-->

Breaking

logo

Kamis, 09 November 2017

Siapa Sebenarnya Sosok Nyi Roro Kidul

Siapa Sebenarnya Sosok Nyi Roro Kidul

Ilustrasi Nyai Roro kidul karya Gunawan Kartapranata
Fenomena mitos seputar Nyai Roro Kidul di tanah Jawa selalu menarik untuk dibahas. Sosok mistis yang digambarkan sebagai ratu ini diyakini oleh sebagian masyarakat masih berada dan menguasai wilayah pantai selatan (samudera Hindia) pulau Jawa.

Saking dianggap sebagai sosok mistis, masih banyak orang yang melakukan ritual untuk menunjukkan penghormatan kepada sang ratu. Namun di era modern dan digital saat ini, pembenaran tentang adanya sosok Nyai Roro Kidul sangat bertentangan logika kemajuan zaman. Apapun cerita dibalik seputar Nyai Roro Kidul, kita patut mengapresiasikannya sebagai bagian dari kearifan lokal, tanpa membenturkannya dengan logika sehat beragama.

Siapa gerangan Nyai Roro Kidul sebenarnya? ada beberapa versi cerita soal sosok fenomena mistis ini. Namun kali ini kami akan mengupasnya berdasarkan ulasan sejarawan asing, agar lepas dari subjektifitas yang hanya berdasarkan cerita rakyat dari mulut ke mulut.

Seperti dilansir dari historia.id (09/05/2015), Robert Wessing dalam “A Princess from Sunda: Some Aspects of Nyai Roro Kidul,” Asian Folklore Studies Vol. 56 tahun 1997, menjelaskan bahwa Nyai Roro kidul adalah sosok putri dari kerajaan Galuh pada abad ke-13. Ada pula yang menyebut, sosok Ratu Kidul adalah keturunan penguasa Padjajaran. Kemudian lagi ada yang menyatakan bahwa Ratu Kidul masih keturunan Raja Airlangga dari Kahuripan.

Diceritakan bahwa Ratu Ayu dari kerajaan Galuh melahirkan seorang anak perempuan. Saat itu terjadi keanehan dan membuat gempar seisi kerajaan setelah bayi perempuan itu lahir. Pasalnya, dikisahkan bayi perempuan itu tiba-tiba bisa berbicara dan mengaku sebagai penguasa semua lelembut (makhluk halus) di tanah Jawa dan akan mendiami pantai selatan.

Saat bersamaan pula, roh Raja Shindula dari kerajaan Galuh pun muncul dan bersabda, bahwa cucunya yang baru saja lahir tak kan bersuami untuk menjaga kesucian dirinya, dan kelak hanya akan menikah dengan raja-raja Islam di pulau Jawa.

Dalam cerita selanjutnya, ratu pantai selatan ini menunggu calon suaminya hingga dua abad lamanya. Kerajaan Mataram Islam kala itu yang diperintah oleh Panembahan Senopati (1585-1601), pergi ke pantai selatan untuk bersemedi dan memohon petunjuk untuk memenangkan peperangan melawan pasukan sultan Pajang di Prambanan. Konon karena kekhusyukannya dalam berdoa, membuat lautan pantai selatan bergejolak. Istana Nyai Roro Kidul yang berada didasar lautan, menjadi hancur karena kekuatan doa sang Senopati.

Ratu Kidul yang terkejut, muncul ke permukaan bersama para pengawalnya. Ia takjub dan tertegun melihat seorang pemuda tampan nan gagah tengah khusyuk bersemedi. Ratu Kidul langsung jatuh hati dengan pemuda ini, dan bersimpuh di kakinya. Dikisahkan setelah mereka memadu kasih selama tiga hari tiga malam di istana bawah laut selatan, Nyai Roro Kidul berjanji akan membantu Panembahan Senopati untuk memenangkan peperangan.

Akhirnya Panembahan Senopati bergegas menuju medan peperangan di palagan, Prambanan, dengan dibantu pasukan ghaib Nyai Roro Kidul. Dalam peperangan itu, Panembahan Senopati memenangkan pertempuran dengan gemilang.

Dalam perkembangan selanjutnya kisah percintaan Nyai Roro Kidul dan Panembahan Senopati ini diabadikan dalam sebuah tarian Bedhaya, diciptakan oleh sang cucu Panembahan bernama Sultan Agung yang memerintah kerajaan Mataram Islam antara tahun 1613 hingga 1646.

Hingga saat ini keberadaan Nyai Roro Kidul masih dikaitkan dengan beberapa ritual budaya seperti saat penobatan raja baru pada Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.

Percaya atau tidak soal Nyai Roro kidul ini, semua kembali pada nalar kita sebagai insan beragama.