A: "Aku baru aja nentuin tanggal nikah sama calonku, 02-02-2022, cantik, yaaaaa..."
B: "Ih, kok bisyaaa. Bagus, deeh.."
Cerita Kita - Menentukan tanggal pernikahan menjadi salah satu bahasan menarik dua pasang kekasih yang akan menikah. Biasanya pihak keluarga akan turut ambil bagian menentukannya. Pasangan muda saat ini cenderung menginginkan tanggal cantik untuk pernikahannya seperti misalnya 02-02-2022 seperti contoh di atas. :)
Namun, tanggal cantik tersebut terkadang bukan menjadi hari baik untuk melangsungkan pernikahan menurut perhitungan atau kalender adat yang masih dianut sebagian orangtua yang memegang kepercayaan adat. Salah satu yang memiliki kepercayaan cocok-cocokan tanggal dan hari baik untuk melangsungkan pernikahan ini adalah masyarakat suku Sunda.
Suku Sunda memilii kalender yang bernama Kala Sunda. Di dalamnya setiap tanggal diberi kode Wage, Kaliwon, Manis, Pahing dan Pon berdasarkan urutannya. Diwawancarai Temali, Anggi Aldila dari Komunitas Aleut memaparkan, Kala Sunda biasanya dipakai untuk menentukan apakah seorang lelaki akan baik kehidupannya atau tidak apabila menikah dengan seorang perempuan. Kalender ini juga dipakai menentukan tanggal dan hari baik pernikahan.
“Kalau laki-laki dan perempuannya sama-sama lahir di hari Rabu Wage misalnya, berarti pernikahan mereka akan baik. Tapi perhitungan ini pun berbeda-beda caranya. Ada yang memakai kode babasan, atau kode yang nomor urutnya sangat berpengaruh," ujar Anggi.
Kode babasan adalah kode yang didasarkan dari tanggal lahir kedua orang. Kode babasan digunakan setelah hasil perhitungan dibagi 7 dan sisanya dicocokan dengan nomor urut pada kode ini, sehingga akan diketahui baik buruknya pasangan tersebut apabila bersama.
Kode huruf adalah kode yang didasarkan dari nama dan tempat tinggal. Kode huruf adalah ketika setiap huruf memiliki pasangan angkanya masing-masing dan kode hari dimana setiap hari kelahiran mempunyai pasangan angka masing-masing. "Cara perhitungannya adalah dengan mengkombinasikan ketiganya,” ujar Kang Anggi.
Latar belakang dari perilaku cocok-cocokan tanggal ini pun masih simpang siur asal dan usulnya. Ada informasi yang bilang, pertama kali dipakai oleh masyarakat Cirebon yang saat itu sudah beragama Islam tapi masih terpengaruh agama Buddha. Ada yang bilang memang sudah turun temurun alias dari leluhur.
“Tapi selain itu masyarakat Sunda pun banyak yang berpegang pada kalender Hijriah untuk penentuan tanggal dan bulan baik pernikahan, misalnya pada bulan Syawal,” lanjut Kang Anggi.
Saat ini, di tengah masyarakat masih ada yang memakai dan memegang teguh cocok-cocokan bilangan dan tanggalan ini. Tapi, ada juga sudah tidak terlalu memerhatikan dan lebih mempertimbangkan tanggal kosong serta harga sewa gedung untuk pernikahan. (Kumpaaran)
