Sosok itu bagai terbang menaiki tangga rumah Bunga. Namun begitu berada di depan pintu rumah Bunga yang hancur berantakan, Ia bagaikan dipaku ke dasere. Sejurus ia tegak bergeming bagai dicengkau suatu pesona. Namun setelah tersadar orang ini segera menghambur masuk ke dalam. Tapi begitu mendapatkan sosok orang yang menggeletak di lantai, langkahnya terhenti tiba-tiba.
"Celaka-celaka...., Ibu Bunga ketewasan". Bisik orang ini dengan bibir bergetar. Wajahnya pucat.
Ia melihat beberapa luka di tubuh Ibu Bunga. Dengan gemetar tangannya bergerak memeriksa luka-luka itu, sekaligus memeriksa denyut nadi Ibu Bunga. Berkali-kali Ia memeriksa nadi Ibu Bunga, tetapi ia sama sekali tidak mendapatkan lagi tanda-tanda kehidupan.
"Dia sudah tiada. Batara Rihatanku musibah apa yang menimpa mereka". Gumamnya perlahan. Tiba-tiba saja Ia tersentak.
"Bunga....Bunga....di mana dia". Orang ini segera berdiri, matanya menyusuri seluruh rumah yang tidak seberapa besar itu. Matanya tertuju pada pintu kamar yang terbuka. Dengan langkah panjang-panjang Ia menuju ke kamar itu. Begitu pandangannya tertumbuk pada sesosok tubuh di atas ranjang, tanpa sadar Ia memekik.
"Bunga...!!". Orang ini segera melompat mendekati Bunga. Ia tidak melihat luka di tubuh Bunga, tapi saat itu tubuh Bunga nyaris telanjang. Yang lebih membuat orang ini mendelik kaget saat menyaksikan darah mengalir di selangkangan Bunga. Orang ini segera memeriksa denyut nadi Bunga.
"Masih hidup". Ucapnya lirih. Ia menyambar kain sarung yang tergelatak di tempat itu, menutupi tubuh Bunga yang nyaris telanjang lalu buru-buru memondongnya ke luar. Ia berlari menuju tangga dan tepat pada saat itulah seekor kuda yang berlari dengan kecepatan tinggi berbelok masuk ke rumah Bunga.
Seorang lelaki melompat dari atas kuda. Orang yang memondong Bunga seketika menghentikan langkahnya. Sementara lelaki yang baru datang menatap lekat-lekat ke arahnya.
"La Tahang....".Ucap orang yang memondong Bunga.
"Daeng Ranrang....". Timpal, orang yang baru datang yang tidak lain adalah La Tahang adanya. La Tahang memperhatikan orang yang dibopong oleh Ranrang. Matanya tampak berkilat-kilat marah.
"Daeng Ranrang, perbuatan jahat apa yang telah kau lakukan". Teriak La Tahang dengan gusar.
"La Tahang, saya mohon jangan salah paham, aku juga tidak tahu apa yang terjadi tapi saat ini yang paling penting kita menyelamatkan nyawa Bunga dan nyawa calon anakmu".
"Menyelamatkan nyawa Bunga ?, nyawa anakku ?. Anak yang mana ?".
"Sudahlah....ayo cepat bawa Bunga ke nenek Minasa"
"Tidak...tidak ada yang bisa meninggalkan tempat ini". Sahut La Tahang, suaranya seperti teriakan. Tangannya terkepal menggantung di kedua sisi tubuhnya. Matanya menyala-nyala menatap Ranrang. "Letakkan kembali Bunga di tempat di mana engkau mengambilnya"
"La Tahang...sekarang bukan saatnya saya berbantah denganmu, ambil istrimu bawa ke atas, sekaligus kau lihatlah apa yang terjadi atas Ibu Bunga, mertuamu. Sekarang saya akan mencari Nenek Minasa. Semoga Bunga baik-baik saja, nanti kau bisa minta penjelasan padanya mengenai apa yang terjadi ".
Tanpa menghiraukan La Tahang, Ranrang bergerak maju ke depan kemudian mengangsurkan tubuh Bunga ke La Tahang. Mau tidak mau La Tahang menerima sosok Bunga lalu memondongnya. Sesaat Ia memperhatikan wajah Bunga yang pucat, kemudian beralih ke arah bagian bawah tubuhnya, dilihatnya darah mengalir semakin banyak. Melihat itu, meski rasa gusar masih memukul-mukul dadanya, tak ayal Ia pun tercekat. Buru-buru La Tahang memondong tubuh Bunga lalu bergegas naik ke atas rumahnya.
Begitu Ranrang menyerahkan tubuh Bunga ke La Tahang. Ia pun segera hendak berlalu dari tempat itu, namun dari arah depan Tompo datang berlari dengan terengah-engah. Belum sempat Tompo berkata. Ranrang sudah mendahului bicara.
"Tompo cepat engkau ke tempat meronda, pukul kentungan tanda bahaya. Kau juga bawa beberapa orang ke sini. Aku sendiri akan menjemput nenek Minasa".
"Tunggu... daeng...., ah...tu...tunggu dulu ada apa...?". Timpal Tompo dengan terbata-bata. Dadanya terlihat kembang kempis, sementara nafasnya masih mengap-mengap.
"Sudahlah tidak usah banyak tanya, ini ketewasan...., cepat lakukan saja apa yang saya katakan". Sahut Ranrang sambil melangkah meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari. Tapi baru beberapa langkah Ia menghentikan langkahnya.
"Lebih baik aku naik kuda itu supaya aku bisa menjemput Nenek Minasa lebih cepat".
Sementara itu begitu La Tahang sampai di atas rumahnya dan menyaksikan Ibu Bunga, mertuanya terbaring bersimbah darah, Ia berseru tertahan. Buru-buru Ia memondong Bunga ke dalam kamarnya dan meletakkan di atas pembaringan. Selanjutnya Ia berbalik keluar memeriksa tubuh ibu Bunga. Namun tubuh Ibu Bunga yang bersimbah darah sudah kaku dan dingin. La Tahang duduk terhenyak. Mukanya menjadi pucat pasi, tubuhnya gemetar dan bibirnya bergetar. Ia betul-betul terkesiap menyaksikan apa yang sekarang terjadi di depan matanya. Sumber
