-->

Breaking

logo

Minggu, 18 Maret 2018

Jejak Awal Islam di Nusantara

Jejak Awal Islam di Nusantara


Cerita Kita - Di negeri ini,  islam menjadi mayoritas adalah sebuah realitas sejarah yang terjadi melalui proses panjang selama beberapa abad. Islam datang, menyebar, lalu tumbuh dan berkembang secara damai melalui proses akulturasi, yang diperkirakan berlangsung sejak abad ke tujuh. Bagaimana mungkun?  Bukankah Islam masuk ke Indonesia, nanti pada akhir abad ke 15, sebagaimana yang kita ketahui selama ini sejak di sekolah dasar

Terkait kapan masuknya  Islam ke Nusantara, memang masih menjadi perdebatan hingga kini. Tetapi, dapat dipastikan bukan pada akhir abad ke 15, yang dibawa oleh pedagang muslim dari Gujarat, India, menurut para sejarahwan Kolonial Belanda yang dikenal sebagai "Teori Gujarat".  Bahkan, para sejarawan Belanda itu, tampak sengaja membelokkan, bahkan menyembunyikan banyak fakta sejarah panjang islam di Nusantara ini. Sejarah itu telah  didistorsi dan direduksi sedemikian untuk kepentingan tertentu. Sehingga, sejarah Islam dan Nusantara, memang perlu ditulis ulang.

Diyakini bahwa Islam masuk ke Nusantara pada sekitar awal abad ke 7 M. Sebuah sumber di internet menyebutkan bahwa informasi ini diperoleh dari catatan kuno Tiongkok yang berasal dari Dinasti Tang, bertanda 625 M. Catatan itu memberi informasi tentang adanya sebuah pemukiman Arab Muslim  di sebuah kota bernama Barus yang terletak di Pantai Barat Sumatera Utara. Selain itu, catatan dari Dinasti Tang tersebut, juga menyebutkan bahwa  ada duta muslim datang ke Nusantara pada tahun 651 M. Ini berarti, terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Usman Bin Affan.

Hal tersebut di atas, diperkuat oleh penemuan situs makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus. Terdapat nisan dengan tulisan Arab, "Syekh Rukunuddin wafat 672 M" dan nisan lain bertuliskan, "Syekh Ushuluddin". Tetapi, sebutan "Syekh" dalam tradisi Islam belum dikenal pada masa Khulafur Rasyidin, maka kuat dugaan bahwa keduanya adalah pengikut Imam Ali Bin Abu Thalib yang menggembara, dan tiba di Barus beberapa tahun setelah kepemimpinan Islam berpindah ke tangan Muawiyah Bin Abu Sofyan pada 661 M.

Sumber-sumber di internet itu, juga menyebut Barus sebagai bekas sebuah kota dagang kuno  yang merupakan pusat peradaban tertua di Nusantara, yang ditengarai sudah ada sebelum Masehi. Selain disebut dalam banyak literatur kuno, seperti, Arab, persia, Tiongkok, India, Mesir, dan Armenia, Barus juga disebutkan dalam sebuah peta kuno yang dibuat pada abad ke 2 M, oleh Claudius Ptolomeus.

Informasi tersebut menunjukkan bahwa jauh sebelum Islam, telah terbentuk jalur perdagangan dari Timur Tengah, India, Nusantara, hingga ke Tiongkok. Dan, Barus merupakan salah satu bandar internasional penting pada  masa itu. Menurut sumber tersebut bahwa penelitian Tibbets, sejarahwan yang meneliti hubungan perdagangan yang terjadi di kawasan tersebut pada masa pra-islam, menemukan banyak bukti kalau Nusantara, khususnya Sumatera dan Jawa, merupakan persinggahan kapal dagang Arab yang berlayar ke negeri Tiongkok atau sebaliknya.

Pada akhir abad ke tujuh, imperium Dinasti Umayyah sudah membentang dari Maroko di pinggir Samudra Altantik di barat hingga menyentuh tanah India di timur. Bahkan, ketika Al Walid bin  Abd. Malik menjadi khalifah (705 - 715 M), India pun ditaklukkan dalam sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Panglima Muhammad Al-Qashim pada 712 M. Imperium Umayyah adalah adidaya tunggal di masanya.  Jangankan Kerajaan Kalingga yang berada di pantai utara Jawa Tengah, Dinasti Tang saja di Tiongkok, bukanlah tandingan bagi Umayyah pada masa itu.

