-->

Breaking

logo

Kamis, 02 Agustus 2018

Malam Jumat, Sediakan Suguhan Ini untuk Menyambut Leluhur

Malam Jumat, Sediakan Suguhan Ini untuk Menyambut Leluhur


Malam Jumat selalu diyakini sebagai waktu yang sangat sakral.

Cerita Kita - Banyak juga yang menyebutnya sebagai malam keramat. Apalagi jika malam Jumat bertepatan dengan pasaran Kliwon, maka siapapun akan bergidik mendengarnya.

Namun apa sesungguhnya alasan pengeramatan malam Jumat dalam tradisi Jawa? Mengapa malam Jumat selalu dianggap sebagai waktu-waktu sakral?

Kejawen meyakini jika malam Jumat adalah malam saat para sesepuh (baik itu mahluk halus maupun orang tua/saudara/kerabat yang sudah meninggal) mengunjungi anak keturunannya.

Biasanya, untuk menghormati para sesepuh, ada beberapa ritual yang dilakukan. Misalnya menyuguhkan hidangan layaknya memberi suguhan untuk tamu. Apa saja yang disuguhkan? Bisa berupa minuman teh atau kopi, rokok, bahkan bunga melati atau kembang telon sebagai wangi-wangian.

Suguhan ini sebagai simbol penghormatan kepada para sesepuh atau "tamu" kita. Jadi, hal ini merupakan bentuk sopan santun kita kepada para sesepuh maupun mahluk halus yang sering berkunjung ke rumah.

Selain itu mengapa malam Jumat Kliwon sering dianggap sakral, ini punya kaitan dengan puasa neptu 40 (puasa 40 hari/puasa tiga hari berneptu 40) yang masih dijalankan sebagian masyarakat Jawa. Lazimnya, puncak dari puasa tersebut jatuh pada hari Jumat Kliwon. Sehingga malam Kumat Kliwon kerap menjadi rujukan dalam hal-hal seputar pencapaian mental dan spiritual.

Lebih dari itu, dalam kepercayaan Jawa, pasaran Kliwon erat dengan letak diri sejati. Hal ini didasarkan pada konsep sedulur papat lima pancer. Pasaran Kliwon bertempat di tengah (pusat) yang merupakan letaknya sukma atau jiwa. Pancarannya manca warna, alias bermacam-macam.

Saking sakralnya, pada Jumat (dan juga Selasa) Kliwon, hingga saat ini masih  digelar ritual di Sela Sengker, kawasan Cepuri Parangkusumo, Bantul. Konon, ada penunggu yang dipercaya para pelaku ritual berperan dalam upacara adat tersebut. Mereka adalah Mbok Rara Kidul, pembantu Ratu Kidul dan Mbok Nyi Roro Kidul, Wakil Ratu Kidul atau Gusti Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan.(SM Network)