-->

Breaking

logo

Kamis, 06 Desember 2018

Ndaru dan Wahyu Keprabon

Ndaru dan Wahyu Keprabon


Cerita Kita - Ndaru merupakan simbolisme masyarakat Jawa terhadap sesuatu yang indah, bercahaya, menerangi dunia. nDaru dapat saja berupa bulan purnama, atau juga cahaya memancar yang turun dari langit. Namun yang jelas bagi orang yang ketiban nDaru, akan sangat berbahagia. Bagi orang yang sedang mengalami rasa senang yang luar biasa, terkadang lalu disebut sebagai 'koyo ketiban nDaru', maksudnya orang tersebut seperti sedang kejatuhan nDaru.

Namun bagi seorang yang memiliki jiwa pemimpin, atau sedang berusaha menjadi peimimpin, maka orang yang 'ketiban nDaru' sering diartikan sebagai menerima 'wahyu keprabon'.  'Wahyu keprabon' sering diartikan sebagai bentuk kepercayaan untuk menjadi pemimpin besar. Tentu saja cerita tentang 'nDaru' dan 'Wahyu Keprabon' ini diasumsikan turun dari langit.

Dalam dunia nyata, biasanya orang yang akan ketiban ndaru dan memperoleh Wahyu Keprabon ini, sering menjalani 'tapa brata'. Menjalani laku untuk menjadi orang yang bijaksana. Tanpa laku tapa brata, sulit orang untuk mendapatkan rejeki 'ketiban nDaru' dan 'Wahyu Keprabon'.

Namun hal itu kemudian dapat menjadi suatu jebakan batman bagi nDaru dan Wahyu Keprabon.  Untuk dapat memperoleh nDaru dan Wahyu Keprabon, lalu orang dapat melakukan rekayasa. Melaksanakan laku supaya dapat ketiban nDaru dan Wahyu Keprabon, dapat dilakukan sebagai rekayasa. nDaru dan Wahyu Keprabon dapat saja, masuk perangkap rekayasa yang dilakukan oleh manusia.

Namun ada satu hal yang menjadi syarat jika nDaru dan Wahyu Keprabon ingin tetap bertahan. Manusia yang ketiban ndaru dan Wahyu Keprabon harus dapat bersikap Berbudi Bowo Laksono. 

Tidak boleh bertindak Adigang, Adigung, Adiguno. Sopo Siro Sopo Ingsun.  Jika sudah mendapatkan nDaru dan Wahyu Keprabon, namun justru melakukan langkah langkah yang tidak terpuji, bicara asal saja, layaknya bukan pemimpin bangsa, maka dikhawatirkan, si nDaru akan kegerahan dalam raganya. Lalu si nDaru mengajak Wahyu Keprabon untuk loncat dari badan yang mengurungnya, untuk mencari pemimpin lainnya.

Dalam pemikiran modern itu disebut demokrasi. Perubahan kepemimpinan melalui proses pemilihan, bukan penunjukkan. Namun substansinya mirip. nDaru dan Wahyu Keprabon dapat dilihat dari indikasi memancarnya sinar dari langit atau udara.

MJK Riau