-->

Breaking

logo

Kamis, 01 Maret 2018

Mengenal Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman, Sang Penjaga dari Utara

Mengenal Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman, Sang Penjaga dari Utara


Cerita Kita - Dalam suatu komunitas umat Islam, masjid merupakan suatu komponen yang diutamakan pendiriannya.

Hal ini untuk memenuhi kebutuhan religius dan sosial-budaya masyarakat pendukungnya. Dalam agama Islam, pendirian masjid merupakan hal yang sangat diutamakan.

Masjid juga sarat dengan nilai-nilai historis terutama di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu masjid yang memiliki sejarah kuat ialah Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Minomartani, Sleman.

Masjid ini merupakan masjid yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai salah satu tapal batas Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat kala itu.

Hal itu diceritakan oleh Kamaludin Purnomo, Pengelola Cagar Budaya Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Selasa (27/2/2018).

Diceritakan Kamal, Masjid Pathok Negoro Plosokuning diibaratkan penjaga Keraton Yogyakarta dari Utara.

“Masjid Pathok Negoro bagai benteng spiritual Keraton Yogyakarta. Menjaga spirit Islam, spirit Jawa,” kata Kamal.

Berangkat dari arti kata Pathok Negoro, maka masjid tersebut juga berfungsi sebagai tanda kekuasaan raja.

Dilanjutkan Kamal, Pathok Negoro, di samping sebagai tanda dan penjaga, juga disebut patuh negara yang imamnya bertugas sebagai imam masjid, penasihat, dan hakim.

Selain, Masjid Plosokuning juga terdapat Masjid Pathok Negoro yang lain, di antaranya:
  • Masjid Dongkelan: terletak di sisi barat daya kota yakni di Kauman, Dongkelan, Tirtonirmolo, Bantul.
  • Masjid Babadan: terletak di sisi timur kota yakni di Kauman, Babadan, Banguntapan, Bantul.
  • Masjid Mlangi: terletak di sisi barat laut berada kota di Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Kamal menuturkan tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya pendirian Masjid Pathok Negoro Plosokuning, “Umurnya kira-kira sudah 250 tahun. Ini bagian dari desain Keraton Yogyakarta,” ungkap Kamal.

Jika ditarik dari Puncak Merapi, maka Masjid Pathok Negoro Plosokuning berada satu garis lurus antara Puncak Merapi, Keraton Yogyakarta, hingga Pantai Selatan.

Selain itu, menurut Kamal, Masjid Pathok Negoro Plosokuning tengah disiapkan menjadi Pusat Kajian Islam Mataram.

“Sedang disiapkan lahan tambahan sekitar 3000 m, sudah ada penyusunan grand design pengembangan kawasan Masjid Protonegoro,” kata Kamal.

Kamal sangat bersyukur karena masyarakat di Yogyakarta banyak yang peduli dengan Cagar Budaya Masjid Pathok Negoro Plosokuning.

"Ini merupakan warisan leluhur yang tak ternilai harganya, umurnya sudah sekitar 250 tahun, karya Sultan HB I," kata Kamal.

Kamal juga berharap, agar masyarakat dapat bersama-sama menjaga dan melestarikan karya para leluhur.

Khusus untuk Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Kamal menyampaikan, bahwa tidak perlakuan khusus untuk melestarikannya, cukup dengan membersihkan bangunan fisik secara rutin.

"Tinggal pembersihan saja, enggak boleh dirubah bentuknya, warisan budaya tidak boleh dirubah fisiknya, itu kewenangan Dinas Kebudayaan," ucapnya.

Lebih lanjut, bukan hanya bangunan fisik yang perlu dijaga tetapi menjaga budaya, tradisi juga penting.

"Hal-hal yang berkaitan dengan syariat agama Islam, sholawatan Jawa, tradisi Islami, ruahan, safaran. Itu perlu dilestarikan. Saat ini ketertarikan orang-orang agak berkurang karena budaya luar, yang dianggap lebih menarik," tambahnya.

Melihat fenomena itu, Kamal tetap optimis bahwa tradisi dan budaya Jawa tetap akan lestari.
"Harus terus menggali partisipasi dari masyarakat," pungkasnya. (tribun)