-->

Breaking

logo

Selasa, 21 November 2017

Cerita Cintanya Akhwat

Cerita Cintanya Akhwat


Sinar mentari terpancar di kamarku, melalui jendela yang terbuka, silaunya mengenai mataku 

“Astagfirullah aku kesiangan, kenapa aku tak mendengar bunyi alarmku,duh aku belum sholat subuh lagi,”

Segera mengambil wudlu lalu sholat. Buru-buru mandi kemudian berangkat sekolah. Dika anak tampan, jenius, tajir idaman semua kaum hawa. Aku salah satu nya,tapi aku tak seperti penggemarnya pada umumnya. Sikapku yang tak peduli tentang gosipnya, bahkan yang tak pernah menyapanya,kurasa dia juga tak mengenalku,

Saat itu  aku tak sengaja menabraknya dan menjatuhkan buku-bukunya. Kami sama-sama suka membaca,bahkan tak ada waktu tanpa kami gunakan untuk membaca. Hinga salah satu buku yang kami punya tertukar. Dan aku baru menyadarinya ketika kami sama-sama telah lulus. Bahkan sampai sekarangpun aku tak mengetahui dimana keberadaanya,

Udah hampir 100 kali aku membaca novelnya yang tertukar dengan punyaku. Aku baru sadar bahwa penulis novel ini adalah ia sendiri. Novel yg menceritakan tentang rasa yg dimiliki seorang ihwan terhadap seorang akhwat, sekilas mengingatkanku tentang kisahku padanya,hanya bedanya ahwat itulah yang punya rasa terhadap ihwan itu. Bagaimana bisa ada seorang manusia yang tak merasakan cinta. Padahal itu adalah kodrat setiap umat manusia.

Lalu apa kabar dengan novelku, apakah ia menyadari bahwa novelku terbawa padanya,entahlah mungkin novel itu juga sudah hilang. Tapi satu hal yg membuatku khawatir bagaimana bila dia membaca novelku dan menemukan puisiku di dalamnya yang mengungkapkan perasaan ku padanya. Entahlah hanya sekedar menebaknya saja. Lagian mana mungkin dia membaca novel yang bukan miliknya,huuh semua ini membuatku bingung,

Sudah 1 semester aku kuliah disini tapi yang tampak hanya wajah-wajah asing yang tak kukenal. Kecuali putri sahabat karibku di sma maupun di kampus ini,

“Hay asyifa ngapain bengong disini¿”, sapanya padaku dan mengajakku masuk kelas , sambil menarik ku menuju kelas kami,

Kagetnya aku saat melihat wajah yg tak asing lagi bagiku. Dika itukah dia, kalo dia kuliah disini mengapa baru sekarang aku bertemu dengan nya. huuh mungkin aku hanya  menghayal atau salah lihat saja, karena keseringan memikirkannya kali yaa. Yaa robb, maafkan hambamu, bukan maksud hamba mezinai fikiran hamba untuk hambamu itu,tapi entah mengapa jikalau ingin melupakan nya malah rasa itu semakin menggebu dibenakku.

“Udah yuuuk masuk sepertinya dosen nya udah hadir di kelas kita”,
“Iya, mari,”mengiyakannya dan berjalan menuju kelas,

“Benarkan! dosennya sudah berada di kelas,”

“permisi pak!,maaf kami terlambat,”

“Iya pelajaran nya juga belom saya mulai, silahkan duduk”,

“makasih pak,”menjawabnya dengan senyum,

“Put ana boleh Tanya tidak¿”

“Kenapa ngak boleh silahkan aja, emang nya mau nanyain apa sih fa¿”

“Anti tau kan temen kita sma dulu yg namanya dika, iya aku inget”

“Dika yg slalu jadi idaman wanita di sekolah kita kan, kenapa dengan dia¿”

“Tadi aku seperti melihatnya di kampus ini, iya memang dia ngelanjutin sekolahnya di kampus ini,”
“Yang bener anti gak bercanda,” 

“Iyha dia sekolah disini, ngapain juga fa aku bercanda,”

“Tapi kenapa ya ana gak pernah bertemu dengan antum dika,¿”

“Ya iyalah orang setelah beel kamu langsung bergesas pulang ke rumah kan!”

