Cerita Kita - Ketika menginginkan hidup seperti orang lain yang terlihat bahagia, berkecukupan. Belum tentu tidak ada masalah dalam hidupnya. Barangkali karena dia menutupi dan tidak menampakkan kekurangan dalam hidupnya. Atau bahkan hidup yang kita jalani sebenarnya diinginkan oleh orang lain hanya saja kita tidak mengetahuinya. Kita meresahkan ingin hidup seperti orang lain, sedangkan orang lain meresahkan ingin hidup seperti kita. Coba kita bersyukur dengan hidup seadanya- bernas.id
Saya memiliki seorang rekan yang hidupnya luar biasa indah dimata lingkungan. Gadis cantik jelita, perawakan ramping memesona, orang tuanya kaya raya, tutur katanya menenangkan jiwa, wawasan luas seakan telah banyak berkarya, jika saya ada masalah selalu diberi solusi yang tepat guna, amboi sungguh kehadiran gadis itu diharapkan dimana mana. Sering sekali saya ingin hidup seperti dia, andai saja.
Suatu ketika saya menceritakan kehidupan saya kepadanya, " Aku ini gapunya apa apa, cantik enggak, keadaan ekonomi rendah, makan enak cuma seminggu sekali aja, mau beli ini itu masih harus kerja, iq juga masih segitu, sedangkan kamu bla bla bla bla ".
"Haha kalo ada orang yang lingkup pergaulannya mau aman, paling pas ya temenan sama kamu Nis. Meski wajahmu pas pasan, keadaan ekonomi non sultan, tapi kamu gak neko neko, terus kamu selalu jadi pejuang keras dimanapun yang nggak pernah bisa kutiru sampek detik ini. Beda sama aku, aku anaknya males. Kerja keras diawal aja eh di tengah jalan udah lemes , ditambah keadaan keluargaku yg kocar kacir dan bikin dirumah ga pernah tentram,sampek aku berujung ke psikiater. Wesala Nis awmu iku kudu bersyukur, meski awkmu crazy poor tapi awmu sik due orang tua sing harmonis disampingmu, awmu sik iso ngeraih cita2mu, awmu sik iso merasakan ketenangan di omah.. Aku ? Cek iso turu ae kudu mendengarkan musik khusus, cek iso turu ae kudu nyium lilin aroma terapi".
Pelajaran hidup : kalo lihat hidup orang lain indah itu gak mungkin di dapat dengan instan, pasti ada pengorbanan waktu tenaga perasaan pikiran yang besar, saya gak melarang siapapun untuk membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Membandingkan itu perlu, biar muncul rasa termotivasi "ah dia bisa, kenapa saya enggak". Tapi membandingkan juga wajib ditemani sama rasa syukur kita dengan kehidupan saat ini.
Salam,
Miftakhul M. Nisa'
