-->

Breaking

logo

Minggu, 30 Juni 2019

Mengungkap Jejak Sejarah Prasasti 'Kutukan' Kerajaan Sriwijaya

Mengungkap Jejak Sejarah Prasasti 'Kutukan' Kerajaan Sriwijaya



Penemuan Prasasti Baturaja mengungkapkan bahwa Kerajaan Sriwijaya demokratis dan cakap dalam hal bermusyawarah serta bermufakat. Terbukti pihak kerajaan dapat merangkul para pemberontak dan mampu bertahan hingga abad ke-14 Masehi.  

Cerita Kita - Balai Arkeologi Sumatera Selatan kembali berhasil mengungkap isi dari prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti yang dinamai Baturaja tersebut ditemukan sekitar akhir tahun 2018 lalu di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.


Peneliti Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Wahyu Rizky Andhifani, mengatakan dari hasil identifikasi, Prasasti Baturaja memuat kutukan di zaman Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini melengkapi tujuh prasasti 'kutukan' yang sudah ada sebelumnya.

"Sebagian besar prasasti zaman Sriwijaya yang berisi kutukan ditempatkan di daerah ekonomi strategis. Tujuannya untuk membuat masyarakat patuh terhadap kehidupan raja. Prasasti itu ditemukan di salah satu kolektor," katanya.

Wahyu mengatakan prasasti ini merupakan sebuah patahan, bagian atas dan bawahnya sudah tidak ada lagi. Kemungkinan bentuknya mirip dengan Prasasti Kota Kapur. Tinggi prasasti 24 cm, lebar bagian atas 26 cm, dan lebar bagian bawah 20 cm. Sejauh ini, belum diketahui pasti asal prasasti tersebut. Namun, kemungkinan prasasti yang terbuat dari batu pasir ini berasal dari Sungai Komering.

"Prasasti itu menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa melayu kuno. Apabila dilihat dari tulisan tersebut kemungkinan prasasti ini ditulis pada abad ke-7 Masehi," katanya.

Dia menjelaskan, prasasti itu bertuliskan mengenai kutukan kepada pemberontak. Isinya mengenai pengkhianatan. Dalam prasasti itu, Sriwijaya pun sempat bermusyawarah kepada para pemberontak. Yakni mengajak pemberontak untuk patuh kepada kerajaan dan akan dihadiahi status 'datuk' di wilayah itu.

"Namun sebaliknya, kalau tidak mau patuh, para pemberontak akan mendapatkan kutukan, di mana orang tersebut akan menjadi sakit atau hilang kepintaran," kata Wahyu.

Menurutnya, jika Prasasti Baturaja lebih dulu ditulis dibanding Prasasti Kedukan Bukit, maka kemungkinan pemberontakan tersebut terjadi sebelum perjalanan Dapunta Hyang, pendiri Sriwijaya, bertolak dari Minanga menuju ke Mukha Upang. 

Diketahui, Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan. Namun sebaliknya, pemberontakan terjadi setelah Dapunta Hyang tiba di Mukha Upang dan akhirnya kembali ke Minanga. 

“Segala kemungkinan bisa terjadi pada masa itu,” katanya.

Dengan berhasil diungkapnya prasasti ini, kata Wahyu, menambah tujuh prasasti 'kutukan' yang sudah ditemukan sebelumnya. Yakni Prasasti Karang Berahi, Telaga Batu, Kota Kapur, Boom Baru, Bukit Seguntang, Palas Pasemah, dan Bungkuk. 

"Tujuh prasasti 'kutukan' diberikan pada pemberontak, adapun Prasasti Telaga Batu khusus ditujukan pada birokrasi pemerintahan," katanya.

Di sisi lain, dari Prasasti Baturaja dapat diketahui Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang demokratis dan cakap dalam hal bermusyawarah dan bermufakat. Hal ini terbukti mereka dapat merangkul para pemberontak dan akhirnya mampu bertahan hingga abad ke-14 Masehi.  

Sementara itu, Peneliti Balai Arkeologi Sumsel, Retno Purwanti, mengatakan sekitar 90 persen prasasti  di zaman kerajaan Sriwijaya berisikan mengenai kutukan raja. Tujuannya agar masyarakat tunduk pada kerajaan. 

Keberadaan artefak, termasuk prasasti zaman Sriwijaya kebanyakan berasal dari tepi sungai. Hal ini menandakan, memang Sriwijaya merupakan kerajaan yang kuat dari sisi kemaritimannya.

"Prasasti ini terletak di lokasi yang memiliki komoditas strategis seperti emas, damar, rotan, atau komoditas beraroma yang saat itu sangat berharga," katanya. (Kumparan)