Kebesaran Dinasti Umayyah begitu menggetarkan, sekaligus membuat gentar segenap kekuatan yang ada di Asia, terlebih setelah penaklukan  Afganistan, Samarkhan, India dan Pakistan. Dengan angkatan laut yang sangat kuat, imperium Umayyah tak begitu sulit untuk menjangkau  kawasan Nusantara dan Tiongkok. Kekuatan-kekuatan yang ada di kawasan Asia di masa itu, lebih memilih   bersahabat dari pada bermusuhan dengan Umayyah, seperti yang dilakukan oleh Kerajaan Srilangka dan Burma.

Di masanya, imperium Umayyah, benar-benar disegani. Hal ini  membuat   orang-orang muslim yang datang dari  Timur Tengah, seperti, ulama, pedagang, dan bahkan termasuk  pelarian politik, mendapatkan perlakuan khusus dan istimewa dari penguasa di Nusantara.  Bukan tak mungkin, para ulama yang datang itu, dijadikan semacam penasehat kerajaan .

Dengan cara itulah Islam kemudian mendapatkan ruang untuk memperkenalkan diri, bertumbuh, lalu mengalami proses akukturasi dengan kebudayaan lokal, sehingga Islam  berkembang dengan cara yang berbeda dengan di tanah asalnya. Bahkan, hukum potong tangan yang merupakan tradisi Islam, sampai diadaptasi oleh Ratu Shima menjadi hukum di Kerajaan Kalingga. Ini adalah bukti historis yang menguatkan tesis tentang masuknya Islam di nusantara pada abad ke 7 (Teori Mekah). Perlu diketahui bahwa Ratu Shima bertahta di Kerajaan Kalingga pada 674 - 695 M, persis sezaman dengan Abd. Malik Bin Marwan, Khalifah ke 5 Dinasti Umayyah.

Berbeda dengan di Sumatera, di Jawa, sejak era Kerajaan Kalingga yang berakhir pada awal abad ke 8, jejak-jejak Islam, praktis tak ditemukan hingga abad ke 11.  Ini memang aneh. Bagaimana mungkin pengaruh Islam di Nusantara tak ditemukan sepanjang periode itu? Padahal Islam pada masa itu, sudah menguasai hampir tiga perempat Asia, Utara dan Timur Afrika, bahkan sudah mendekati jantung Eropa. Juga, mustahil kalau pengaruh Bagdad  sebagai pusat peradaban dunia yang demikian masyhur, tidak menjangkau Nusantara.

Pengaruh Islam  sejak abad ke 7 hingga abad ke 11, sengaja "disembunyikan" oleh para sejarahwan Belanda yang "memonopoli" penulisan sejarah Nusantara untuk kepentingan kolonial Belanda di Nusantara. Dalam bukunya,  "Majapahit Kerajaan Islam", Herman S. Janutama menulis bahwa Nancy K. Florida, seorang filolog dan Indonesianis, setelah menggumuli naskah-naskah Jawa Kuno, dia sampai pada kesimpulan bahwa sejarah kebudayaan Jawa, tak cukup bisa dipahami tanpa melihat Islam. Sejarah kebudayaan Jawa dan Nusantara yang kita ketahui saat ini adalah hasil rekonstruksi sejarawan Belanda yang dilatari paradigma "tidak akan melihat islam", sehingga tak pernah berhasil melihat signifikansi Islam dalam realitas Jawa yang sesungguhnya.

Cara sejarahwan Belanda merekonstruksi sejarah kebudayaan Jawa dan Nusantara dengan paradigma "Islamless", oleh Florida dianggap sebagai kebohongan yang menggelikan. Melalui tesis " Nusantara Koloni Hindu", yang dikembangkan oleh sejarawan kolonial, seolah-olah abad ke 9 - 14 M adalah puncak kejayaan  kebudayaan Hindu di Jawa, kemudian dihancurkan oleh Islam yang datang pada akhir abad ke 15.

