-->

Breaking

logo

Selasa, 28 Juli 2020

Kilas Sejarah Gedong Tinggi Palmerah dari Zaman Kolonial hingga Milenial

Kilas Sejarah Gedong Tinggi Palmerah dari Zaman Kolonial hingga Milenial

Gedong Tinggi Palmerah sekitar tahun 1930
Cerita Kita - Kedatangan Bangsa Belanda ke Nusantara pada tahun 1596 adalah awal dari serangkaian sejarah panjang perjuangan bangsa indonesia dalam mencapai persatuan dan kesatuan hingga menjadi sebuah bangsa yang merdeka, pada awalnya kedatangan bangsa belanda ke Nusantara adalah ingin mencari rempah-rempah dan memonopoli perdagangan, karena pada saat itu Nusantara terkenal sebagai salah satu penghasil rempah-rempah berkulaitas yang sangat di butuhkan di Eropa, keberhasilan Bangsa belanda melakukan perdagangan membuat mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut yang kemudian membentuk sebuah kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), seiring berjalannya waktu karena terpesona dengan keindahan alam geografis Nusantara dan kesuburan tanahnya membuat Bangsa Belanda ingin menguasai Nusantara seutuhnya, hal inilah yang menjadi awal dari kolonialisasi di Nusantara.

Pada saat kolonialisasi tersebut tentunya Bangsa Belanda memiliki beberapa bangunan yang saat ini menjadi peninggalan sejarah sebagai bukti atas kedudukannya di Nusantara, dan hebatnya bangunan-bangunan tersebut masih berdiri kokoh dari zaman kolonial hingga saat ini, mungkin yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat ibu kota dan sekitarnya adalah peninggalan bangunan bangunan di wilayah Jakarta Barat, yang saat ini menjadi Kawasan wisata Kota Tua.

Namun tahukah kalian bahwa di Jakarta barat tidak hanya kawasan Kota Tua yang memiliki peninggalan bangunan zaman kolonial, ada salah satu peninggalan bersejarah yang cukup luar biasa di palmerah Jakarta Barat, yaitu  Gedong Tinggi Palmerah yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi Kantor Polisi Sektor Metro Palmerah.

Gedong Tinggi Palmerah pada awalnya adalah milik Andries Hartsink seorang tuan tanah yang menguasai palmerah dan juga seorang petinggi VOC yang pernah menjadi Residen Pekalongan, Rembang, dan Surakarta, Bangunan tersebut di bangun sekitar tahun 1790-an oleh arsitek W.J. van de Velde dan menjadi bangunan tertingigi pada saat itu hingga diberi julukan sebagai Gedong Tinggi sedangakn nama Palmerah sendiri di ambil dari warna merah patok-patok tanah yang pada saat itu disebut pal sehingga disebut palmerah, bangunan itu digunakan Hartsink sebagai vila tempat untuk beristirahat setelah purna tugasnya.

Gedong Tinggi Palmerah Tahun 2020
Kala itu kawasan palmerah masih berupa hutan, jauh dari hiruk pikuk kota, kira kira dua jam berjalan kaki dari pusat Kota Batavia, bangunan tersebut berarsitektur Nederlandsche-indisch. Bertatahkan empat pilar dengan lekukan besi tempa yang menyangga atap terasnya. Tampak depannya menghadap arah matahari terbit. Perkarangannya luas, bangunan itu di desain menyesuiakan dengan iklim tropis, bangunan ini dibangun dalam dua lantai, lantai dasarnya bergaleri, bergaya atap tradisi jawa dan memiliki atap ganda yang meluas ke semua sisi. Lantai dasar berubin  dengan pola dekoratif, sementara lantai ruang atasnya dari kayu jati, boleh dikatakan inilah kearifan kolonial ( Mahandis Y. Thamrin/Natonal Geographic Indonesia).

Pada saat ini Gedong Tinggi Palmerah telah beralih fungsi menjadi Kantor Polisi Sektor Metro Palmerah, begitu pula pekarangan rumah yang dahulu ditumbuhi rerumputan dan perkebunan asri pedesaan, sekarang telah berubah menjadi sebuah perkampungan padat metropolitan, namun bangunan tersebut masih tetap berdiri kokoh dengan kondisinya yang sudah termakan usia sebagai saksi bisu tentang perjalanan panjang peradaban di wilayah palmerah dari zaman kolonian hingga zaman milenial.

Erik Apriliyanto