Cerita Kita - "The Mysterious Letters" atau fawtih as-suwr adalah sebuahungkapan yang ditujukan pada sebagian ahruf al-Muqaththa'ah yang eksisdi awal surah-surah Al-Qur`an. Tampilan ahruf al-Muqaththa'ah di awal surah-surah pilihan dalam Al-Qur`an terbagi menjadi beberapa bentuk. Pertama,ditampilkan hanya satu huruf saja seperti ,,. Kedua, ditampilkan dengan dua huruf yang bergandenganseperti ,. Ketiga,ditampilkan dengan tiga huruf yang bergandengan seperti ,. Keempat, ditampilkan dengan empat huruf yang bergandengan seperti , . Kelima, ditampilkan dengan lima huruf yang bergandengan seperti .
Lalu, dapat diklasifikasikan bahwa surah-surah yang di dalamnyaterdapat ahruf al-Muqaththa'ah sebagai fawatih as-suwar ada dua puluh sembilan (29) surah, diantaranya Q.S. Al-Baqarah, Q.S. Ali 'Imrn, Q.S. Al-'Ankabt,Q.S. Ar-Rm, dan Q.S. Luqmn. Sebagian muslim mungkin mempertanyakan, mengapa hanya sebagian huruf hijaiyah saja yang tertulis di dalam Al-Qur`an? apakah adakekhususan tersendiri mengenai huruf-huruf yang terpilih itu? Kemudian apa saja hikmah yang tersirat di dalam ahruf al-Muqaththa'ah tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan radikal dan kritis seperti itu tidak mustahil muncul dari benak beberapa pemikir-pemikir Islam seperti kita sekarang. Segigih apapunmereka mencari jawaban-jawaban mutlak dari beberapa pertanyaan di atas, tidakakan ditemukan ayat-ayat Al-Qur`an atau pun hadits otentik yang menyediakan jawaban tentangnya.
Para ulama pun berpendapat bahwa hanya Allah-lah yangmengetahui secara pasti maksud dan makna-makna yang tercakup di dalam ahrufal-Muqaththa'ah di sebagian fawtih as-suwr Al-Qur`an.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar r.a,"Setiap buku memiliki rahasia di dalamnya, dan rahasia al-Qur`an ada di muqaththa'ah".Pernyataan yang telah dilontarkan oleh Abu Bakar r.a ini, ternyata menuairespon yang berbau kritik oleh Fahruddin Ar-Razi. Dia yang menyatakan bahwa,"tidak mungkin Allah memasukkan sesuatu ke dalam buku-Nya jika ciptaan-Nyatidak mengerti, karena Allah juga memerintahkan ciptaan-Nya agar merenungkanbuku ini (Al-Qur`an) dan mencari bimbingan darinya. Hal tersebut tidak dapatdicapai kecuali dengan memahami makna-maknanya." Kemudian Ibnu Abbas juga menanggapi tentang ahruf al-Muqaththa'ah ini, bahwa "" menunjukkan tiga nama yaitu Allah, Lateef dan Majeed.
Lalu, tidak hanya para pemikir Timur saja yang tertarik dengan kajiantentang "The Mysterious Letters" Al-Qur`an, para orientalis Barat punsangat tertarik tentang hal tersebut. Sebagian dari mereka menyebut "The Mysterious Letters" sebagai salah satu keistimewaan Al-Qur`an, namunsebagian yang lain menyebutnya sebagai salah satu kecacatan dari Al-Qur`an itusendiri. Salah satunya adalah James A. Bellamy yang mengatakan bahwa ahrufal-muqaththa'ah dalam The Mysterious Letters atau fawtih as-suwrmerupakan singkatan dari basmalah yang sengaja ditulis dalam al-Qur`an.Penyataan yang telah dilontarkan oleh Bellamy itu sangatlah berani dan ekstrim dibandingkan para orientalis lainnya.
Menurut Bellamy, ada dua hal yang membuat seseorang itu menyingkatkalimat basmalah, yaitu keterbatasan kertas dan menghemat tenaga. Kemudianuntuk mewujudkan pandangannya terhadap fawtih as-suwr itu sendiri,Bellamy merekonstruksi ahruf al-Muqaththa'ah dalam fawtih as-suwrsesuai yang diyakininya sebagaimana berikut: menjadi , menjadi , menjadi , menjadi , menjadi , menjadi atau . Dengan rumus seperti ini, ia meyakini bahwa fawtihas-suwr adalah suatu penyingkatan kata dari basmalah.
Rekonstruksi fawatih as-suwar yang dilakukan oleh Bellamy ternyatajuga menuai kritikan pedas bahwa yang dilakukannya hanyalah sebuah khayalansemata (imagine) karena dia tidak mampu menunjukkan bukti atau sumber otentikatas pemikirannya. Hal mengenai fawtih as-suwr bagi seluruh umat Islampastilah mutlak adanya sebagaimana mereka meyakini bahwa al-Qur`an adalahsebuah kitab suci otentik yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAWmelalui Malaikat Jibril As.
Walaupun pembahasan tentang ahrufal-muqaththa'ah dalam fawtih as-suwr tersebut termasuk topikkontroversial, namun hanya sebagian dari mereka yang mempertanyakan halmendalam seputar itu. Hal tersebut bukan berarti bahwa umat Islam acuh terhadappengetahuan, tetapi mereka lebih meyakini bahwa semua yang tertulis di dalamal-Qur`an memanglah bersumber dari Allah SWT. Memang, berbeda halnya jika ahrufal-muqaththa'ah yang terdapat dalam fawtih as-suwr kita hadapkandengan mereka yang tidak mengimani agama Islam. Pastilah akan menuai banyakkritik, baik yang membangun maupun yang meruntuh Islam.
