-->

Breaking

logo

Kamis, 11 Juli 2019

Islam dalam Tradisi Masyarakat Jawa

Islam dalam Tradisi Masyarakat Jawa


Cerita Kita - Masyarakat Jawa sangat kental dengan masalah tradisi dan budaya. Masyarakat yang mayoritas beragama Islam sampai sekarang masih menerapkan tradisi dan budaya jawanya. 

Tetapi diantara banyaknya tradisi dan budaya terutama di Indonesia ada sebagian golongan menganggap bahwa tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Tradisi dan budaya Jawa sangatlah dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa terutama yang beraliran abangan. 

Tradisi dan budaya sendiri adalah keyakinan akan adanya roh-roh leluhur yang memiliki kekuatan ghaib, keyakinan adanya dewa dewi yang berkedudukan seperti tuhan, tradisi ziarah ke makam orang-orang tertentu, melakukan upacara-upacara ritual yang bertujuan untuk persembahan kepada tuhan atau meminta berkah serta terkabulnya permintaan tertentu. 

Nama-nama Jawa juga sangat akrab di telinga bangsa Indonesia, begitu pula jargon atau istilah-istilah Jawa. Hal ini membuktikan bahwa tradisi dan budaya Jawa cukup memberi warna dalam berbagai permasalahan bangsa dan negara di Indonesia. 

Di sisi lain, ternyata tradisi dan budaya Jawa tidak hanya memberikan warna dalam percaturan kenegaraan, tetapi juga berpengaruh dalam keyakinan dan praktek-praktek keagamaan. 

Masyarakat Jawa yang memiliki tradisi dan budaya yang banyak dipengaruhi ajaran dan kepercayaan Hindhu dan Buddha terus bertahan hingga sekarang(Marzuki, 2012:2).

 Namun, peran agama disini sangat penting antara lain sebagai pedoman hidup maupun sebagai tatanan sosial dalam masyarakat sehingga masyarakat mempunyai pola pikir yang sangat matang untuk menilai suatu tradisi ataupun budaya yang ada disuatu daerah.

Setiap tradisi dalam masyarakat Jawa memiliki arti dan makna filosofis yang mendalam dan luhur, yang mana tradisi ini sudah ada sejak dulu. Tradisi adalah kumpulan benda material dan gagasan yang diberi makna khusus dan berasal dari masa lalu. Di dalam tradisi Jawa tersebut khas dengan adanya sesaji yang dibuat berdasarkan kegunaan masing-masing yang mempunyai makna dan tujuan berbeda satu sama lain. 

Dalam adat istiadat masyarakat Jawa, sesaji atau biasa disebut dengan sajen adalah sajian yang berupa makanan, hewan atau buah-buahan yang dipersembahkan kepada arwah leluhur serta kekuatan gaib yang ada dalam upacara yang diselenggarakan. Agama Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain. 

Begitu juga dalam kepercayaan masyarakat Jawa terdapat kegiatan-kegiatan ritualistik seperti masyarakat pesisir dengan tradisi sedekah lautnya(Wardani, 2017:3).

Tradisi sedekah laut ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat yang notabene berprofesi sebagai nelayan terhadap kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil dari laut. Upacara tersebut melarungkan sesaji yaitu berupa suatu usungan rumah joglo yang beratap daun nipah berisi antara lain kepala sapi,dan bahan-bahan mentah.

 Selain itu, ada juga makanan kecil berupa aneka ragam jajanan pasar seperti kerupuk, jenang, gemblong dan lain-lain. 

Makanan itu setelah diberi doa akan di santap oleh peserta upacara dalam perjalanan menuju tengah laut. Selain makanan sebagai kelengkapan dipersiapkan kembang-kembang berwarna-warni, janur serta kemenyan yang dibakar dan diletakkan ditempat semacam pot kecil.

Mengingat tradisi sedekah laut ini sangat kuat bagi nelayan sehingga mereka beranggapan kalau tidak dilaksanakannya sedekah laut maka akan muncul kekhawatiran dan bisa memunculkan malapetaka bagi nelayan. Kegiatan ritual tersebut hingga kini masih berlangsung dan dikerjakan secara berkala. 

Bentuk-bentuk persembahan yang masih sering dilakukan oleh sebagian besar dari kelompok masyarakat, antara lain menyediakan sajian-sajian yang berupa hasil bumi, binatang ternak dan berbagai macam bunga. Disisi lain, permintaan dari alam ghaib (golongan jin) tidak sebatas saji-sajian, mereka juga menginginkan supaya diiringi dengan berbagai pertunjukan. Mulai dari model penari, tata rias wajah, kostum dan irama musik yang mengiringi. 

Model penari yang demikian dimaksudkan untuk menggambarkan karakter penguasa diwilayahnya dengan memberitahukan tentang keberadaanya kepada masyarakat yang telah mempercayainya. Pelaksanaan ritual yang demikian tetap dipandu oleh sesepuh meraka karena dialah yang mampu berkomunikasi dengan mahluk ghaib(Wildan, 2015:8-9).

Sebagian besar masyarakat Muslim Jawa masih melakukan ritual-ritual tersebut khususnya yang beraliran kejawen, banyak nilai-nilai yang terkandung di dalam ritual yang dilakukan oleh masyarakat Muslim Jawa antara lain, nilai sosial kemasyarakatan dalam tradisi seperti itu. 

Ada nilai yang dirasakan paling mendalam oleh orang Jawa, yaitu nilai kebersamaan, bertetangga dan kerukunan antar warga, sekaligus menimbulkan suatu perasaan kuat bahwa semua warga sama derajatnya satu sama yang lain. 

Bagi masyarakat muslim Jawa, ritualitas sebagai wujud pengabdian dan ketulusan penyembahan kepada Allah, sebagian diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna mendalam. Simbol-simbo ritual merupakan ekspresi atau pengejewantahan dari penghayatan dan pemahaman akan realitas yang tak terjangkau sehingga menjadi sangat dekat. 

Dengan simbol-simbol ritual tersebut, terasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlibat " menyatu dalam dirinya". Simbol-simbol ritual tersebut diantaranya adalah dalam bentuk makanan yang disajikan dalam ritual selamatan, ruwatan dan sebagainya(Marzuki, 2012:3).

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia. secara historis, bangsa Indonesia adalah bangsa bahari yang ditunjukkan dengan berbagai peradaban kerajaan Nusantara dalam berinteraksi dengan komunitas dunia. bangsa Indonesia berasal dari berbagai etnik. Keragaman budaya telah mempengaruhi bangsa ini dalam memahami pentingnya budaya bahari. 

Budaya bahari hendaknya dipahami sebagai cara atau pola pikir sekelompok masyarakat yang menetap di wilayah pesisir dengan memiliki cara pandang tertentu tentang religi (pemahaman hidup), bahasa, seni, mata pencaharian, pengetahuan, dan teknologi. 

Masyarakat pesisir khususnya memiliki perilaku serta pola-pola kebudayaan yang berbeda dari masyarakat lain, sebagai hasil dari interaksi mereka dengan lingkungan beserta sumberdaya yang ada di sekitarnya(Taufiq, 2017:275).

Gery Bagus