Cerita Kita - Negara kita tercinta Indonesia, yang terdiri gugusan pulau besar dari banyaknya pulau-pulau kecil. Kaya akan budaya, adat istiadat, bahasa, dan yang paling dicari oleh orang luar saat dahulu adalah sumber daya alam.
Nah, dari gugusan pulau-pulau besar tersebut banyak menyimpan sejarah dan cerita yang terkenal dari dahulu sampai sekarang. Yaps, mungkin banyak di antara kita para generasi muda, sepertinya agak sulit mengetahui sejarah kuno tentang Nusantara.
Karena tidak semua orang menyukai sejarah, apalagi di jaman seperti sekarang ini. Dimana teknologi modern sangat mendominasi penggunaannya. Sedangkan ilmu mempelajari tentang sejarah, perlahan makin banyak berkurang peminatnya. Padahal, sejarah tidak lain merupakan kekayaan suatu bangsa, dimana para generasi penerus bisa melihat ke belakang tentang terbentuknya Negara yang ia cintai.
Terlepas dari itu semua, yuk kita pelajari dan mengenal bagaimana sejarah Negara kita. Mulai dari pulau jawa kuno yang begitu banyak menyimpan sejarah. Langsung ajah ya guys, apa kamu tahu sebutan untuk pulau Jawa di jaman dahulu ?
Konon, nama kepulauan atau tanah Jawa pada jaman dahulu adalah Sweta Dwipa, sedangkan anak benua di India disebut Jambu Dwipa. Nah, seluruh gugusan kepulauan yang ada di wilayah Asia Selatan dan Tenggara, dinamakan anak benua atau gugusan pulau-pulau Jawata.
Karena anak benua Jambu Dwipa dan Sweta Dwipa, keduanya berasal dari daerah yang sama, maka tidaklah mengherankan kalau kebudayaan yang dimiliki menyerupai atau dalam perkembangan saling mempengaruhi dan berkaitan.
Secara geografis, pada 20 hingga 36 juta tahun yang lalu, di wilayah Asia bagian selatan terjadi proses bergeraknya anak benua India ke utara, hal ini berakibat terjadinya tabrakan dengan lempengan yang diutara, muncullah tanah yang naik ke atas , yang kini kita kenal sebagai gunung Himalaya.
Dataran Cina pada kala itu masih terendam lautan. Anak benua di selatan dan tenggara ,yaitu Jawata, termasuk Sweta Dwipa dan Jawa Dwipa muncul sebagai pulau-pulau yang jadi mata rantainya gunung berapi.
Diceritakan dalam kitab kuno, orang Jawa merupakan anak keturunan atau berasal dari dewa. Dalam bahasa Jawa orang Jawa disebut Wong Jawa, bahasa ngoko (sehari-hari), artinya : wong itu dari kata wahong Jawa, artinya orang Jawa merupakan anak keturunannya dewa. Begitu juga dengan Tiyang Jawaitu berasal dari Ti Hyang Jawa artinya anak keturunan dewa, dalam bahasa krama inggil.
Jawata artinya Dewa (Gurunya orang Jawa)
Menurut ilmu seni pewayangan (wayang kulit), keindahan pulau Jawa saat itu menarik banyak perhatian dari para dewa dan dewi di Khayangan. Hingga membuat mereka turun ke marcapada, tanah Jawa dan membangun kerajaan-kerajaan pertama di wilayah Jawa Dwipa. Raja Kediri, yaitu Jayabaya merupakan Dewa Wisnu yang turun langsung dari Khayangan.
Tentu kita amat tahu dan pahan akan nama Jayabaya bukan? Yaps, terkenal akan ramalannya yang terkenal dan popular di Jawa dan Indonesia pada umumnya. Walau ramalannya akurat tentu di dalamnya ada nasihat-nasihat bijak bagi mereka yang memegang pucuk pimpinan negara, para pejabat negara, juga untuk kawula biasa.
