mak'e
- Pak bayan tukang perintah, Sego jagung ora doyan, Senengane enak-enakan, Kerjone mung males-malesan, dst
Aku juga yakin ketika aku kecil dalam susuan dinyanyikan lagu itu. Buktinya setelah 52 tahun masih hapal syair dan tembangnya. Coba saja jika makna terdalam dari lagu itu aku pahami dengan benar, karakter juga akan melekat erat pada ingatan dan perbuatanku.
Sekarang, ketika ibu menyusui dan anak rewel dalam pelukannya apa yang disenansungkan? Atau barangkali asisten rumah tangga yang merawatnya. Sementara susu eksklusifnya digantikan dengan susu sapi atau susu kedelai. Entahlah.
Jadi barangkali wajar jika rasa cinta dan hormat anak pada ibu berkurang. Tak sedikit anak yang berani membantah perkataan ibunya. Setelah dewasa bahkan ibu yang telah merawat dan membesarkannya dijadikan asisten rumah tangga di rumah anak kesayangannya sendiri.
Bagaimana mungkin, peradaban yang katanya kian maju malah mengubah tradisi indah yang turun temurun diwariskan oleh ibu dari generasi ke generasi. Semoga kita mampu mencermati fenomena ini dan kembali menata keluarga kita.
Ropingi Surobledhek
