-->

Breaking

logo

Rabu, 14 Maret 2018

Prediksi tentang Kemakmuran dan Kehancuran Pulau Jawa

Prediksi tentang Kemakmuran dan Kehancuran Pulau Jawa


Cerita Kita - Berpijak pendapat para sejarawan bahwa Kadiri mengalami masa kejayaan ketika berada di bawah pemerintahan Mapanji Jayabhaya (1135-1159). Kejayaan tersebut ditandai dengan keberhasilan Kadiri mampu menaklukkan Janggala sehingga dua wilayah Kehuripan yang semula dikuasai oleh leluhur Mapanji Jayabahaya yakni Airlangga bisa disatukan kembali. 

Penaklukan Kadiri terhadap Janggala tersebut dilukiskan pada Kakawin Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Sesudah menaklukkan Janggala, Mapanji Jayabhaya mengeluarkan Prasasti Hantang atau Prasasti Ngantang (1135) yang menyebutkan "Panjalu Jayati" yang artinya Kadiri Jaya.

Di mata masyarakat Jawa, Mapanji Jayabhaya yang dikenal dengan Prabu Jayabaya tersebut adalah raja sakti mandraguna. Raja yang memiliki kelebihan dalam memprediksi peristiwa masa depan yang bakal terjadi. 

Selanjutnya prediksi zaman Prabu Jayabaya yang dikenal dengan Jangka Jayabaya tersebut terhimpun dalam Serat Kalatidha. Serat yeng berisikan prediksi-prediklsi tentang datangnya Jaman Gemblung di Tanah Jawa.

Selain Prabu Jayabaya, masyarakat Jawa meyakini bahwa R.Ng. Ranggawarsita III pula seorang peramal zaman. Melalui Serat Kalabendu karya Ranggawarsita tersebut bahwa Tanah Jawa diprediksikan oleh sang pujangga akan terbebas dari Zaman Kalabendu ketika Surya Sengkala menunjukkan Pendhawa = 5, Mulat = 2, Sirnaning = 0, dan Pengantin = 2. Dengan demikian, Tanah Jawa  akan mengalami kemakmuran pada tahun 2025 Masehi.

Tetapi bila mengacu pada prediksi Prabu Jayabaya bahwa Pulau Jawa akan mengalami suatu perubahan yang sangat besar dan signifikan pada tahun 2152 Masehi. Pada tahun itu, Pulau Jawa beliau perkirakan akan mengalami kehancuran akibat berbagai faktor, yakni: letusan gunung berapi sampai banjir bandang. 

Selain itu, Pulau Jawa akan mengalami pergeseran yang disertai dengan gempa bumi hingga mengakibatkan pemisahan  bagian menjadi sembilan pulau. Fakta ini esuai hukum Geologis bahwa akan selalu mengalami pergeseran akibat gempa tektonik atau letusan gunung berapi.

Adapun faktor yang menyebabkan Pulau Jawa mengalami kehancuran karena faktor manusia dan alam. Perihal faktor alam berkaitan dengan pengaruh global yang berupa perubahan iklim dan cuaca. 

Penyebaran polusi dan perusakan efek rumah kaca yang terjadi selama hampir 300 tahun sejak revolusi Industri. Aktivitas tersebut menimbulkan lapisan ozon semakin  berlubang besar sehingga mengakibatkan radiasi cahaya matahari langsung jatuh ke bumi.

Semakin hari, pemanasan global pun akan menjadi kenyataan. Sehingga suhu bumi yang semakin panas tersebut berpotensi mencairkan es di kutub dan volume air laut semakin meningkat. 

Akibat yang terjadi, beberapa kota pantai di seluruh dunia akan tenggelam. Bahkan Pulau Jawa yang jauh dari kutub akan akan mendapatkan dampaknya. Karenanya tidak aneh, bila terjadi tsunami di Pulau Jawa akan sulit untuk diantisipasi.

Kisah tentang tenggelamnya benua Atlantik pada berabad-abad silam sebagai fakta bahwa kekuatan alam tidak bisa dihentikan oleh manusia. Kareanya hal ini seyogianya memicu kesadaran, niat, tekad seluruh umat manusia untuk melakukan pencegahan sebelum petakan besar itu menimpa Pulau Jawa. Sebagaimana telah diprediksikan Prabu Jawabaya, seorang pujangga besar dari Kadiri yang hidup di masa silam.

-Sri Wintala Achmad-