-->

Breaking

logo

Jumat, 07 Agustus 2020

Mengenal Meriam Ki Amuk, Alat Perang Warisan Kerajaan Banten

Mengenal Meriam Ki Amuk, Alat Perang Warisan Kerajaan Banten

Meriam Ki Amuk sekitar tahun 1920 an © Wikipedia 

Cerita Kita - Peninggalan sejarah di Indonesia memang punya keunikan tersendiri. Tak hanya bentuknya saja yang unik, tapi juga sarat akan nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai ini tersirat dalam sebuah simbol masih melekat pada peninggalan tersebut.

Salah satu peninggalan yang membawa pesan kuat adalah Meriam Ki Amuk. Alat perang berupa meriam peninggalan pemerintahan Kerajaan Banten ini memiliki nilai sejarah yang sangat kuat.

Meriam raksasa itu memiliki ukuran panjang 341 cm, diameter bagian belakang 66 cm, diameter mulut atau moncong bagian luar 60 cm dan bagian dalam 32 cm. Dan, lebar bagian yang menonjol mencapai 1.15 m.

Saat ini, Meriam Ki Amuk tersimpan di Museum Kepurbakalaan Banten Lama, yang berlokasi di Jl. Raya Serang-Jakarta, Banten, Kecamatan Serang, Kota Serang, dekat Masjid Agung Banten dan Istana Surosowan.

Sejarah Meriam Ki Amuk

Ada beberapa versi tentang sejarah meriam dengan panjang lebih dari tiga meter itu. Versi pertama dari seorang peneliti Eropa K.C. Crucq dalam literaturnya yang berjudul “De Geschiedenis van het Heilig Kanon te Banten”.

Dalam keterangan, tertulis jika meriam Ki Amuk merupakan senjata yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Banten. Dan, tergambar dalam sebuah peta tentang perencanaan tata kota di Banten, yang dibuat menjelang abad ke-17.

Dalam literatur tersebut, tertulis “meriam besar t'Desperant” pada peta yang disimpan di perpustakaan Castello Firenze, Italia. Namun terdapat versi lain yang menyebutkan, meriam raksasa itu merupakan jelmaan dari prajurit Kesultanan Demak yang berubah secara misterius menjadi sebuah meriam.

Cerita Dibuatnya Meriam Ki Amuk

Catatan lain versi Mendes Pinto mengungkapkan saat terjadi perang antara Demak melawan Panarukan (Pasuruan). Dalam perang itu, terdapat sejumlah meriam yang dibuat dengan dicor, termasuk salah satu yang berukuran besar bernama leÕes sebesar meriam Ki Amuk.

Meriam-meriam tersebut dicor oleh pandai besi asal negara Turki dan beberapa dari Aceh yang dipimpin oleh seorang empu. Ia adalah seorang pembelot Portugis bernama Koja Zainal.

Dilansir dari laman Kemendikbud, Crucq kemudian berpendapat bahwa meriam yang di Banten itu kemungkinan dicor oleh Koja Zainal. Pengecoran dilakukan untuk kepentingan Sultan Demak karena memiliki kemiripan dengan meriam-meriam Portugis.

Pesan Kebaikan dalam Motif Ki Amuk

© Kemdikbud


Yang unik dari Meriam Ki Amuk adalah motif bahasa Arab yang terukir di badan meriam. Dalam motif itu, tersirat pesan kebaikan, berbeda dengan fungsi alatnya yang selalu disimbolkan sebagai senjata pemantik perang.

Jika dilihat secara seksama terdapat 3 ornamen di tubuh meriam tersebut. Ornamen pertama di bagian mulut meriam, yang kedua di bagian tengah atas dan yang ketiga di bagian belakang, dekat sumbu.

Secara makna, ketiga kalimat berbahasa Arab tersebut membawa pesan kebaikan tertentu. Pemaknaan ornamen ini, berdasarkan penelitian beberapa ahli seperti, L.C. Damais, Claude Guillot, Ludvic Kalus dan tentunya K.C. Crucq, sebagai tokoh yang intens dengan pendalaman meriam tua ini.

Ornamen pada Meriam

© Kemdikbud

Pada motif medalion pertama di bagian depan dekat mulut meriam, terdapat tulisan Arab sebanyak dua baris. Baris atas tertulis aqibah al-khairi sala, di bawahnya tertulis mah al-imani.

Jika kedua tulisan tersebut disambungkan akan terbaca kalimat aqibah al-khairi salamah al-iman yang artinya buah kebaikan adalah keselamatan iman. Kedua tulisan tersebut juga kembali muncul di medalion kedua, bagian tengah atas meriam.

Pesan pada Ornamen Ketiga

© Kemdikbud

Pada ornamen medalion ketiga di bagian belakang meriam, dekat sumbu, terdapat empat baris tulisan berhuruf Arab. Baris pertama terbaca la fata illa Ali la saifa illa, baris kedua terbaca zu al-faqar isbir ala, baris ketiga terbaca ahwaliha la mauta, dan baris keempat terbaca (illa) bi ajalin.

Jika keempat baris tersebut disambung maka akan terbaca la fata illa Ali la saifa illa zu al-faqar isbir ala ahwaliha la mauta (illa) bi ajalin, yang artinya tidak ada pemuda kecuali Ali, tidak ada pedang kecuali Zulfaqar, sabarlah atas huru-hara (cobaan peperangan), tidak ada kematian kecuali karena ajal. (Merdeka)