Cerita Kita - Pernahkah Anda mendengar cerita katak Kalimantan yang menyeberangi sungai Barito? Dalam cerita itu, seorang gila bertemu seorang profesor. Keduanya berbincang-bincang tentang katak. Yakni katak Kalimantan yang mampu melompat sejauh 50 cm.
“Berapa lompatan yang diperlukan katak Kalimantan untuk sampai ke seberang Sungai Barito?,” tanya si gila itu, dengan asumsi lebar Sungai Barito 1.250 meter. Dengan cepat, si profesor menjawab: ”2.500 lompatan”. Menghitungnya sangat mudah. Jika katak tadi dapat melompat setengah meter, maka jumlah lompatan yang diperlukan adalah dua kali jarak dalam satu meter.
Orang gila itu pun terkekeh mendengar jawaban profesor. Yang diperlukan katak untuk sampai ke seberang, kata si orang gila, hanya dua lompatan. Lompatan pertama ke air. Setelah itu katak akan berenang. Sampai di ujung, katak baru akan melompat lagi ke daratan.
Saya, Anda dan para pemimpin kita semua bisa seperti profesor itu. Pandai dalam logika, namun dungu terhadap realita. Dengan logika, kita merasa mampu menjawab segalanya. Dengan logika pula, kita percaya dapat memecahkan seluruh masalah. Apalagi bila kita merasa tak cuma logika namun hafal di luar kepala berbagai teori yang disebut buku-buku teks dan memiliki segudang pengalaman. Jujur, semua keadaan bangsa ini sekarang adalah produk cara berpikir gaya profesor itu.
Para perancang pembangunan kita sangat percaya pada logika, penguasaan teori dan pengalamannya sendiri. Itulah kebenaran menurut mereka. Mereka memaksa bangsa ini menerima kebenaran itu.
”Kalau enggak kuat beli gas, ya pakai minyak tanah aja. Kalau enggak kuat beli minyak tanah, pakai kayu bakar aja. Beres kan? Lalu persoalan apa yang tidak dapat diatasi dengan logika?” demikian kira-kira petikan anekdotnya.
Persoalannya percaya pada cerdik pandai seperti itu, seluruh bangsa ini lalu menelan bulat-bulat resep yang disodorkan. Hasilnya apa? Nilai rupiah terkapar lewat Rp 14 ribu per dollar Amerika. Hasilnya pula, rakyat harus memikul beban hidup akibat tidak berharganya rupiah tersebut. Baik melalui kenaikan harga BBM diam-diam, tarif daya listrik, telepon, tarif angkot dan ujungnya seluruh harga barang.
Ibarat perusahaan, sungguh bangsa ini sudah berada di tepi jurang kebangkrutan. Utang luar negeri semakin menumpuk, pengangguran bertambah, korupsi adalah kebanggaan dan seterusnya, yang sudah menjadi pengetahuan umum. Jika suatu perusahaan mungkin sudah lama harus dinyatakan pailit. Di bawah kondisi perusahaan yang bobrok, posisi direktur utama atau apapun namanya adalah kursi panas.
Orang waras dan normal akan tahu, bahwa tantangan mengatasi ancaman kebangkrutan membawa risiko jabatan yang luar biasa. Anehnya di perusahaan yang hampir bangkrut ini masih diminati banyak orang. Jumlah orang yang merasa mampu dan pantas menjadi pemimpin semakin hari bukannya semakin berkurang, malah justru bertambah. Mengapa demikian?
Ini karena alasan untuk menduduki suatu posisi atau jabatan publik tidak dianggap sebagai pengabdian, melainkan pencapaian status dan perolehan hak, tanpa diiringi oleh pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab publik. Sudah barang tentu para pejabat publik pasti akan menolak argumen ini. Tapi, jika dipikir adalah benar kata teman saya bahwa sebenarnya pembusukan berketerusan yang dialami bangsa ini, bukan karena azab.
Proses itu semata-mata karena kebodohan kita yang selalu mengandalkan logika dan karena ketidakkonsistenan para pemimpin negeri ini. Pepatah Jawa esuk tempe sore kedele (pagi tempe, sore kedelai atau berubah-ubah sikap) tidak hanya sekadar menjadi pepatah, tetapi sudah menjadi realitas sosial.
Saya jadi teringat ucapan Antropolog Profesor Koentjaraningrat (almarhum) tentang mentalitas bangsa ini dengan sebutan ”bangsa tempe”. Salah satu kelemahan mentalitas orang Indonesia adalah suka menerabas, mau cepat enak, tidak bersedia bekerja keras dan lebih berorientasi ke masa lampau ketimbang masa depan. Menerjang apa saja untuk meraih sukses, dengan cara yang sama sekali tidak bermartabat dan dengan kerendahan hati nol. Sepertinya hidup hanya untuk mengelabui diri.
Lihat sinetron-sinetron TV yang menjual mimpi itu. Tokohnya kaya raya, setiap hari berjas dan berdasi, tetapi pekerjaannya tak jelas. Bukan pesan etos kerja yang disampaikan ke publik, melainkan mental tempe, yang tampak enak, meskipun sesungguhnya busuk. Tempe busuk memang enak, tapi menyesatkan. Kalau busuk betul, jadi racun. Kalau ”busuk-busukan” malah enak disambel jadi tempe penyet.
Begitulah. Tapi, maaf bisa saja saya salah melihat kenyataan ini. Bisa saja saya terlalu awam untuk memahami realitas inkonsistensi pemimpin kita sekarang. Barangkali benar kata teman saya: berpolitik memang tidak sekadar bersiasat, tapi butuh sejumlah kepalsuan. Dan standar ganda adalah senjatanya, meski sebenarnya begitu gampang menjalankan amanat kekuasaan. Orang bijak bilang: jika Anda pintar maka akan menjadi pemenang. Jika Anda jujur maka Anda akan dipercaya. Dan jika Anda banyak memberi maka Anda akan dicintai. Seorang penguasa yang pintar akan selalu menjadi pemenang. Tetapi, mereka belum tentu dipercaya jika tidak jujur dalam menjalankan amanah.
Lebih dari itu, penguasa yang hanya menuntut kewenangan, tanpa pernah memberi, tidak akan dicintai. Kini memang kita sedang menghadapi situasi yang amat sulit soal kepemimpinan. Bisa saja berpuluh orang merasa mampu memimpin, namun masih sangat sedikit yang menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin yang selalu bisa menjadi pemenang, dipercaya dan dicintai. Ataukah memang begitukah tradisi sebuah negeri yang baru mencari jati diri. Saya tidak tahu persis.
Jadi, mari kita ganyang mentalitas tempe seperti kata Prof Koen, belajarlah dari si gila! Ia tidak punya apa-apa. Namun ia memiliki wisdom, yang membuatnya selalu mampu mencermati realita. Karena realitalah, bukan kata-kata, yang merupakan kebenaran.
Penulis: Pribakti B (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dan Dokter RSUD Ulin Kota Banjarmasin).