“Iyha sih put,tapi waktu istirahat,atau jam kosong,ana juga gak pernah tu bertemu dengan antum dika,”

“Ya mungkin allah belum meridhoi pertemuanmu dengannya!, kenapa fa kamu nanyain tentang dia mulu¿”,

“Wah jangan 2 sahabatku ini menaruh hati diam-diam dengan dika yaa,”

“Apaan sih anti put, ngak usah ngejek gitu donk,orang Cuma nanya doank kog,”

“Ya udah dech kalo gitu aku pulang duluan ya assalamu`alaikum”

“Wa’alaikum salam”,

5 menit sesudah putri mmeninggalkanku,terdengar suara di sampingku,

“Anti lagi nunggu angkot lewat¿”

Seperti pernah mendengarnya sebelumnya,suara yang sudah tak asing lagi di telingaku ,

“Iyha maaf antum siapa yaa¿” menjawab nya tanpa menatap wajahnya,

“Ana dika teman anti di sma dulu, apa anti masih ingat,¿”

“Iiya ana masih ingat antum,” menjawab nya dengan nada gugup,

Ya allah gimana ini hamba malu, bagaimana bila antum dika telah membaca puisiku yang kuselipkan di dengah novelku itu,terdiam sejenak tanpa mengucap sepatah katapun,

”Kenapa dengan anti asyifa”,

Apa antum dika mengetahui namaku! kaget memang mendengarnya menyapaku setelah sekian lama bersama kami baru dapat berbincang seperti ini,kukira atum tak mengenalku,bahkan dulu menyapaku pun tak pernah,

“Ana hanya ingin mengembalikan novel anti yang tertukar dengan ana dulu,maafkan ana anti,ana baru mengembalikannya sekarang,”

“Iyha makasih,gak papa kog antum,”

“Oh ya tunggu antum ini novel antum,”

“Maaf  ana telah membacanya tanpa seizin antum,”

“Iyha ngak papa anti,ana juga udah membaca novel anti,dan ana juga minta maaf karna ana tidak sengaja membaca puisi yang anti buat,”

“Puisi yang menakjubkan anti,”

“Makasih antum ,”

“Kalo boleh ana Tanya antum membuat novel ini sendiri, Cerita yang sangat luar biasa,pujiku padanya,”

“Makasih anti bolehkan ana membacakan sesuatu untuk anti”

Ketika aku belum menjawabnya kemudian ia lalu mulai berkata,

Kupendam rasa ini 
Rasa suci yang tak menodai
Kukekang kututup bibir ini
Menunggu talisuci menghampiri

Rasa ini kehendak ilahi 
Datang tanpa kusadari
Mata yang tak sanggup melihat
Serta pikiran yang meluap

Hamba percaya itu Tuhan
Jika ia jodoh yang tepat
Ia akan datang mengajakku
Berlabuh di pelabuhan nya
Seindah namamu dika
Pengisi ruang, hati dan pikiranku

Apa! antum dika hafal dengan pisiku,membuyarkan lamunku dan bekata,

“Apakah benar puisi ini ditujukan untuk ana anti¿”
“Maaf  kan ana antum,” tanpa menjawab nya lalu pergi menghindar,
“Tunggu anti,” memegang tanganku,dan Astagfirullah, “maafkan ana anti,”
“Iyha antum maafkan ana juga,karena ana tidak bermaksud menulis puisi itu,”
“Tidak papa anti,” 
“Ana membuat novel ini juga karna anti”
“Karena antilah sumber inspirasi dalam novel ini”
“Novel yang kutulis dengan semua kisah kita,novel yang kutuangkan dengan segala rasa dan harapan menjadi saksi rasa yang ku miliki,”

Dan novel ini aku buat untuk kupersembahkan padamu anti,agar anti selalu mengigat masa kita saat anti membaca ini,bawalah novel ini anti dan simpanlah sebagai kisah yang selalu kita kenang,”

“Dan ana percaya cinta sejati ana itu adalah anti ,”

“Karena allah telah mempertemukkan kita kembali,sebenarnya ana sudah memiliki rasa ini selama kita masih bersama duduk di bangku sma dulu,”

UHIBUKKUM FILLAH ANTI ASYIFAH”,asyifah yang berati obat hati dan saat ini menjadi obat di hati ana,

WA’IYAAKI ANTUM,”        

THE END    

Karya Sri Nuraini