Janutama menulis lebih jauh, bahwa tesis tentang "Nusantara koloni Hindu" itu sendiri, oleh Louis C. Damais, professor sejarah antropologi, Prancis, dianggap tak pernah memiliki argumentasi yang jelas. Bahkan penggunaan istilah "Hindu" untuk menyebut raja-raja Hindu  di Nusantara sebelum abad ke 14, sama sekali tidak benar. Penggunaan istilah "Hindu" oleh sejarahwan Belanda, menurut Damais, merujuk pada "hindoesh", "indische", "indie" atau "indo", yang mutlak berarti "Hindia" Belanda. Ini sesuai dengan penyebutan Oost Indische atau Hindia Timur bagi dunia Islam di sebelah timur Granada. Dan West Indische atau Hindia Barat bagi dunia Islam di sebelah barat Granada. Lagi pula, secara linguistik, tidak terdapat peninggalan bahasa lisan India kuno di nusantara. Ini menunjukkan bahwa Bangsa India yang beragama hindu diasumsikan pernah memiliki dominasi politik di nusantara, jelas mustahil.

Anti tesis yang diajukan oleh Nancy K. Florida dan Louis C. Damais terhadap tesis "Nusantara koloni Hindu", dikuatkan oleh beberapa bukti arkeologi dari zaman Kediri dan Majapahit. Seperti pada situs arkeologi di Leran, Gresik, yaitu, pada situs makam Fatimah Binti Maimun, yang wafat pada 1082 M. Inkripsi pada makam tersebut bertanda 1082 M dalam huruf Arab kufi, menunjukkan bahwa Fatimah Binti Maimun hidup di zaman Raja Airlangga (1019 - 1042 M), Mpu Barada, hingga Raden Inu KertaptI. Kemudian, dari bentuk makam tersebut, dapat disimpulkan bahwa Fatimah Binti Maimun, bukanlah orang biasa. Tetapi, dia sosok penting yang memiliki kedudukan khusus di dalam pemerintahan Raja Airlangga.

Situs makam tua Tralaya yang merupakan kompleks pemakaman suci bagi para keluarga raja dan pembesar Majapahit, ditemukan banyak nisan yang dipenuhi inkripsi berupa do'a -do'a dan ayat-ayat Al-Qur'an. Nisan pada makam Sayyid Jumadil Kubro, misalnya, terdapat inkripsi yang menerangkan kalau Ia ulama dan kadi Majapahit, yang wafat pada 1376 M. Ia adalah Kadi Majapahit sejak Raden Wijaya bertakhta hingga era Hayam Wuruk - Gajah Mada.  

Demikian pula pada makam Sayyid Maulana Malik Ibrahim di Leran, Gresik. Inkripsi pada nisannya tertulis kalau Ia wafat pada 12 Rabul Awwal  1419 M. Beberapa kalimat tertulis jelas bahwa Ia juga adalah Kadi Majapahit (setelah Sayyid Jumadil Kubra wafat). Ia guru para pangeran dan penasehat para raja Majapahit dari Hayam Wuruk, Bhre Wirabhumi, hingga Wikrama Wardhana. Ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Islam pada masa Majapahit sudah dianut oleh para raja dan keluarga para bangsawan.

Benda arkelogi lain yang tak kalah pentingnya adalah koin Majapahit yang disebut "surya delapan" sebagai simbol resmi kerajaan Majapahit. Di antara lidah sinar surya delapan tersebut, terdapat kata dari aksara Arab : Allah, Muhammad, Adam, Tauhid, Dzat, Asma, Shifat, dan Ma'rifat. Fantastik. Dennys Lombard, sejarawan Perancis yang lain dan juga seorang Indonesianis, sampai menjadikannya sebagai gambar sampul pada salah satu bukunya, "Nusa Jawa : silang budaya".

Yang tak kalah menakjubkan adalah temuan koin surya Majapahit lainnya, yang dikelilingi inkripsi huruf arab berbunyi : La ilaha illa Allah - Muhammad Rasulullah. Bukankah ini bukti bahwa Majapahit pun sebenarnya telah mengucapkan dua kalimah syahadat? Meskipun ia sadar bakal  dihujat, tetapi semua bukti sejarah itu membuat Janutama, sedikitpun tak ragu menyebut Majapahit sebagai kerajaan Islam.

Yarifai Mappeaty