-->

Breaking

logo

Senin, 26 Februari 2018

Cara Orang Jawa Kuno Ungkapkan Cinta

Cara Orang Jawa Kuno Ungkapkan Cinta


Cerita Kita - Perasaan cinta sangatlah penting untuk diungkapkan agar orang yang dicintai mengetahuinya. Jika orang yang dicintai itu posisinya dekat dengan kita, tentu kita bisa ungkapkan secara langsung. Namun bagaimana jika berjauhan?.

Tentu di zaman sekarang persoalan jarak bukanlah masalah, sebab bisa disampaikan melalui surat yang ditulis dalam surat, chat melalui fasilitas media sosial atau sambungan telepon dan lain-lain. Lalu bagaimana cara masyarakat zaman dahulu mengungkapkan cinta kepada yang dikehendakinya, sedangkan kala itu tidak ada kertas dan tekhnologi?.

Sebagaimana dilansir historia.id, ternyata di zaman jawa kuno sekitar abad 12 masehi, jarak juga tidak menjadi persoalan untuk mengungkaokan rasa cinta.

Kala itu, jika seseorang jatuh hati kepada orang yang posisinya jauh biasanya mereka menggunakan daun dari pohon mirip nanas yang biasa disebut pundak atau ketaki, tapi biasa juga disebut ketaka dan cindaga.

Pohonnya itu seperti pohon pandan yang banyak tumbuh di sepanjang pantai atau sungai, di atas batu-batu karang yang muncul ke atas, hampir menyentuh permukaan air.

Bunga pundak memiliki warna kuning dan terbungkus semacam bungkus lonjong yang pada satu ujung meruncing. Bunganya akan terlihat jika pelepah itu mekar. 

Media yang dijadikan sebagai alat tulis untuk berkirim surat dari pundak itu adalah daun bunga pudak yang panjang dan putih.

Kalimat cinta yang ingin disampaikan kepada yang dikehendaki itu ditulis di daun pundak dengan menggunakan benda tajam. Misalnya, sebatang tusuk gading atau biasa disebut sadak. Alat ini sering menjadi hiasan rambut para perempuan. Selain sadak, duri pohon pandan juga bisa dipakai untuk menulis.

Karena pundak mudah layu dan warnanya cepat berubah menjadi hitam, maka bunga ini digunakan hanya untuk surat cinta dalam bentuk kakawin singkat dan yang panjangnya tak lebih banyak dari beberapa bait saja atau menggambarkan wajah sang kekasih yang sedang dirindukan.

Mungkin kala itu siapa saja yang membawa pundak, diidentikan sebagai orang yang tengah dilanda asmara. Bahkan dalam berbagai karya sastra Jawa Kuno, pundak sering diumpamakan betis seorang wanita bila kainnya terbuka sedikit.

"Bila kau menjelma menjadi bunga pudak, aku akan merupakan tulisan di atas daunnya". Demikian sebuah ungkapan menarik dalam kakawin Sumanasantaka abad 13 karya Mpu Monaguna, dalam menggambarkan pundak yang diidentikan dengan nuansa asmara.