Kerajaan Pertama di Pulau Jawa
![]() |
| Gunung Gede di Merak |
Menurut salah satu sumber, kerajaan dewa pertama di pulau Jawa, letaknya berada di Gunung Gede, Merak, menjadi raja bernama Dewo Eso atau Dewowarman dengan bergelar Wisnudewo. Perlambang sebagai dewa kahyangan, permaisurinya bernama Dewi Pratiwi, nama dari Dewi Bumi.
Adalah putri dari seorang begawan Jawa yang dikenal sebagai Begawan Lembu Suro yang memiliki ilmu dan pengetahuan spiritual yang tinggi. Konon, mampu hidup di 7 dimensi alam (Garbo Pitu), dan tinggal di Dieng (wilayah Jawa Tengah). Kata Dieng berasal dari Adhi Hyang yang berarti sukma yang sempurna.
Batara Guru
![]() |
| Gunung Lawu |
Keindahan Pulau Jawa Dwipa, sampai menarik hati dari Raja Para Dewa yaitu Batara Guru untuk mendirikan kerajaan di bumi. Maka, turunlah Batara Guru dari Swargaloka (Surga) dan memilih tinggal di gunung Mahendra (sekarang Gunung Lawu, letaknya di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, antara Surakarta dan Madiun).
Batara Guru memiliki sejumlah nama lain, seperti : Sang Hyang Jagat Nata (Ratunya Jagat Raya), Sang Hyang Girinata (Ratunya Gunung-gunung). Di Kerajaan Mahendra, Surga yang agung, Batara Guru memakai nama Ratu Mahadewa. Keraton di kerajaan Mahendra dibangun sangat mirip seperti keraton milik Batara Guru yang ada di Khayangan.
Perangkat surga yang dibuat di bumi sebagai piranti kerajaan yang di dirikan, antara lain:
- Gamelan, seperangkat alat musik untuk menghibur para dewa, yaitu dengan menikmati alunan suara yang keluar dan saat sedang menari (olah beksa). Pada masa itu, menari bukanlah sekedar mengayunkan raga dan mengikuti ritme musik saja, tetapi termasuk dalam latihan untuk konsentrasi dan pengenalan jati diri dan saat menemui Sang Pencipta (seperti Yoga dalam arti yang sebenarnya). Nama gamelan adalah Lokananta.
- Patung-patung penjaga istana yaitu Cingkarabala dan Balaupata, yang biasa diletakkan di sebelah kanan dan kiri pintu gerbang istana. Yang maksudnya istana dijaga kuat sehingga aman.
- Pusaka berupa keris, cakra, tombak, panah dan sebagainya dibuat oleh empu terkenal yaitu Empu Ramadhi.
Setelah para dewa hidup tenang tinggal di bumi Jawa Dwipa, lalu menikah dengan puteri pribumi dan memiliki sejumlah anak keturunan, selanjutnya Batara Guru kembali ke Khayangan. Beberapa putranya ditunjuk untuk meneruskan tampuk kepemimpinan kerajaan-kerajaan yang sudah di dirikan. Selain di Jawa juga ada di Sumatra dan Bali.
Di Pulau Sumatra : Sang Hyang Sambo bergelar Sri Maharaja Maldewa, di kerajaan Medang Prawa, di gunung Rajabasa.
Di Pulau Bali : Sang Hyang Bayu bergelar Sri Maharaja Bimo, di Gunung Karang, kerajaannya Medang Gora (pulau Bali terkenal sebagai Pulau Dewata).
Di Pulau Jawa : Sang Hyang Brahma bergelar Sri Maharaja Sunda, di gunung Mahera, Anyer, Jawa Barat. Kerajaannya bernama Medang Gili. Ada Sang Hyang Wisnu bergelar Sri Maharaja Suman, tinggal di gunung Gora, Gunung Slamet, Jawa Tengah. Kerajaannya bernama Medang Puro. Ada Sang Hyang Indra, bergelar Sri Maharaja Sakra, letaknya di Gunung Mahameru, Semeru, Jawa Timur. Kerajaannya bernama Medang Gana.
Referensi :
www.inilahduniakita.net/2013/11/sejarah-dan-misteri-pulau-jawa-kuno-di.html
www.mystys.wordpress.com/2008/05/13/misteri-pulau-jawa-kuno-di-zaman-sweta-dwipa


