-->

Breaking

logo

Minggu, 07 Juli 2019

Transformasi Budaya Panji

Transformasi Budaya Panji


Cerita Kita - Penetapan naskah-naskah cerita Panji oleh UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) adalah sebuah pengakuan prestisius. Itu sekaligus mengandung konsekuensi bahwa keberadaan dan keterlindungan cerita-cerita Panji pada masa kini perlu mendapat perhatian ekstra.

Cerita Panji perlu dikenali kembali, dipelajari, dikaji, dan disebarkan ke semua anak bangsa sebagai pusaka budaya Nusantara yang mengandung banyak pelajaran moral dalam pendidikan karakter.

Cerita Panji yang berasal dari Jawa Timur dan menyebar ke berbagai daerah hingga mancanegara merupakan sastra klasik tingkat dunia. Meski beragam cerita Panji yang beredar, semangatnya sama. Yaitu, pengembaraan dan kemenangan sang pahlawan yang hidup dalam budaya Jawa Kuna, bukan budaya yang berasal dari India.

Arkeolog asal Jerman, Lydia Kieven, bahkan menyebut bahwa sastra Panji adalah salah satu contoh khas untuk kreativitas pada zaman Jawa Timur. Naskahnya atau versi lisannya diciptakan pada zaman itu dan tidak berdasar ada sastra India. Cerita Panji adalah bukti kreativitas budaya Jawa Timur.

Sesungguhnya cerita Panji tidak hanya bercerita mengenai kisah percintaan belaka. Cerita Panji memiliki nilai universal luar biasa, yaitu menjadi acuan kepahlawanan, penghargaan kemanusiaan, mengetengahkan etika pergaulan, dan diplomasi pergaulan. Hal itu terlihat dari sepak terjang Raden Inu atau Panji dalam kisah-kisahnya. Tokoh tersebut pada dasarnya selalu menjunjung nilai-nilai peradaban dan kemanusiaan.

Kisah Panji mewakili suatu mahakarya (masterpiece) kegeniusan kreatif manusia sebab digubah oleh para pujangga Jawa Kuna dengan tema dan lokasi cerita di tanah Jawa sendiri, tidak mendapat pengaruh asing, namun memengaruhi kebudayaan masyarakat Asia Tenggara secara luas.

Berangkat dari pijakan itulah Festival Panji digelar lagi, 9–20 Juli 2019. Kali ini bertajuk Festival Panji Nusantara dengan tema Transformasi Budaya Panji. Perhelatan itu berlangsung di enam kota, yaitu Kota Malang, Kab Blitar, Kab Tulungagung, Kab/Kota Kediri, serta berakhir di Pandaan-Pasuruan. Sebelum itu sudah digelar pra-acara di Museum Panji Tumpang dan seminar nasional di Universitas PGRI Adibuana (Unipa) Surabaya.

Budaya Panji –bukan sekadar cerita Panji– sebagaimana dikemukakan oleh Suryo W. Prawiroatmojo, fellowship Ashoka, adalah konsep kesadaran atas budaya kearifan lokal dengan nilai karakter Panji, yaitu kesederhanaan, percaya diri, kerakyatan, dan tidak lepas dari tujuan.

Istilah itu dianggap sebagai simbol untuk kearifan lokal secara umum. Budaya Panji adalah sinonim untuk kearifan lokal semua budaya masyarakat lokal Jawa maupun daerah-daerah lain yang sering dimarginalisasi.

Cerita Panji sudah menjadi sebuah budaya, kata sejarawan Australia Adrian Vickers, karena ada bentuk-bentuk seni lain (pertunjukan, patung, lukisan) yang juga sebagian dan fenomena yang lebih besar.

Makna kata ’’budaya’’ juga bermaksud mengandung sifat ’’etos’’ atau pandangan hidup yang boleh dilihat melalui cerita Panji. Budaya tidak hanya secara sempit dimaknai sebagai sebuah etnis.

Dalam perkembangannya, arkeolog M. Dwi Cahyono menyebut bahwa budaya Panji mengalami transformasi (trans dan form) yang dimaknai sebagai pengalihan dalam hal bentuk, bahasa, waktu, area, lintas generasi, dan sebagainya. Transformasi adalah juga melakukan revitalisasi untuk menggali nilai-nilai Panji yang relevan untuk masa kini dan masa datang.

Maka, dalam Festival Panji Nusantara 2019 inilah dicoba untuk menghadirkan budaya Panji dalam gelombang transformasi tersebut. Sejumlah karya yang dihadirkan, baik visual maupun pertunjukan, ada yang masih mengedepankan wajah tradisi namun sejumlah tampilan lainnya betul-betul kontemporer.

Sebutlah koreografer Jogjakarta, Miroto, yang garapannya milenial-kontemporer. Demikian pula Kembul Nuryanto dari Surakarta dengan karya kontemporer namun akar tradisinya masih terasa.

Sementara itu, Wayan Sudia dari Bali menghadirkan karya yang klasik. Sanggar Jaka Baru dari Jawa Barat menyajikan pertunjukan tradisional wayang cepak yang berkolaborasi dengan tari topeng Indramayu. Dan ternyata, pengaruh topeng Cirebon juga muncul dalam tarian klasik sebagaimana yang disajikan oleh tim dari Kalimantan Timur.

Lain lagi dengan karya Ida El Bahra dari Sulawesi Selatan menyajikan garapan cerita lokal yang memiliki motif Panji. Ada pola-pola petualangan, penyamaran, percintaan, konflik, lalu happy ending.

Selain penampilan enam provinsi di luar Jawa Timur tersebut, sejumlah pertunjukan dari Jawa Timur sendiri juga beragam. Seni pertunjukan klasik diwakili oleh pergelaran wayang gedhog alias wayang Panji dari Kediri, reog kendang Tulungagung, juga jaranan.

Sedangkan garapan transformasi dilakukan oleh Teater Tombo Ati dari Jombang yang mementaskan Teater Panji Angreni dengan pendekatan semikontemporer.

Hal ini berbeda dengan Teater Komunitas dari Malang yang sepenuhnya menyajikan pertunjukan kontemporer dengan spirit Panji. Bentuk yang lain adalah bagaimana melakukan transformasi wayang thengul (wayang boneka) menjadi seni pertunjukan tari. Itulah yang dilakukan oleh seniman dari Bojonegoro.

Transformasi juga muncul dalam pelibatan pelaku seni pertunjukan. Hal ini ditunjukkan dengan tampilnya seni pertunjukan anak-anak sekolah yang tergabung dalam Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) dari Ponorogo dan Kota Malang. Juga pelibatan anak-anak dalam lomba mewarnai dan melukis, Belajar Sejarah, serta kunjungan ke Museum Panji dan Museum Ganesya di Malang.

Bukan hanya seni pertunjukan. Dalam pameran yang dihadirkan di Kota Malang beragam karya visual yang transformatif. Ini bukan sekadar pameran seni rupa, melainkan pameran Budaya Visual Panji. Ada wayang beber klasik dan kontemporer, beragam topeng dan kostum pertunjukannya, replika relief Panji, seni instalasi, video art, dan juga seni keramik.

Dalam hal penyelenggaraan, festival kali ini juga merupakan ajang transformasi dari penyelenggara pemerintah kemudian melibatkan komunitas pelaku budaya Panji.

Transformasi sesungguhnya bukan hal yang asing dan mengada-ada, karena sesungguhnya budaya Panji itu sendiri adalah transformatif. Begitulah. 

Henri Nurcahyo, ketua Tim Kurator Festival Panji Nusantara 2019